Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia. Peresmian ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat literasi dan ruang pembelajaran budaya secara berkelanjutan.
Fadli Zon menegaskan hadirnya perpustakaan di dalam museum merupakan dua elemen yang saling melengkapi sebagai bagian dari infrastruktur riset dan produksi pengetahuan.
"Museum dan perpustakaan tumbuh sebagai satu ekosistem yang menghubungkan koleksi, dokumentasi, riset, pendidikan, dan akses publik. Buku-buku yang ada, 30.000 buku, tanpa kolaborasi ini, mungkin tidak bisa di-display atau dimanfaatkan dengan baik. Kolaborasi strategis ini mendorong perpustakaan dan museum sebagai elemen yang saling melengkapi," ungkap Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).
Perpustakaan Danantara Museum Nasional Indonesia lahir dari kemitraan strategis Danantara Indonesia Trust dan Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya guna memperluas akses pengetahuan serta merawat budaya membaca masyarakat.
Secara teknis, fasilitas ini mengintegrasikan teknologi Senayan Library Management System (SLiMS) dan Online Public Access Catalog (OPAC). Demi menjaga kelestarian koleksi, kapasitas kunjungan dibatasi maksimal 20 orang per jam melalui registrasi daring. Publik juga dapat memanfaatkan fasilitas ruang layanan informasi, ruang rapat, dan loker penitipan barang.
Fadli Zon berharap integrasi perpustakaan dan museum ini mampu memperkokoh peran MNI dalam mengelola warisan sejarah sekaligus menggerakkan ekonomi budaya berkelanjutan.
"Perpustakaan Danantara ini diharapkan dapat semakin memperkuat peran Museum Nasional Indonesia sebagai ruang pengetahuan dan pembelajaran budaya. Sekaligus mendukung tugas dan fungsi museum dan cagar budaya dalam mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya untuk kepentingan masyarakat," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin menjelaskan koleksi perpustakaan mencakup buku umum, buku bertema budaya daerah, buku internasional, buku referensi, terbitan Museum Nasional Indonesia, hingga hikayat dan literatur lama.
"Sementara ini beberapa koleksi unggulan adalah koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, koleksi sastra lama termasuk Serat Centhini, dan terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berisi kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi. Ada juga buku tertua tahun 1859, Netherlands Oost-Indië, dan buku perjalanan dari Dr. S.A. Buddingh," ungkap Indira.
(anl/ega)