Pekan lalu, para pelaku bisnis Jerman dan China bertemu dalam sebuah dialog ekonomi di Dusseldorf, Jerman. Pembahasannya berfokus pada perdagangan dan investasi antara China dan Eropa. Namun, persaingan AS-China justru terus menjadi pembahasan dalam forum tersebut.
Saat Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu di Washington pekan ini, pertemuan tersebut diharapkan membawa kemajuan dalam meredakan perang dagang yang dilancarkan Trump selama ini. Pertemuan terakhir keduanya di Beijing pada Mei lalu belum membuahkan hasil konkret.
"Asumsi di Beijing, yang juga menjadi dasar langkah mereka, adalah bahwa China dan AS akan terus saling membatasi gerak satu sama lain dalam beberapa waktu ke depan," ujar Mikko Huotari, direktur lembaga kajian China MERICS yang berbasis di Berlin, dalam sebuah paparan kebijakan pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Xi sebenarnya tidak membutuhkan terobosan di Washington. Ia membutuhkan lebih banyak waktu. Begitu pula Washington. Jadi, kita berada dalam situasi kebuntuan strategis, yang menurut saya itu merupakan gambaran paling tepat tentang kondisi saat ini."
Kesepakatan dengan China dapat menguntungkan Partai Republik yang menaungi Trump menjelang pemilu sela AS pada November. Namun, peluang tercapainya kesepakatan itu masih jauh dari pasti.
"Kami akan membahas semuanya," kata Trump mengenai kunjungan Xi ke Gedung Putih.
Peluang kerja sama di bidang AI
Persaingan China dan AS memang berlangsung di berbagai bidang. Salah satu yang paling menentukan adalah persaingan di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pemerintah AS melarang ekspor cip berperforma tinggi ke China. Sebaliknya, Beijing membatasi ekspor unsur tanah jarang yang sangat dibutuhkan dalam produksi semikonduktor.
Di tengah kekhawatiran akan bahaya AI tanpa pengaturan, muncul harapan agar Xi dan Trump membahas rambu-rambu pengamanan teknologi tersebut dalam pertemuan keduanya. Xi telah menyerukan kerja sama internasional dalam pengembangan AI. Sementara itu, Trump memandang regulasi AI sebagai ancaman terhadap posisi AS sebagai pemimpin di bidang tersebut.
Seusai bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York pada Minggu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pejabat kedua negara telah membahas pembentukan "mekanisme pemberitahuan" untuk berbagi informasi mengenai insiden keamanan terkait AI.
Eropa diguncang industri China
Bagi Eropa, baik China maupun AS kini sama-sama menjadi mitra yang sulit dihadapi.
Dalam pidato tahunannya tentang keadaan Uni Eropa pekan lalu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan gelombang kedua "guncangan China yang kedua… sudah terjadi" di Eropa.
Istilah "guncangan China" atau "China shock" pertama kali merujuk pada dampak masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sekitar 25 tahun lalu. Saat itu, produk murah berlabel "Made in China" mulai membanjiri pasar global.
Gelombang "China shock" kedua kini didorong oleh kemajuan teknologi China di berbagai industri, seperti baterai, energi hijau, dan transportasi.
"Hal ini terlihat di tengah masyarakat kita dan di berbagai pabrik di seluruh Uni Eropa. Ini menyebabkan deindustrialisasi di kawasan industri utama Eropa. Ini tidak sejalan dengan keberkelanjutan," kata von der Leyen dalam pidatonya.
Uni Eropa menargetkan peralihan cepat ke kendaraan listrik dan ingin memangkas secara drastis emisi CO2 dari transportasi jalan raya. Pada saat yang sama, Uni Eropa menyerukan tarif tambahan atas mobil listrik murah asal China. Harga yang lebih rendah dan subsidi pemerintah yang besar dinilai memberi China keunggulan dalam persaingan.
China membantah memiliki keunggulan yang tidak adil. Produsen mobil Jerman, Volkswagen (VW) dan BMW, juga menentang tarif tersebut karena khawatir langkah balasan China akan mengurangi pendapatan mereka.
Seorang peserta asal China dalam dialog ekonomi di Dusseldorf mengatakan kepada DW, dengan syarat namanya tidak disebutkan, bahwa konsumsi dalam negeri China tidak mampu menyerap hasil produksi industrinya.
"Perekonomian China sedang lemah. Perusahaan-perusahaan khawatir akan kelangsungan bisnis mereka dan sangat membutuhkan akses untuk menjangkau pasar luar negeri," kata eksekutif tersebut, yang sebelumnya bekerja di cabang perusahaan milik negara China di Eropa.
Trump menekan Uni Eropa soal China, perdagangan dan keamanan
"Di tengah persaingan strategis AS dan China yang terus meningkat, AS terus mendesak sekutunya untuk memperketat pembatasan terhadap China di bidang teknologi, rantai pasok, dan keamanan," kata Yang Xiepu, direktur Pusat Kerja Sama China-Jerman di Akademi Ilmu Sosial China (CASS).
Pada saat yang sama, Trump kerap mengancam Uni Eropa dengan tarif dan menimbulkan ketidakstabilan dalam aliansi pertahanan NATO. Ketika Uni Eropa menawarkan status "anggota asosiasi" kepada Kanada pekan lalu, Trump membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi baru.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan ketertarikannya atas tawaran itu. Namun, Trump menyebut gagasan tersebut "konyol".
"Jika saya menilainya sebagai tindakan bermusuhan, saya akan mengenakan tarif yang sangat tinggi atau menghentikan perdagangan berbagai barang dengan Eropa," kata Trump, tanpa menjelaskan aspek mana dari hubungan Uni Eropa-Kanada yang dianggapnya "bermusuhan".
Menilik pendekatan 'tengah' Kanada
Menghadapi gejolak akibat kebijakan tarif dan retorika keras pemerintahan Trump, Perdana Menteri Kanada Mark Carney secara terbuka berupaya memperluas kemitraan Kanada di panggung dunia.
"Kita tahu tatanan lama tidak akan kembali. Kita tidak perlu meratapinya," ujarnya dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada Januari 2026. Saat itu, negara-negara sekutu AS sedang diguncang ancaman Trump untuk mencaplok Greenland dari Denmark.
Menurut Carney, negara-negara adidaya "untuk saat ini masih mampu berjalan sendiri", tetapi negara-negara berkekuatan menengah perlu memperkuat kerja sama.
"Ketika kita hanya berunding secara bilateral dengan negara yang mendominasi, posisi tawar kita lemah. Kita menerima apa yang ditawarkan. Kita saling bersaing untuk menjadi pihak yang paling mengakomodasi. Ini bukan kedaulatan," kata Carney dalam forum tersebut.
"Jika kita tidak duduk di meja perundingan, kitalah yang menjadi santapan," tegasnya.
Pada awal 2026, Carney mengunjungi China dan menyepakati "kemitraan strategis era baru". Kanada kemudian menurunkan tarif impor mobil listrik China dari 100% menjadi 6,1%, dengan kuota 49.000 kendaraan per tahun.
Di sisi lain, China gencar melancarkan pendekatan diplomatik untuk menarik sekutu-sekutu AS, "lebih spesifik lagi, sekutu yang hubungannya dengan AS sedang rapuh," menurut Direktur MERICS Mikko Huotari.
Xi, misalnya, menghadiri KTT BRICS di India pada September meski hubungan kedua negara diwarnai ketegangan. Ia juga menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgizstan. Pada November, China akan menjadi tuan rumah KTT G20.
Carney menyebut pola diplomasi baru ini sebagai "geometri variabel", yakni membangun kemitraan yang berbeda untuk setiap isu berdasarkan kesamaan nilai dan kepentingan bersama.
Pada November, ia akan bertolak ke Shenzhen untuk menghadiri KTT APEC. Di sana, ia juga akan duduk di meja perundingan, dengan harapan tidak menjadi santapan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu
Editor: Tezar Aditya Rahman
Lihat juga Video: Heboh Kursi Xi Jinping Lebih Tinggi dari Trump










































