dRooftalk

Telisik Mitos Babi Ngepet Asal Depok

detikTV, detikTV - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 19:33 WIB
Jakarta -

Hampir satu pekan isu babi ngepet menjadi sorotan publik dan warganet di Indonesia. Isu itu muncul setelah babi hutan berwarna hitam ditangkap beberapa warga Bedahan, kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat dan dilabeli sebagai babi ngepet.

Kabar itu kemudian menyebar begitu cepat hingga akhirnya polisi turun tangan. Kapolsek Sawangan AKP Rio Tobing bersama aparatur dan tokoh masyarakat lain memutuskan untuk menyembelih babi tersebut.

"Namun faktanya rumor tidak semakin terbendung, semakin liar informasi-informasi yang beredar. Semakin banyak simpang siur ceritanya, kita harus bertindak cepat. Dari polsek sawangan, saya ambil keputusan ini harus dilakukan penyelidikan supaya kita dapat klarifikasi agar isu ini tidak menjadi berkembang, hingga akhirnya kita berhasil mengungkap bahwa itu semua rekayasa," ujar AKP Rio Tobing dalam obrolan eksklusif d'Rooftalk, Selasa (4/5/2020).

Polisi lalu memeriksa para saksi di lokasi kejadian, termasuk mereka yang mengaku menangkap babi ngepet bersama tersangka Adam Ibrahim. Faktanya terungkap tidak ada satupun yang melihat perubahan manusia jadi babi,

"Cerita itu dari Adam Ibrahim nah ketemu kita satu fakta tersebut, lalu kita dalami lagi jadi semuanya bermuara ke Pak Adam Ibrahim. Kemudian kita dapatkan bukti chat satu dengan yang lain, nah setelah itu kita periksa pak Adam Ibrahim. Yang akhirnya pak Adam Ibrahim mengaku bahwa itu rekayasa," ungkap Rio.

Polemik babi ngepet hadir bukan tanpa alasan, dalam kacamata Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Daisy Indira Yasmine cerita babi ngepet terus ada karena diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Secara sosiologis, menurut Daisy, fenomena ini termasuk bagian dari rumor dan merupakan urban legend yang sulit untuk dibuktikan kebenarannya.

"Kalau contoh babi ngepet ini mistis dan memang kalau dalam sejarah Indonesia, sejarah masyarakat kita dihubungkan dengan uang," ujar Daisy.

Lebih lanjut, Daisy menilai kemunculan isu ini bisa dilihat dalam konteks bulan Ramadan menjelang hari raya.

"Bukan sekedar masalah religiusitas menurut saya, tetapi kebutuhan yang meningkat dalam rangka menyambut hari raya lebaran atau hari raya lainnya. Akhirnya cerita ini jadi lebih mudah disebar luaskan baik untuk kepentingan pelaku tersebut atau kepentingan tertentu. Nah yang menarik dari kasus ini, masalahnya pelaku rekayasa cerita sehingga bisa menaikan pamor dirinya. Jadi ini sebuah cerita yang disebarkan untuk kepentingan yang ujungnya pasti ada keuntungan yang dicari," tutur Daisy.

Sementara itu sejarawan dan budayawan J.J Rizal menyebut fenomena babi ngepet tidak bisa dikategorikan urban legend, karena data dan informasinya tidak ada. Dalam bahasa ilmiah, Rizal menyebut fenomena ini dinamakan likantropi yakni perubahan manusia menjadi binatang secara temporer.

"Kalau kita nonton film werewolf itu contoh likantropi," Rizal mencontohkan.

Lebih lanjut, Rizal menyatakan Indonesia memiliki banyak istilah atau bahasa terkait perubahan manusia menjadi binatang. Fenomena-fenomena itu muncul tidak lepas dari kebiasaan budaya masyarakat di nusantara.

"Bukan hanya nusantara tetapi juga Asia, mayoritas mereka menguburkan harta bahkan kalau mati menaruh hartanya di kuburan, koin-koin emas atau harta. Penguburan harta ini menumbuhkan mitos kepercayaan bahwa ada mahluk tertentu yang bisa menemukan dan mahluk-mahluk itu bisa kera, bisa anjing, bisa ikan, bisa ular, bisa juga babi yang ngendus. Ini kepercayaan bukan urban legend, tetapi kepercayaan lama sebagai kepercayaan lama kita bisa simpulkan dalam studi-studi etnografi," paparnya.

Rizal menilai isu babi ngepet tidak lepas dari kehidupan fenomena masyarakat desa dan kota tentang uang. Isu babi ngepet menjadi potret ilmiah situasi di masyarakat dan elite-elite di Indonesia.

"Ini praktik umum suburban masyarakat, tayangan konsumsi publik tidak beranjak urban legend. Bagaimana generasi milenial memburu hantu merekam hantu, kita juga dikejutkan di KPK banyak pejabat yang sekolah baik, dia bawa jimat dengan keyakinan tidak bisa diperiksa tidak bisa diinterogasi. Jadi menurut saya bukan hanya babi ngepet, masyarakatnya ngepet, kotanya yang ngepet dan itu tercemin dalam RUU soal santet dukun, itu bagaimana rasionalnya tapi bisa masuk ke DPR, artinya bukan hanya pak Adam merusak otaknya tapi banyak orang republik ini rusak otaknya, ngepet otaknya," pungkasnya.

(edo/hnf)