×
Ad

Luhut Dorong Lahirnya SDM Keamanan Siber Lewat Kerja Sama Riset & HIDC

Dea Duta Aulia - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2026 12:45 WIB
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga ahli untuk menghadapi ancaman siber yang terus meningkat. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sebanyak 1,52 miliar serangan siber tercatat pada 1 Januari-15 April 2026.

Pendiri IT Del yang juga Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menilai meningkatnya ancaman keamanan siber dan kemajuan kecerdasan artifisial (AI) menuntut penyiapan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan di bidang keamanan siber. Karena itu, IT Del memberi perhatian pada pengajaran AI sekaligus pengembangan kompetensi keamanan siber.

"Ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber. IT Del juga memberi perhatian pada pengajaran kecerdasan artifisial agar generasi muda siap menghadapi perkembangan teknologi," kata Luhut dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2026).

Di tengah kebutuhan memperkuat pertahanan digital nasional, Spentera Group, perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber, mendorong tumbuhnya talenta nasional dengan menggelar grand final kompetisi hacking tahunan Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 di Institut Teknologi Del (IT Del), Balige, beberapa waktu lalu.

Babak penyisihan kompetisi berlangsung sejak 17 Agustus 2026. Dari 410 peserta yang tergabung dalam 136 tim, sebanyak tiga tim yang berisi sembilan peserta melaju ke babak final. Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari luar negeri.

Sementara itu, Co-Founder & Owner Spentera Group Royke Lumban Tobing mengatakan besarnya ancaman siber harus dijawab dengan mempercepat penyiapan sumber daya manusia. Menurutnya, kebutuhan industri terhadap tenaga ahli keamanan siber masih jauh lebih besar daripada ketersediaan talenta.

"Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Kebutuhan dan ketersediaan SDM kesenjangannya masih terlalu besar. Keamanan siber adalah bagian penting dari keamanan nasional. Menjaga keamanan siber berarti ikut menjaga kedaulatan nasional dan melindungi warga negara," ujar Royke.

Grand final HIDC 2026 mempertemukan tim Boys Who ChatGPT, Petir Pemecut Handal, dan HIB Hoshiyomis. Para finalis berusia di bawah 30 tahun, dengan latar belakang mahasiswa maupun profesional. Beberapa di antaranya telah bekerja di mancanegara.

Menguji Keterampilan dalam Skenario Nyata

HIDC menantang peserta melewati delapan tahap yang menguji lebih dari sekadar kemampuan menemukan celah pada sistem digital. Tantangannya mencakup pengamanan fisik seperti membuka gembok dan brankas, penggunaan software-defined radio (SDR), pengujian serangan melalui pendekatan red team, serta respons pertahanan melalui pendekatan blue team.

Menurut Royke, skenario tersebut disusun berdasarkan pengalaman Spentera menangani kebutuhan keamanan siber klien. Dengan demikian, peserta berlatih membaca risiko, menyusun strategi, bekerja dalam tim, dan mengambil keputusan seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan keamanan siber. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp170 juta.

"Harapan kami, peserta tidak berhenti sebagai pemenang kompetisi. Mereka bisa berkembang menjadi cyber security engineer yang mampu membangun keamanan cyber yang dibutuhkan perusahaan di Indonesia, bahkan negara, dan mampu bersaing di pasar global. Tak hanya itu, kami juga ingin kompetisi HIDC 2026 di Balige, Sumut, dapat mendorong distribusi talenta-talenta cyber security agar tidak hanya berpusat di Pulau Jawa. Semoga ke depan pasar global tidak lagi mencari talenta teknologi informasi ke India, tapi ke Indonesia," ungkap Royke.

Kerja Sama Mendekatkan Kampus dengan Kebutuhan Industri

Pemilihan Institut Teknologi Del (IT Del) sebagai lokasi grand final kompetisi hacker HIDC 2026 ditujukan untuk mendorong lahirnya talenta-talenta muda keamanan siber. IT Del memiliki fokus studi di bidang artificial intelligence. Upaya ini dikuatkan dengan penandatanganan kerja sama riset, inovasi, dan program magang antara IT Del dan Spentera Group.

Penandatanganan kerja sama dengan Spentera Group menjadi langkah lanjutan untuk menghubungkan penelitian dan pengembangan kapasitas dengan kebutuhan industri. Sebelumnya, Spentera juga bekerja sama dalam riset keamanan siber dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Sementara itu, Rektor IT Del Prof. Arnaldo Marulitua Sinaga mengatakan kolaborasi kampus dan industri membantu mahasiswa memahami tantangan keamanan teknologi yang dihadapi dunia kerja.

"Upaya kita adalah membentuk talenta-talenta keamanan siber. Kita melihat pentingnya keamanan dalam bidang teknologi. IT Del juga ingin berkontribusi di bidang tersebut," ujar Arnaldo.

Melalui kompetisi tahunan HIDC, Spentera berharap semakin banyak anak muda tertarik menekuni profesi keamanan siber. Perusahaan juga tengah menyiapkan program sertifikasi untuk membantu talenta mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sementara itu, seorang peserta yang sudah bekerja di salah satu perusahaan Rusia, Ahmad Zainuri, menyampaikan pentingnya membangun SDM keamanan siber di era artificial intelligence.

"Di zaman AI ini memudahkan orang untuk melakukan hacking sehingga ancaman keamanan siber semakin tinggi. Maka, kebutuhan SDM yang memiliki kemampuan bertahan dari serangan siber sangat perlu," jelas Ahmad.

Peserta lain yang telah bekerja di Singapura, Linuz Tri Eriyanto, menekankan pentingnya membangun etika bagi para hacker muda.

"White hat hacker, istilah untuk hacker yang menghormati etika, penting sekali untuk dibangun melalui lomba-lomba seperti ini, supaya para hacker muda tidak terjerumus dalam aksi-aksi yang merugikan," tutupnya.

Tonton juga video "Luhut Bilang Data Desil Akan Diperbaiki dengan AI"




(akd/ega)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork