Turki Akan Bicara dengan Finlandia dan Swedia Bahas Tawaran Gabung NATO

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Minggu, 15 Mei 2022 01:33 WIB
Turkeys Foreign Minister Mevlut Cavusoglu speaks to the media during a visit in Nicosia, northern Cyprus, February 21, 2017. REUTERS/Yiannis Kourtoglou
Foto: Mevlut Cavusoglu (REUTERS/Yiannis Kourtoglou)
Jakarta - Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu menyampaikan kesiapan untuk membahas rencana Finlandia dan Swedia bergabung dengan NATO meskipun menuduh mereka memiliki organisasi teroris. Menurutnya, rencana Finlandia dan Swedia bergabung ke NATO perlu dibicarakan dengan negara-negara sekutu NATO.

"Sebagian besar rakyat Turki menentang keanggotaan negara-negara yang mendukung organisasi teroris PKK tetapi ini adalah masalah yang perlu kita bicarakan tentu saja dengan sekutu NATO kita serta negara-negara ini," kata Cavusoglu saat tiba untuk di Berlin untuk melakukan perincangan dengan rekan-rekan NATO serta Finlandia dan Swedia seperti dilansir AFP, Minggu (15/5/2022).

PKK adalah Partai Pekerja Kurdistan, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris di Inggris, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Erdogan mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat (13/5) bahwa "kami tidak memiliki pendapat positif" tentang kedua negara yang akan bergabung dengan NATO itu. Erdogan menuduh Finlandia dan Swedia menyembunyikan organisasi-organisasi teroris.

"Kami tidak memiliki pendapat positif," kata Erdogan kepada para wartawan di Istanbul pada Jumat (13/5) waktu setempat.

"Negara-negara Skandinavia seperti wisma bagi organisasi-organisasi teror," cetusnya seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (14/5).

Turki yang telah lebih dulu menjadi anggota NATO, telah lama menuduh negara-negara Nordik, terutama Swedia yang memiliki komunitas imigran Turki yang kuat, menyembunyikan kelompok ekstremis Kurdi serta para pendukung Fethullah Gulen, ulama ternama Turki yang berbasis di Amerika Serikat, yang diburu Turki karena kudeta yang gagal pada 2016.

Erdogan pun menyinggung "kesalahan" yang dibuat oleh mantan penguasa Turki yang menyetujui keanggotaan Yunani di NATO pada tahun 1952.

"Kami, sebagai Turki, tidak ingin membuat kesalahan kedua dalam masalah ini," katanya.

Diketahui bahwa begitu sebuah negara memutuskan untuk mengajukan keanggotaan NATO, maka 30 anggota aliansi harus setuju dengan suara bulat untuk memperpanjang undangan resmi, yang diikuti kemudian dengan negosiasi keanggotaan.

Saksikan Juga Video Sosok Minggu Ini: Kisah Kak Toto, Terangi Jalan Anak Autis Dengan Lukisan

[Gambas:Video 20detik]



(dek/dek)