Pengiriman pertama alpukat dari Kenya tiba di Cina pada awal bulan Mei di bawah kebijakan baru Beijing yang menghapus tarif impor untuk Afrika.
Kebijakan yang mulai berlaku pada tanggal 1 Mei itu memberikan akses bebas tarif bagi ekonomi terbesar di Afrika ke pasar Cina selama dua tahun ke depan.
"Sangat menggembirakan bahwa Cina menerapkan kebijakan nol tarif," tandas Olive Gichuri, seorang petani kopi asal Kenya, kepada DW. "Ini berarti pendapatan yang lebih baik bagi para petani. Ketika kopi kami menjadi sangat kompetitif, itu berarti permintaan meningkat dan juga pasar yang lebih luas bagi petani."
"Mereka [para petani] tidak hanya terbatas menjual produk mereka di pasar lokal [Kenya]," kata Gichuri,. Menurutnya, hilangnya tarif ekspor membuka peluang bagi sumber pendapatan baru di Cina.
Bagaimana hubungan dagang Cina dengan negara-negara Afrika berkembang
Lauren Johnston, peneliti senior dan ekonom internasional yang fokus pada Cina, Afrika, dan geoekonomi di AustCina Institute di Melbourne, mengatakan kepada DW bahwa kebijakan ini "sebenarnya lebih merupakan hadiah terutama untuk ekonomi Afrika yang lebih kuat, yaitu negara berpendapatan menengah yang berada dalam posisi baik untuk meningkatkan ekspor."
Pada tahun 2025, Cina dan Afrika mencatat perdagangan rekor sebesar 348 miliar dolar AS dalam pengadaan barang, demikian menurut Administrasi Umum Bea Cukai Cina. Cina telah menjadi mitra dagang terbesar Afrika selama 16 tahun berturut-turut.
Negara-negara Afrika mengirim barang senilai 123 miliar dolar AS ke Cina, terutama minyak, mineral, dan bahan mentah lainnya. Sebagai gantinya, mereka membeli sekitar 225 miliar dolar AS produk dari Cina, terutama barang manufaktur, elektronik, kendaraan, dan mesin.
Defisit perdagangan Afrika dengan Cina meningkat tajam, mencapai rekor 102 miliar dolar AS pada tahun 2025, naik dari sekitar 62 miliar dolar AS tahun sebelumnya, demikian menurut data resmi Cina.
"Harga ekspor rendah karena kita tidak menambah nilai pada ekspor kita," ujar ekonom dan dosen senior Universitas Ghana, Adu Owusu Sarkodie, kepada DW. "Cara terbaik adalah memberikan nilai tambah pada ekspor kita, sehingga kita bisa mendapatkan harga lebih tinggi, pendapatan lebih tinggi, dan kemudian mengurangi kemiskinan."
Sebagian besar peningkatan defisit ini berasal dari dorongan Cina untuk mendiversifikasi rantai pasokannya di tengah perselisihan dagang dengan Amerika Serikat. Meningkatnya permintaan Afrika terhadap teknologi hijau seperti kendaraan listrik, sepeda motor, dan panel surya juga meningkatkan impor dari Cina.
Kenya, Afrika Selatan, dan Ghana sebagai "pemenang" nol tarif
Kenya termasuk salah satu penerima manfaat awal yang paling jelas. Cina memberikan sekitar 98,2% akses pasar bebas bea untuk produk Kenya di bawah Early Harvest Agreement.
"Jika Anda mempertimbangkan populasi Cina dan tingkat konsumsinya, ini berarti kita bisa melakukan lebih banyak bisnis kopi di Cina. Dan lagi, orang-orang akan mendapat manfaat lebih besar di industri kopi," ujar Frederik Gathuma, petani Kenya, kepada DW.
Pada 2024, Kenya mengimpor barang dari Cina senilai 4,31 miliar dolar AS, demikian menurut basis data UN COMTRADE, tetapi ekspornya ke Beijing jauh lebih kecil dan berfokus pada teh, kopi, bunga potong, dan produk segar.
Meskipun selisih volume perdagangan Kenya dengan Cina masih besar, Kenya memiliki standar pertanian yang baik, sistem penyimpanan dan pengiriman produk segar yang terjaga, serta jaringan ekspor yang sudah mapan, yang dapat membantu negara ini meningkatkan ekspor lebih cepat dibanding banyak negara Afrika lainnya
Afrika Selatan adalah salah satu ekonomi paling siap ekspor di benua itu. Teh rooibos asal Afrika Selatan kini mendapat akses bebas tarif, dan sektor pertambangan seperti emas, platinum, dan krom dapat diuntungkan dari biaya masuk yang lebih rendah ke rantai pasok Cina.
Ghana mencapai rekor perdagangan 14,1 miliar dolar AS dengan Cina pada 2025. Peluangnya nyata, tetapi ada juga risiko.
Banyak ekonom mendorong pemerintah di Accra untuk tidak hanya mengekspor biji kakao mentah, tetapi berinvestasi dalam pengolahan sehingga bisa mengekspor mentega kakao dan cokelat jadi. Nol tarif pada produk olahan menguntungkan pekerja Ghana, sementara nol tarif pada bahan mentah terutama menguntungkan pabrik-pabrik di Cina.
Negara Afrika yang terkurung daratan menghadapi hambatan logistik
Kasus Mali dan Niger menunjukkan bahwa kesepakatan ini tidak banyak menguntungkan negara tanpa akses laut yang masih bergantung pada sumber daya alam.
Kedua negara ini menghadapi biaya logistik tinggi yang mengurangi manfaat penghematan tarif. Barang mereka harus menempuh ratusan kilometer untuk mencapai pelabuhan, yang menambah faktor biaya dan waktu. Selain itu, keduanya tidak memiliki industri ekspor besar yang mampu memenuhi kebutuhan Cina dalam hal volume, sertifikasi, dan pengemasan.
"Kami melatih para eksportir agar bisa mematuhi standar bea cukai Cina," tandas Erick Rutto, presiden Kamar Dagang Nasional Kenya, kepada DW. "Untuk isu standar fitosanitasi, kami juga melatih mereka serta menyediakan akses pasar dan harga yang tepat untuk barang dan komoditas."
Para analis mengatakan produsen Afrika harus berinvestasi dalam pengujian dan sertifikasi untuk memenuhi standar keamanan pangan dan fitosanitasi Cina.
Sebagian besar pengiriman antara Afrika dan Cina masih melewati pelabuhan di Dubai atau Singapura, yang menambah biaya dan mengurangi manfaat tarif rendah. Cina sedang berinvestasi dalam jalur pelayaran langsung, tetapi ini akan membutuhkan waktu.
Bagi ekonom internasional Johnston, kebijakan nol tarif ini juga dapat membantu meningkatkan perdagangan intra-Afrika, sehingga mendorong pertumbuhan di negara-negara paling kurang berkembang.
"Kebijakan nol tarif itu mungkin mendorong pertumbuhan ekonomi Afrika yang lebih lemah, baik dalam hal perdagangan mereka sendiri dengan negara-negara yang lebih kuat," papar Johnston, merujuk pada negara seperti Burundi dan Malawi, yang ekonominya tidak sekuat negara seperti Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, Etiopia, dan Mesir.
Belajar dari model Cina
Orang terkaya di Afrika, Aliko Dangote, baru-baru ini berpendapat bahwa Cina mendominasi bisnis di Afrika bukan karena nol tarif, tetapi karena menyediakan pembiayaan jangka panjang untuk proyek industri dan infrastruktur besar yang enggan didukung mitra Barat.
"Kalau saya pergi ke Italia, misalnya, dan mereka meminta saya menulis cek untuk pembangkit listrik senilai 500 juta dolar, sementara pihak Cina berkata cukup bayar 20%, sisanya saya biayai selama lima tahun, mana yang akan Anda pilih? Tentu saja Anda pilih yang Cina," kata Dangote dalam wawancara terbaru di podcast "In Good Company" milik Nicolai Tangen.
Bagi negara seperti Kenya, Afrika Selatan, dan Ghana, kebijakan nol tarif Cina adalah peluang nyata. Negara-negara ini memiliki infrastruktur ekspor, standar kualitas, dan dukungan politik yang lebih baik. Namun bagi sebagian besar dari 53 negara Afrika, kebijakan ini bukan "kunci emas", melainkan lebih seperti pintu yang sejak awal sudah sulit dibuka.
"Negara-negara Afrika pada dasarnya ingin meniru kisah pertumbuhan Cina," pungkas Johnston. "Mereka perlu mencari cara untuk melakukan industrialisasi dari proses ini, seperti yang dilakukan Cina dari proses yang sama dengan negara-negara maju lainnya."
Dalam jangka panjang, kebijakan ini dapat memperdalam hubungan ekonomi Cina dengan Afrika sekaligus memperluas arus perdagangan di kedua pihak.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh: Ayu Purwaningsih
Editor: Rizki Nugraha
(ita/ita)