Profil 3 Besar Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026

DPD RI Awards 2026

Profil 3 Besar Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026

Farih Maulana Sidik - detikNews
Senin, 12 Okt 2026 15:40 WIB
3 Besar Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan. Para kandidat terpilih memiliki inovasi untuk menghasilkan produk pangan unggul dan menggerakkan banyak masyarakat desa.

Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Ada empat kategori DPD RI Awards 2026, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.

Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 adalah Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si; Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol; anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H.; dan guru besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siapa saja 3 sosok yang masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan? Berikut ini sekilas profilnya:

ADVERTISEMENT

1. Asep Hidayat Mustopa (Jawa Barat)

Asep Hidayat Mustopa merupakan penggagas Desa Wisata Hanjeli di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dia melestarikan tanaman lokal hanjeli yang bijinya dapat diolah menjadi beras hanjeli, tepung, bubur, dan berbagai makanan olahan lainnya.

Desa Wisata Hanjeli berdiri sejak 2015. Di desa wisata ini, para tamu bisa mempelajari sejarah hanjeli yang hampir punah-sambil mencicipi beragam olahan tradisional seperti bubur hanjeli, nasi liwet hanjeli, peuyeum hanjeli, hingga rengginang hanjeli.

Inovasi ini telah melibatkan lebih dari 150 warga desa. Asep juga memberdayakan perempuan, kelompok tani hingga mantan pekerja migran Indonesia (PMI) di Desa Wisata Hanjeli.

Desa Wisata Hanjeli mampu menghasilkan lebih dari 20 ton panen yang diolah menjadi berbagai produk pangan dan turunan. Secara ekonomi, kegiatan ini mampu menciptakan perputaran omzet hingga ratusan juta rupiah per tahun.

2. Anang Ismail (Jawa Tengah)

Anang Ismail merupakan Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo. Dia berperan sebagai penggerak utama kemandirian pangan dan ekonomi masyarakat melalui pengembangan peternakan kambing perah berbasis potensi lokal.

Kelompok ternak ini menjadi wadah pembinaan, peningkatan keterampilan, dan pengembangan usaha. Rojo Koyo Utomo telah menghimpun peternak di sekitar 65 desa yang tersebar di Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Anang meningkatkan kapasitas peternak melalui pelatihan, pendampingan, bimbingan teknis, dan penerapan Good Farming Practices. Dia juga mendorong penggunaan bibit dan indukan unggul untuk meningkatkan kualitas ternak serta produktivitas susu.

Untuk meningkatkan nilai jual, Anang bersama kelompok ternak mengembangkan unit pengolahan susu kambing, termasuk produk susu kambing pasteurisasi berkualitas.

3. Rivan Rinaldi (Aceh)

Rivan Rinaldi membangun Rumoh Pangan Aceh untuk mengembangkan kacang koro pedang sebagai alternatif pangan lokal. Inovasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia pada kedelai impor.

Rivan menginisiasi program ini karena kacang koro pedang memiliki kandungan gizi yang baik serta harga yang lebih kompetitif. Produktivitas kacang koro pedang juga berpotensi lebih tinggi dibandingkan kedelai.

Awalnya, Rumoh Pangan Aceh mengelola 8 hektare lahan dengan 15 petani. Kini, program tersebut berkembang menjadi 28 hektare dengan keterlibatan sekitar 150 petani di delapan kabupaten/kota di Aceh. Kapasitas produksi pun meningkat dari 10 kg menjadi 200 kg per hari.

Hasil produksi telah mencapai lebih dari 25.000 produk dan menjangkau lebih dari 20.000 konsumen di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pemasaran dilakukan melalui empat pasar modern, 21 kanal pasar tradisional, dua SPPG, dan dua sekolah. Program ini turut membuka 20 lapangan kerja, termasuk bagi 14 perempuan desa di Aceh.

Lihat juga Video Ini Program Pupuk Indonesia yang Bawa Pulau Lembata Mandiri Pangan!

(fas/knv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini