×
Ad

Cerita Sukabread, Roti Buatan Napi Sukamiskin yang Laris hingga Jakarta-BSD

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 31 Agu 2026 20:03 WIB
Roti Buatan Napi Sukamiskin yang Laris (Dok istimewa)
Jakarta -

Aroma roti menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari pria berinisial H dan R, yang kini berstatus warga binaan atau narapidana (napi) Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat (Jabar). Di salah satu sudut bangunan pemasyarakatan itu berdiri dapur Sukabread, yang operasinya dikelola hampir semua napi.

Dari dapur ini berbagai jenis roti diproduksi sebanyak 70-100 buah per hari. Napi H mengatakan dia sudah berpindah-pindah lapas sebanyak dua kali. Pertama, dari Salemba ke Cipinang; kedua, dari Cipinang ke Sukamiskin; dan di sinilah dia merasa produktif dan tenang.

"Sudah sekitar enam bulanan saya di sini. Saya setahun di Cipinang sebelumnya, lalu saya dapat informasi ada kegiatan-kegiatan kerja di sini, ada speedboat, ada roti. Ada proses seleksi, penarikan (ke Lapas Sukamiskin) untuk warga binaan mana yang mau mencoba kegiatan di dalam lapas, akhirnya saya mendaftarkan," jelas H kepada detikcom, Sabtu (29/8/2026).

H mengaku di Lapas Cipinang juga terdapat bimbingan kerja produksi roti, namun menurutnya terlalu banyak napi yang mengikuti kegiatan tersebut di sana. Sehingga selama di Cipinang, H lebih banyak menghabiskan waktu di gereja sebagai tamping.

"Kalau di Cipinang memang ada produksi roti, tapi warga binaannya banyak banget, jadi untuk peluang kerja lebih di sini. Di Cipinang saya jadi tamping-tamping di gereja saja," kata pria asal Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar) ini.

Dia bersyukur dipindahkan ke Lapas Sukamiskin, yang dinilainya memiliki suasana lebih tenang dibanding dua lapas sebelumnya. "Di sini lebih tenang, di sini kegiatan kerjanya jelas dan sangat membantu banget sih untuk menghabiskan waktu," sambung dia.

Sukabread, yang merupakan program bimbingan kerja napi, telah menemukan pasarnya. Pesanan datang dari Jakarta, Tangerang Selatan hingga sejumlah konsumen di Bandung.

Ada pula mantan warga binaan yang setelah bebas memilih menjadi reseller Sukabread. H sendiri mengaku tertarik menjual ulang produk Sukabread usai bebas nanti.

"Animo tamu-tamu (lapas), mereka bilang untuk dijual ke luar (Sukabread) ini cocok. Malah kita sekarang ada reseller. Ada beberapa napi yang sudah bebas pun mau jual roti, kita bisa bantu untuk program reseller tadi. Jadi marginnya kita ambil dari HPP, keuntungan sedikit, biar reseller juga bisa berkreasi di luar," ucap H.

Pesanan juga datang dari tamu lapas yang telah mencicipi rasa roti buatan H dan rekan-rekan. Usai mencicipi, pertanyaan para tamu adalah apakah Sukabread bisa dipesan untuk kegiatan di luar lapas.

"Kadang ada tamu-tamu juga dari luar yang berkunjung, lalu mereka mencoba rotinya. Saat mereka merasakan cocok, roti menarik, mereka tanya bisa nggak dipesan misalnya untuk acara gereja, atau acara apa pun," cerita H.

H menyebut reseller terbesar Sukabread adalah penjual roti di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat, dan Bumi Serpong Damai (BSD). Pesanan kedua reseller mencapai 150-200 buah per pembelian.

"Reseller terbesar kami adalah rumah sakit di Semanggi, Jakarta Pusat dan di BSD. Mereka sekali order 150-200 pieces. Di Bandung yang pesan teman-teman misalnya dari gereja. Kalau kafe sudah ada yang di dekat-dekat sini ambil dari Sukabread," terang H.

Pengiriman produk Sukabread ke Jakarta menggunakan jasa ekspedisi. Produk-produk itu dititipkan H ke bagian depan lapas, dan nantinya petugas ekspedisi akan mengambil pesanan di depan lapas.

H kini menjadi salah satu koordinator Sukabread. Ia lebih banyak mengurus manajemen, mulai pembelian bahan hingga pengemasan.

Sementara pekerjaan di dapur dikoordinasikan oleh napi R. Sekitar 8 napi bekerja di balik dapur Sukabread.



Simak Video "Video: Langkah Antisipasi Penyebaran HMPV di Lapas Sukamiskin"


(aud/zap)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork