Pada Senin (19/10), serangan rudal balistik dan drone Rusia menghantam Kyiv, menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya. Otoritas setempat melaporkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur di tiga distrik ibu kota itu.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan Rusia melancarkan serangan udara berskala besar menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan 269 drone. Pertahanan udara Ukraina menghancurkan atau melumpuhkan 243 drone dan empat rudal. Serangan tercatat di 25 lokasi, sementara puing-puing dari target yang berhasil dijatuhkan jatuh di delapan lokasi lainnya.
Militer Kyiv melaporkan kerusakan pada sebuah fasilitas medis swasta dan stasiun metro di Distrik Desnianskyi. Di Distrik Dniprovskyi, sejumlah institusi pendidikan dan fasilitas olahraga rusak akibat puing-puing yang jatuh. Sementara itu, kebakaran terjadi di lantai tiga sebuah fasilitas medis di Distrik Solomianskyi.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap sejumlah target di Ukraina menggunakan "senjata dan drone yang presisi". Moskow mengklaim target yang diserang mencakup pusat data, fasilitas logistik dan industri yang memproduksi komponen drone dan rudal jelajah Flamingo, serta depo lokomotif tempat rudal disimpan.
Rusia juga mengklaim menyerang sebuah kapal kargo curah di laut, yang diduga membawa muatan militer dan barang yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
Rubio bantah AS sempat hentikan berbagi intelijen dengan Ukraina
Di tengah berlanjutnya serangan Rusia, muncul perbedaan pernyataan antara Washington dan Kyiv mengenai dukungan intelijen AS untuk Ukraina. Hal ini menjadi penting karena selama ini, Ukraina mengandalkan informasi intelijen AS untuk mendeteksi rudal balistik Rusia yang diluncurkan ke kota-kota Ukraina.
Pada Senin (19/10), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah bahwa Washington sempat menghentikan sebagian pertukaran informasi intelijen dengan Ukraina. Ini bertentangan dengan pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang sebelumnya mengatakan bahwa pertukaran intelijen sempat terhenti.
Dalam wawancara dengan NBC pada Minggu (18/10), Zelenskyy mengatakan akses terhadap informasi intelijen sempat diblokir selama beberapa waktu. Tak lama kemudian, akses tersebut kembali dibuka. Ia menyampaikan apresiasi atas pemulihan tersebut.
Namun, saat berbicara kepada wartawan di Uzbekistan pada Senin, Rubio menegaskan bahwa pertukaran intelijen tidak pernah terhenti.
"Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi ini atau mengapa dia menyampaikan hal-hal seperti ini kepada pers. Tidak ada penghentian," kata Rubio. Ia menambahkan bahwa Zelenskyy seharusnya berfokus pada upaya mengakhiri perang.
Dinamika ini merupakan perkembangan hubungan teranyar antara AS dan Ukraina yang memburuk.
Sebelumnya, Zelenskyy sempat menduga bahwa pemerintah AS berada di balik pembatasan penggunaan Starshield, teknologi komunikasi berbasis satelit dari SpaceX yang berperan penting dalam pertahanan Ukraina terhadap drone dan rudal Rusia. Pejabat AS turut membantah tuduhan tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington masih berbagi informasi intelijen dengan Ukraina. Namun, sejumlah pejabat Ukraina melaporkan serangan Rusia terjadi tanpa peringatan. Karenanya, muncul pertanyaan mengenai apakah pertukaran intelijen mereka "baik-baik saja".
Putin usulkan pertemuan dengan Trump dan Xi untuk bahas kesepakatan Ukraina
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada bulan depan. Agendanya adalah untuk merundingkan penyelesaian perang Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun. Usulan tersebut dilaporkan Wall Street Journal pada Minggu (18/10). Menurut laporan sejumlah pihak, kesepakatan yang dibahas berpotensi menguntungkan Moskow.
Usulan pertemuan muncul ketika hubungan Trump dan Putin menghangat. Terutama setelah Trump mengumumkan kesepakatan pembelian diesel Rusia dan menandatangani menangguhkan sejumlah sanksi penting terhadap Moskow.
Menurut laporan Wall Street Journal, Putin mengajukan usulan itu dalam percakapan telepon dengan Trump pada 9 Oktober. Percakapan tersebut juga menghasilkan kesepakatan terkait diesel antara kedua negara.
Kesepakatan pembelian diesel dan penangguhan sanksi itu menuai kritik dari Zelenskyy. Presiden Ukraina itu memperingatkan bahwa langkah itu dapat semakin mendorong Putin melanjutkan perang dan memperpanjang konflik.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan pertemuan sedang berlangsung. Namun, ia mengatakan belum ada kepastian mengenai agenda pertemuannya.
Kremlin disebut mengusulkan agar pertemuan trilateral digelar di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 18–19 November di Shenzhen, China.
Seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa Trump belum menyetujui usulan tersebut. Namun, ia mungkin terbuka terhadap gagasan itu. Baik Gedung Putih, Kremlin, maupun China belum belum memberi tanggapan soal ini.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Ayu Purwaningsih
Simak juga Video 'Senyum Kecut Zelensky saat Ditanya Apakah Ia Kambing Hitam Trump':
(nvc/nvc)