×
Ad

Ketegangan Memuncak Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 22 Sep 2026 12:54 WIB
Presiden AS Trump saat kunjungannya ke China, Mei 2026 (Kenny Holston/AFP)
Washington DC -

Minggu lalu, para pengusaha Jerman dan China berkumpul di Düsseldorf untuk mengikuti dialog kooperasi bisnis. Di atas panggung, para peserta mendiskusikan strategi pemasaran, perdagangan, dan investasi di China dan Eropa. Namun, selama jeda, topik lain di luar agenda, mendominasi pembicaraan.

Para peserta diskusi tersebut nampak turut kebingungan menghadapi konflik dagang yang tak berujung. Negosiasi antara AS dan China sejauh ini belum membuahkan hasil yang nyata, bahkan setelah kunjungan singkat Donald Trump ke Beijing, pertengahan Mei lalu.

Semua pihak menyadari bahwa ini bukan sekadar soal impor-ekspor barang dan jasa atau bahkan angka-angka dalam neraca keuangan. Perselisihan antara dua negara ekonomi terbesar dan kedua terbesar di dunia ini besar pengaruhnya pada dimensi politik global.

"Perekonomian China sedang melemah. Perusahaan-perusahaan khawatir akan kelangsungan bisnis mereka yang perlu segera merambah pasar luar negeri," kata seorang peserta asal dialog China yang ingin tetap anonim. Selama beberapa dekade, ia memimpin sebuah BUMN China cabang Eropa di Düsseldorf.

Regulasi pasar di AS dan Uni Eropa kini sama ketat dan tidak membedakan, di sini pertimbangan ideologis turut berperan. "Selama AS masih berseteru dengan China, UE tidak akan bersedia bekerja sama dengan kami jika hal itu bertentangan dengan kepentingannya sendiri."

Uni Eropa sebagai pengikut AS

Salah satu contoh spesifik: mobilitas listrik. UE berupaya melakukan transisi mobilitas listrik dan ingin mengurangi secara drastis emisi CO di sektor transportasi. Namun, Brussel menuntut pengenaan tarif tambahan terhadap mobil listrik murah dari China, karena UE menduga adanya keunggulan kompetitif akibat subsidi pemerintah yang tinggi. China membantah hal ini.

Produsen mobil Jerman, VW dan BMW, menolak tarif tersebut karena khawatir akan terjadi penurunan penjualan akibat tindakan balasan dari China. Mercedes memperingatkan agar tidak terburu-buru menerapkan tarif masuk tersebut.

Posisi AS bahkan lebih tegas. "Nol mobil listrik China," kata Presiden AS Donald Trump pada pertengahan September setelah kunjungannya ke Irlandia, salah satu negara anggota UE. "Eropa sangat menderita karenanya. Dengan tarif 100 hingga 150 persen, sejauh ini saya telah mencegah masuknya mobil-mobil China," jelas Trump.

Eropa sedang mengupayakan keseimbangan antara kemitraan transatlantik dengan AS dan dengan China. Jelas bahwa AS saat ini menjadi penjamin keamanan Eropa dalam kerangka NATO. Namun, dari sudut pandang Eropa, baik China maupun AS saat ini dianggap sebagai mitra yang sulit.

"China Shock" yang kedua telah terjadi di Eropa, kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa. "China Shock" pertama terjadi 25 tahun silam saat China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ketika produk-produk murah buatan China 'membanjiri' pasar dunia.

"China Shock" yang kedua berasal dari kemajuan teknologi dan industri terdepan China, misalnya dalam bidang teknologi baterai atau komunikasi. "Kami melihat dampaknya pada masyarakat dan pabrik-pabrik di seluruh Uni Eropa. Hal ini menyebabkan deindustrialisasi pusat-pusat industri di Eropa. Ini tidak dapat ditoleransi," jelas von der Leyen dalam pidatonya mengenai Keadaan Uni Eropa 2026.

Presiden Komisi Eropa itu lantas menegaskan tekadnya untuk menyeimbangkan defisit perdagangan dengan China yang saat ini mencapai sekitar satu miliar euro per hari (sekitar 20 triliun rupiah per hari) sama seperti yang dilakukan AS, serta mengurangi ketergantungan pada bahan baku kritis dari China. "Berkata-kata itu baik, tetapi bertindak lebih baik," tegas Presiden Komisi Eropa tersebut. Ini merupakan seruan tegas kepada Beijing sekaligus sinyal pendekatan pada Washington.

"Dilatarbelakangi persaingan strategis yang terus bereskalasi antara AS dan China, AS mendesak sekutunya untuk memperketat pembatasan terhadap China di bidang teknologi, rantai pasok, dan keamanan," kata Yang Xiepu, Direktur Pusat Kerja Sama China-Jerman di Akademi Ilmu Sosial China (CASS).

Dua kekuatan sepakati perbedaan?

Bagaimana jadinya dunia kita jika AS dan China akhirnya bisa mencapai kesepakatan untuk menempuh arah yang sama? Meskipun kedua negara ini sangat berbeda dalam hal politik dan ideologi, apakah persaingan antara dua kekuatan – AS yang mapan dan China yang sedang 'naik pamor' akan berakhir dengan konflik dan perang?

Pelajaran ini dipetik oleh filsuf dan sejarawan Yunani, Thukydides, 2.500 tahun yang lalu lewat perang antara Athena, kekuatan maritim yang sedang naik daun, dan Sparta, kekuatan darat yang mapan.

Beijing dan Washington saling bersaing di berbagai tingkatan, selalu dengan tujuan untuk mengungguli lawan. Di sektor teknologi tinggi, pemerintah AS melarang ekspor cip berkualitas tinggi ke China. Sebaliknya, China membatasi ekspor logam tanah jarang, yang sangat penting bagi produksi semikonduktor. Di bidang Akal Imitasi (AI), China telah memprakarsai kerangka aturan global sedang Trump mendukung deregulasi. Sementara itu, para pemimpin industri AI ingin memperlambat laju perkembangan teknologi tersebut. Selain itu, kedua negara tersebut secara intensif mengembangkan misi ke Bulan, sejak pendaratan terakhir pada tahun 1972.

"Kami akan membahas segala hal," kata Presiden AS Trump menanggapi kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih. Apakah kesepakatan dapat tercapai, masih belum jelas. Menjelang pemilihan sela yang penting pada bulan November, Trump ingin menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang negarawan dari Partai Republik.

Trump dapat juga menjual produk-produk AS dalam jumlah besar kepada mitra kerjasama yang tergolong sulit, contoh seperti menjual pesawat Boeing kepada maskapai penerbangan China. Kesepakatan penjualan tersebut dibahas selama berbulan-bulan di Gedung Putih, namun belum ada perjanjian pembelian yang berhasil ditandatangani. "Saya akan menjual semuanya," kata Presiden AS itu yakin.

Partai Republik di AS dianggap kompeten dalam bidang ekonomi, meskipun menurut survei mereka tertinggal dari partai oposisi, Partai Demokrat. Jika Trump kehilangan mayoritas di kedua kamar Kongres setelah pemilu sela November mendatang, kinerja pemerintahan dalam dua tahun sisa pemerintahannya akan jadi jauh lebih sulit. Akankah Xi menjadi pendukung Trump dan memesan pesawat Boeing, komoditas kacang-kacangan, hingga daging sapi dari Amerika?

"Beijing yakin bahwa China dan AS akan saling mengimbangi satu sama lain dalam waktu dekat," kata Mikko Huotari, Direktur lembaga think tank MERICS yang berbasis di Berlin dan berfokus pada China. "Itulah tepatnya yang mereka lakukan. Xi tidak membutuhkan terobosan di Washington, melainkan waktu. Hal yang sama berlaku bagi Washington. Ini adalah posisi yang sama-sama buntu bagi kedua negara."

Menilik keberanian Kanada

Kanada telah mengalami sendiri bagaimana negara-negara adidaya menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata dan menggunakan tarif sebagai alat tekanan. Pada Januari 2026, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, "Tatanan dunia lama telah berakhir – kita tidak perlu mengingatnya kembali."

Sebagai tanggapan atas kenaikan berulang-ulang atas bea khusus AS, pemerintah Kanada memberlakukan bea masuk khusus terhadap baja, furnitur, dan keju dari AS pada akhir Agustus.

Carney memandang negaranya sebagai "middle power" atau kekuatan menengah, "Kekuatan besar memiliki skala pasar, kapasitas militer, dan pengaruh untuk menentukan aturan main. Kekuatan menengah tidak memiliki hal itu. Namun, ketika kita bernegosiasi secara bilateral dengan kekuatan dominiasi, kita melakukannya dengan posisi yang lemah. Kami menerima apa yang didiktekan kepada kami, dan bersaing untuk menjadi yang paling akomodatif. Ini bukanlah kedaulatan," jelas Carney dengan pesan yang jelas kepada Washington. Ia menyerukan persatuan, "Jika kami tidak duduk di meja perundingan, kami akan jadi 'santapan' (pihak yang diputuskan nasibnya)."

Awal 2026, Carney mengunjungi China dan menyepakati kemitraan strategis baru. Ottawa kemudian menurunkan tarif impor mobil listrik China dari 100 persen menjadi 6,1 persen. Kuotanya sebesar 49.000 unit per tahun.

Minggu lalu, Uni Eropa menawarkan keanggotaan Uni Eropa kepada pemerintah Kanada. Carney menunjukkan ketertarikannya. Trump menyebut gagasan itu 'konyol' dan kembali mengancam akan memberlakukan tarif. "Jika mereka melakukannya, saya menganggapnya sebagai tindakan bermusuhan, saya akan menghentikan perdagangan dengan Eropa."

China baru saja menggencarkan upaya pendekatan terhadap sekutu-sekutu AS, "lebih tepatnya sekutu-sekutu yang rapuh," kata Direktur MERICS, Huotari. Pada pertengahan September, KTT BRICS berlangsung di India. Xi hadir di sana. Ia juga menghadiri KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Kirgistan. Pada bulan November, China akan menjadi tuan rumah KTT G-20. "Xi berusaha lewat partisipasinya memperoleh keuntungan dari formasi geopolitik baru. Ini merupakan perkembangan baru."

Perdana Menteri Kanada Carney menyebut bentuk diplomasi baru ini sebagai "geometri variabel" yakni aliansi yang berbeda untuk isu-isu yang berbeda berdasarkan nilai-nilai dan kepentingan bersama. Pada bulan November, ia akan bertolak ke Shenzhen untuk menghadiri KTT G-20. Uni Eropa juga akan turut berunding, tak sekadar jadi 'santapan' atau pihak yang ditentukan nasibnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />Simak juga Video 'PBB Dukung Kebebasan Pers Usai Trump Larang 3 Media Masuk Gedung Putih':




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork