Melihat Sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin, Objek Wisata Sejarah Gratis

Melihat Sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin, Objek Wisata Sejarah Gratis

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 02 Sep 2026 16:08 WIB
Penjara Soekarno di Lapas Sukamiskin
Sel Sukarno di Lapas Sukamiskin (Audrey/detikcom)
Jakarta -

Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung, Jawa Barat (Jabar), berstatus cagar budaya tipe A karena keaslian bangunannya sejak era kolonial. Selain wujud bangunannya, sel 233 Blok Timur lapas ini juga menyimpan cerita sejarah.

"Terkait dengan masalah bangunan ini, kebetulan kami (Sukamiskin) ditetapkan heritage tipe A yang memang di 2010. Kemudian ketika ada perubahan-perubahan fundamental terkait bangunan itu, memang harus ada izin dari tim ahli cagar budaya Dinas Pariwisata Kota Bandung," jelas Kasubbag Kepegawaian, Jajang Sulton, kepada detikcom di Lapas Kelas I Sukamiskin, pada Selasa (2/9/2026).

Sel 233 memiliki nilai sejarah karena pernah ditempati Presiden ke-1 RI Sukarno atau Bung Karno. Diketahui sebelum era kemerdekaan, Bung Karno sempat dipenjara di Sukamiskin karena dianggap melawan pemerintah Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk berkunjung ke kamar Bung Karno, izinnya bersurat dulu ke Kanwil Ditjenpas Jawa Barat. Jika kanwil sudah beri izin, informasinya diteruskan ke kami. Proses izinnya sebentar, kalau ditunggu juga kadang bisa, sehari pun bisa," kata Jajang.

Dia menyebut Lapas Sukamiskin merupakan lapas pariwisata pertama di Tanah Air. Sejauh ini pengunjung lapas berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.

"Kita menjadi lapas pariwisata pertama. Yang berkunjung ke sini mayoritas ya mahasiswa, murid-murid SMP, SMA," ucap Jajang.

Penjara Soekarno di Lapas SukamiskinSel Sukarno di Lapas Sukamiskin (Audrey/detikcom)

Meski dibuka untuk pariwisata, sisi pengamanan dan sterilisasi lapas dari dunia luar harus dijaga. Wisatawan, terang Jajang, tak diperkenankan menjelajah ke seluruh sudut lapas.

"Di sini terbuka untuk pariwisata, tapi ada ketentuan atau SOP tertentu di lapas, yang mana demi pertimbangan keamanan dan sterilisasi. Jadi pengunjung hanya diizinkan ke kamar Bung Karno di Blok Timur Kamar 233," ujar Jajang.

Jajang menegaskan pihak lapas tak memungut biaya masuk pada wisatawan. Hal ini dikarenakan Lapas Sukamiskin berstatus zona integritas.

"Nggak ada tiket masuk, gratis, terutama bagi mahasiswa yang PKL atau penelitian, dipersilakan. Kita tidak pungut biaya pengunjung karena kita terbentur dengan wilayah zona integritas. Menuju WBK itu kan semua harus free, termasuk makanya parkir di depan tidak berbayar," terang Jajang.

Mekanisme Kunjungan

Pihak lapas membatasi jumlah pengunjung yang masuk ke sel, demi kenyamanan dan keleluasaan yakni hanya lima orang. Pasalnya, luasan sel Bung Karno hanya sekitar 3x2 meter persegi.

"Kuota pengunjung yang masuk, karena kamar tidak terlalu luas, paling nyaman per lima orang yang masuk. Contoh ada 30 dalam satu rombongan, nah masuknya ganti-gantian lima orang. Waktu berkunjung fleksibel saja, tidak dibatasi berapa lamanya di dalam kamar Bung Karno," kata Jajang.

Jajang menyebut pihak lapas tak mengubah apapun di dalam sel Bung Karno. Hanya menaruh wewangian dan sejumlah buku terkait Bung Karno.

"Kalau untuk kondisi kamar Bung Karno memang disterilkan dari zaman dulu kondisinya begitu, dijaga keasliannya. Paling ada kami tambahkan buku-buku tentang Bung Karno di meja. Ada pewangi ruangan agar yang masuk pun nyaman," ujar Jajang.

Jajang menuturkan semua petugas jaga dan keamanan lapas telah dibekali wawasan dan pengetahuan seputar keberadaan Bung Karno di Lapas Sukamiskin kala menjadi tahanan politik Belanda. Sehingga petugas jaga dapat memandu wisatawan.

"Nanti yang jadi tour guide-nya dari bagian umum. Kalau memang pas di hari libur atau kami sudah pulang, paling ada dari petugas pengamanan yang menemani. Pegawai-pegawai kami sudah kami beri wawasan, sudah membaca silabusnya mengenai kamar Bung Karno," pungkas Jajang.

Bung Karno sebelum dibui di Lapas Sukamiskin, terlebih dahulu ditahan di Penjara Banceuy akibat aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia (PNI). Belanda kala itu merasa terancam.

Di sel 233, yang saat ini dikenal sebagai Kamar Nomor 1 Blok Timur Atas, Bung Karno menuangkan pemikiran dan perjuangannya melalui tulisan, termasuk menyusun dan menyempurnakan pembelaannya yang kemudian dikenal dengan judul 'Indonesia Menggugat'.

Baik Dinas Pariwisata Bandung maupun Lapas Sukamiskin memelihara keaslian sel Bung Karno sebagai bagian dari ruang museum sejarah dan napak tilas untuk mengenang perjuangan Sang Proklamator.

Simak juga Video 'Langkah Antisipasi Penyebaran HMPV di Lapas Sukamiskin':

(aud/knv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini