Tarif sebesar 25 persen terhadap Brasil diberlakukan, setelah Washington menuduh negara terbesar di Amerika Latin tersebut melakukan praktik perdagangan yang tidak adil. Keputusan itu diambil menyusul penyelidikan oleh pemerintah Amerika Serikat yang berlangsung selama satu tahun.
Kebijakan ini memicu penolakan keras. Namun, Wakil Presiden Brasil, Geraldo Alckmin, mengatakan dalam konferensi pers pada hari Selasa (21/07) bahwa Brasil akan berupaya menyelesaikan persoalan tersebut melalui negosiasi, bukan dengan tindakan balasan.
Berbagai produk seperti daging sapi, kopi, dan suku cadang pesawat dibebaskan dari tarif tersebut. Menurut perkiraan Valentina Sader dari lembaga pemikir Atlantic Council, sekitar separuh ekspor Brasil ke Amerika Serikat juga tetap tidak dikenai bea masuk ini.
Meski demikian, langkah tersebut diambil ketika Presiden AS Donald Trump kembali mendorong penggunaan tarif sebagai alat tawar dalam negosiasi, sehingga memicu kekhawatiran akan aksi balasan dan meningkatnya ketegangan perdagangan.
Menurut Sader kepada AFP, para pejabat AS kemungkinan "menggunakan Brasil sebagai contoh untuk menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai prioritas dan pendekatan negosiasi mereka."
Meskipun Mahkamah Agung AS pada Februari membatalkan banyak tarif yang diberlakukan Trump—yang menjadi pukulan terhadap kemampuannya mengenakan tarif baru secara sepihak—Washington kini berupaya membangun kembali agenda perdagangannya dengan menggunakan dasar kewenangan hukum lainnya.
Pernyataan Amerika Serikat bahwa tarif terhadap Brasil dijatuhkan karena Presiden Luiz Incio Lula da Silva dinilai gagal bernegosiasi dengan itikad baik juga "memperkuat persepsi bahwa tindakan ini tidak hanya ditujukan pada praktik perdagangan Brasil, tetapi juga bermotif politik terhadap Lula sendiri," kata Sader.
Tarif tersebut kini menjadi salah satu isu utama dalam kampanye menjelang pemilihan presiden Brasil pada Oktober mendatang.
Kamar Dagang Amerika di Brasil baru-baru ini memperingatkan bahwa kebijakan Washington tersebut berdampak pada ekspor senilai lebih dari 11 miliar dolar AS.
Kebijakan tarif meluas
Pada hari Selasa (21/07), Trump juga mengumumkan tarif sebesar 100 persen untuk obat-obatan generik mulai Agustus 2028, sehari setelah memerintahkan tarif 50 persen terhadap banyak produk asal Kanada yang akan berlaku dalam 30 hari.
Gelombang tarif yang lebih luas masih akan datang. Pada Juni, pemerintah AS mengusulkan tarif antara 10 persen hingga 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang atas dugaan kegagalan mereka mengambil tindakan terhadap praktik kerja paksa.
Para analis memperkirakan tarif yang berkaitan dengan isu kerja paksa ini akan menggantikan tarif global sementara sebesar 10 persen—yang akan berakhir pada Jumat—yang sebelumnya diberlakukan Trump setelah mengalami kekalahan di Mahkamah Agung.
"Kami memperkirakan akan segera ada langkah lanjutan," kata Utusan Perdagangan AS Jamieson Greer kepada CNBC.
Kekhawatiran terkait kerja paksa
Jamieson Greer menyampaikan bahwa tindakan baru terkait isu kerja paksa ini dipastikan bakal mencakup mayoritas porsi perdagangan Amerika Serikat dengan negara luar.
"AS memiliki undang-undang untuk melarang perdagangan barang dengan kerja paksa. Negara-negara lain, sebagian besar tidak memiliki undang-undang tersebut, dan bagi yang memiliki pun tidak benar-benar menegakkannya," tegas Jamieson Greer mengenai alasan pengetatan aturan perdagangan tersebut.
Greer menambahkan pada hari Selasa bahwa kebijakan baru terkait isu ketenagakerjaan akan mencakup sebagian besar perdagangan Amerika Serikat, meskipun berpotensi kembali memicu ketegangan dagang.
Tarif yang lebih rendah, yaitu 10 persen, akan dikenakan pada impor dari mitra dagang seperti Kanada, Uni Eropa, Meksiko, Taiwan, dan Inggris. Negara-negara tersebut dinilai telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi praktik kerja paksa.
Sementara itu, barang-barang dari lebih dari 40 negara lain, seperti Cina, India, dan Jepang, akan dikenai tarif sebesar 12,5 persen.
Uni Eropa menyatakan bahwa mereka menganggap tarif yang diberlakukan dengan alasan tersebut sebagai tindakan yang "tidak beralasan."
Secara terpisah, AS juga masih menjalankan penyelidikan terhadap 16 negara terkait kelebihan kapasitas industri, yang dapat berujung pada penerapan tarif tambahan.
Tekanan terhadap Kanada
Rencana Washington mengenakan tarif 50 persen terhadap barang-barang Kanada muncul di tengah pembicaraan yang masih berlangsung mengenai perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara.
Pemerintah AS baru-baru ini menolak memperpanjang perjanjian tersebut dalam bentuk yang ada saat ini. Jamieson Greer dijadwalkan mengunjungi Meksiko pada Rabu hingga Jumat untuk melakukan pembahasan terkait peninjauan bersama Perjanjian Amerika Serikat–Meksiko–Kanada (USMCA).
Sementara itu, negosiasi AS dengan Kanada berlangsung lebih lambat. Sejumlah pakar hukum menilai penggunaan ketentuan hukum yang belum pernah diuji sebelumnya—Pasal 338 dalam Tariff Act 1930—oleh Trump merupakan cara untuk meningkatkan posisi tawar Amerika Serikat dalam negosiasi USMCA dengan Kanada.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan "semua opsi." Ia menambahkan bahwa dirinya dan Trump telah sepakat untuk "mengintensifkan pembahasan" dalam beberapa pekan mendatang.
*Editor: Rizki Nugraha
Saksikan Live DetikPagi :
(nvc/nvc)