Aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, berhenti total sejak 22 September 2026 kkrena Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga kini belum ada penerbangan yang kembali beroperasi normal.
Masyarakat yang membutuhkan transportasi cepat ke luar daerah kini harus melakukan perjalanan darat yang jauh lebih panjang. Misalnya pengguna transportasi pesawat harus berangkat dari Banjarmasin yang jaraknya sekitar 9 jam perjalanan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Raihansyah, mengatakan penghentian penerbangan dilakukan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat. Jarak pandang di sekitar bandara masih jauh dari batas yang memungkinkan pesawat melakukan pendaratan dengan aman.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jarak pandang pada pagi hari hanya berkisar 500 hingga 800 meter. Kondisi tersebut bahkan memburuk saat siang hingga sore hari.
"Untuk penerbangan Bandara H Asan Sampit ini close total, tutup total selama bulan Oktober ini," kata Raihansyah, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, jarak pandang pada sore hari bahkan dapat turun di bawah 100 meter. Padahal, jarak pandang yang dinilai aman untuk penerbangan berada pada kisaran 2.000 meter atau lebih, sesuai persyaratan operasional yang berlaku.
"Situasi tersebut membuat pesawat tidak memungkinkan mendarat di Sampit. Hingga kini, belum ada kepastian kapan penerbangan dapat kembali dibuka karena semuanya bergantung pada perbaikan kondisi cuaca dan jarak pandang," katanya.
Raihansyah menduga kabut asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar perkotaan. Asap dari wilayah lain juga diduga terbawa angin hingga ke kawasan bandara, sehingga jarak pandang tetap terganggu meskipun kebakaran di sejumlah lokasi perkotaan mulai berkurang.
"Dampak penutupan bandara pun merembet ke sektor ekonomi. Kalangan pebisnis dan investor yang biasanya mengandalkan penerbangan untuk menunjang mobilitas harus menyesuaikan agenda perjalanan mereka," ujarnya.
Baca selengkapnya di sini
Simak juga Video 'Peta Kualitas Udara di Kalimantan & Sumatera Capai Tingkat Berbahaya!':
(idh/dhn)