Trump Jamin Akses Starlink Terbuka bagi Kyiv Saat Eskalasi Ukraina-Rusia

Trump Jamin Akses Starlink Terbuka bagi Kyiv Saat Eskalasi Ukraina-Rusia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 23 Okt 2026 17:37 WIB
Miliarder AS Elon Musk (ki.) bersama Presiden Donald Trump (Evan Vucci/REUTERS)
Washington DC -

Dalam pernyataan bersama pada Kamis (23/10) bersama perdana menteri Finlandia, Presiden Ukraina Volodymr Zelenskyy mengatakan bahwa kecepatan sistem Starlink belum dipulihkan untuk militernya.

"Kami sedang menangani hal tersebut," kata Zelenskiy, sambil menambahkan bahwa pihaknya berharap dapat membahas masalah ini dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.

"Saya tidak ingin mengomentari hal itu. Anda tahu, apakah saya yang menelepon atau orang lain yang menelepon, itu tidak ada bedanya," kata Presiden Donald Trump kepada wartawan di Washington pada hari Kamis. Ia menambahkan, yang terpenting adalah Musk telah mencabut pembatasan kecepatan Starlink, layanan internet satelit yang dioperasikan oleh perusahaannya, SpaceX.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, laporan dari Ukraina pada hari Kamis menunjukkan bahwa layanan tersebut masih mengalami pembatasan. Kiev belum secara resmi mengonfirmasi bahwa pembatasan tersebut telah dicabut.

Sebelumnya Gedung Putih dan Musk telah membantah secara sengaja membatasi layanan tersebut, meskipun ada laporan mengenai masalah Starlink di Ukraina selama lebih dari seminggu. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan gangguan tersebut menghambat drone Ukraina baik dalam mempertahankan diri dari drone bertenaga jet Rusia maupun dalam melancarkan serangan mereka sendiri.

ADVERTISEMENT

Zelenskyy kini kian terbuka untuk mengkritik pemerintahan Trump, melihat pergeseran arah simpati AS terhadap Moskow.

Eskalasi Rusia-Ukraina

Pada Kamis (22/10), Rusia kembali menggempur ibu kota Ukraina Kyiv dengan rudal balistik, sementara Ukraina balik mengirimkan ratusan drone ke arah ibu koa Moskow. Kedua negara dikabarkan meningkatkan eskalasi serangan usai kunjungan utusan khusus AS Steve Wittkoff ke kedua negara baru-baru ini.

Ukraina menuding Rusia telah menembakkan 21 rudal balistik dalam tiga gelombang. Tiga diantara rudal balistik tersebut, menurut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, membawa munisi tandan atau cluster bom kecil yang dapat tersebar di area luas dan membahayakan warga sipil. Penggunaannya Munisi Tandan telah dilarang lewat Konvensi Cluster Munition yang disepakati 100 negara pada Agustus 2010. Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi tudingan tersebut.

Rusia di lain pihak menuding Ukraina telah meluncurkan 630 pesawat nirawak menyasar Moskow hingga Kamis (22/10) dini hari.

Zelenskyy mengatakan dua orang tewas dan 34 lainnya terluka, termasuk lima anak-anak, dalam serangan di wilayah Ukraina. Pemerintah setempat mengatakan serangan Rusia terhadap sebuah pasar di Lozova, dekat kota Kharkiv di bagian timur laut, menewaskan dua orang dan melukai 36 orang. Satu orang tewas di wilayah tenggara Dnipropetrovsk.

Di wilayah perbatasan Rusia, Belgorod, seorang pria tewas dan seorang lainnya terluka akibat serangan drone Ukraina, kata pejabat setempat.

Dengan garis depan perang yang sebagian besar stagnan, kedua belah pihak telah meningkatkan serangan udara jarak jauh tahun ini. Rusia secara khusus menargetkan jaringan listrik Ukraina, sementara Ukraina menargetkan kilang minyak Rusia. Keduanya saling menyerang pusat data, gudang komersial, dan pelayaran di Laut Hitam.

Di tengah konflik yang tengah berlangsung itu, kantor berita Belta di Belarus yang berbatasan dengan Ukraina melaporkan Rusia-Ukraina melakukan pertukaran jenazah korban perang. Moskow menyerahkan 252 jenazah sedang Ukraina 25 jenazah.

Sebelumnya, pada Rabu (21/10) Rusia menyatakan kesediaan melanjutkan perundingan yang dimediasi AS dengan Ukraina November mendatang, setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin bertemu dengan atusan AS Steve Witkoff untuk perundingan di St. Petersburg. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan ia berharap perundingan akan dilaksanakan pada awal November.

Upaya AS-Rusia dan perkembangan baru perundingan Oslo

"Pihak Amerika menangkap beberapa perkembangan baru (di Oslo) dan memberitahu kami tentang hal ini. Namun perkembangan ini, bisa dibilang, tidak sepenuhnya memuaskan," kata penasihat Kremlin Yuri Ushakov pada Kamis (22/10).

Sementara, seorang pejabat senior Rusia mengatakan bahwa pembicaraan Putin-Witkoff tersebut relatif singkat dan tidak substansial. Pihak AS membawa serangkaian proposal yang disusun di Oslo dan menyerahkannya kepada Putin untuk ditinjau, jelasnya.

Sumber lain di lingkaran Kremlin mengatakan bahwa usulan AS termasuk skenario di mana Ukraina akan menyerahkan seluruh wilayah Donbas-nya kepada Rusia sebagai imbalan untuk mendapat jaminan keamanan di masa depan dari NATO. Rusia telah menyatakan bahwa mereka melancarkan perang - yang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua - sebagian untuk mencegah Ukraina bergabung NATO.

Moskow telah berulang kali menyatakan tidak akan menghentikan pertempuran kecuali Ukraina menyerahkan lebih banyak wilayah, membatasi pasukannya, dan tidak dapat - secara permanen membentuk aliansi.

Ukraina menuduh invasi Rusia merupakan perang penaklukan yang tidak diprovokasi dan menyatakan menolak syarat-syarat Moskow yang menuntut penyerahan diri, meski hal ini membuat Ukraina tak berdaya menghadapi serangan Rusia di masa mendatang.

Pertemuan utusan AS dengan Presiden Ukrainan di Oslo (23/10) bertujuan untuk meredakan ketegangan hubungan Ukraina dengan AS setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk membeli bahan bakar diesel Rusia dan mencabut sanksi terhadap Moskow.

Kyiv menyatakan Washington gagal menyediakan data peringatan dini mengenai peluncuran rudal Rusia, membatasi sistem satelit SpaceX yang digunakan untuk mengarahkan drone Ukraina, serta menahan sistem pertahanan rudal yang dibeli atas nama Ukraina oleh negara-negara Eropa. Washington membantah perubahan kebijakan yang ingin secara sengaja menghambat pasukan Ukraina.

Bagaimana Perang Ukraina-Hormuz turut berpengaruh pada harga bahan bakar AS?

Menjelang pemilihan sela AS bulan November mendatang, Donald Trump kerap kali menyalahkan serangan Ukraina yang menyasar kilang-kilang minyak Rusia yang menyebabkan melonjaknya harga energi di AS. Hal ini yang menimbulkan masalah politik bagi presiden. Namun, para analis mengatakan bahwa pendorong utama kenaikan harga bahan bakar tetaplah perang AS-Iran.

Tudingan Trump muncul di tengah prospek suram Partai Republik dalam pemilihan sela bulan November, sebagian karena melonjaknya harga bahan bakar. Harga solar di pompa bensin AS meroket ke rekor $6,53/ galon (Rp 31.000/lt) pada akhir September, naik dari $3,75/ galon (Rp17.800/lt) sebelum perang, menurut American Automobile Association. Kenaikan harga energi ini memicu inflasi di seluruh perekonomian.

Menurut Julien Mathonniere, analis dari Energy Intelligence, serangan Ukraina menjelaskan sekitar sepertiga dari kekurangan solar global yang diperkirakan mencapai 1,7–1,8 juta barel per hari. Namun, menurut peneliti Oxford Institute for Energy Studies, James Henderson kepada AFP dampak serangan drone Ukraina terhadap harga produk minyak global sangat kecil.

Ekspor energi dari Teluk telah anjlok sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu yang memaksa Teheran untuk memblokir Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pengiriman minyak dan gas. Pada saat yang sama, biaya angkutan laut melonjak dan kapasitas penyulingan utama di Timur Tengah terganggu, yang menambah tekanan kenaikan pada harga minyak.

Hubungan antara Kyiv dan Washington semakin memburuk bulan ini setelah Trump mengumumkan kesepakatan kontroversial dengan Moskow untuk mencabut sanksi tertentu dan mengizinkan impor solar Rusia, yang bertujuan untuk meredam lonjakan harga. Presiden AS mengatakan pada Rabu bahwa ia yakin akhir perang Rusia-Ukraina mungkin lebih dekat dari sebelumnya, sementara Kremlin menyatakan bersedia memulai kembali pembicaraan trilateral dengan Kyiv dan Washington bulan depan.

Namun, untuk saat ini, serangan-serangan tersebut terus berlanjut. "Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam jangka pendek untuk menurunkan harga solar," kata Jorge Leon, seorang analis di Rystad Energy.

Bahkan jika konflik Rusia berakhir atau gencatan senjata di bidang energi tercapai, dampaknya "tidak akan benar-benar memberikan pengaruh besar bagi pemilihan umum tengah masa jabatan AS," tambahnya.

Perbaikan infrastruktur yang rusak membutuhkan waktu, sementara konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah mendorong harga energi semakin tinggi.

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Sarmuji Bicara Masa Depan Industri Indonesia"

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini