×
Ad

Haedar Nashir Terima Status Wartawan Utama, Kenang Beritanya Pernah Disobek

Adhfar Aulia Syuhada - detikNews
Kamis, 13 Agu 2026 13:42 WIB
Foto: Adhfar Aulia Syuhada/detikcom
Jakarta -

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menerima status Wartawan Utama dari Dewan Pers. Haedar mengenang masa saat dirinya menjadi wartawan di media milik Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah, yang dimulai pada 1984.

"Jadi saya menjadi wartawan Suara Muhammadiyah tahun 1984. Saya yakin sebagian ada yang mungkin baru lahir atau belum lahir. Menjadi wartawan pemula di Suara Muhammadiyah, media yang tertua di Indonesia, lahir tahun 1915," kata Haedar dalam pidatonya setelah menerima status Wartawan Utama di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).

Haedar kemudian mengenang masa-masa perjuangannya saat menjadi wartawan. Dia mengaku pernah sampai berjalan kaki untuk mencari berita.

"Saya selama hampir 5 tahun itu betul-betul digembleng oleh Pak Hazim Amir (Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah saat itu) untuk menjadi wartawan lapangan. Wartawan lapangan yang memungut berita dari berbagai tempat, daerah, naik bis, jalan kaki, kemudian naik kereta biasa, dan seluruh kendaraan yang ya harus saya manfaatkan di Jawa, luar Jawa," katanya.

Haedar juga mengaku naskah berita yang dia buat pernah disobek sebab tidak sesuai standar. Dia juga bercerita naskah beritanya pernah dicoret dengan tinta merah.

"Dan pengalaman itu menurut saya betul-betul menjadi wartawan, bukan hanya penulis. Menjadi penulis saya punya cerita sendiri. Menjadi wartawan yang tidak jarang berita saya bikin itu, itu tidak dipakai. Bahkan satu-dua disobek gitu. Kan sakit hati. Bikin sudah merasa diri ini benar, baik gitu sesuai dengan prinsip jurnalistik. Tidak, disobek di depan kita. Ada juga yang dia selalu pakai bolpoin tinta merah," kenang dia.

Perjalanan tersebut kemudian membawa Haedar akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah. Haedar mengatakan dirinya tidak toleran dengan wartawan yang menulis secara asal-asalan.

"Baru setelah perjalanan itu, saya selain menjadi wartawan masuk redaksi, dan di situlah kemudian tidak harus selalu ke lapangan, tapi menjadi redaktur. Dan modal itu pula yang kemudian setelah saya jadi pimpinan redaksi, bertahan biasa 5 hari. Sikap saksama, cermat, dan kadang juga terpengaruh oleh pengalaman itu ada semacam deprivasi relatif. Saya tidak toleran terhadap teman-teman SM yang menulis asal-asalan," katanya.

Dia kemudian berterima kasih kepada Dewan Pers yang telah memberinya status Wartawan Utama. Dia bercerita status Wartawan Utama adalah hal yang dia inginkan sebelumnya.

"Jadi terima kasih kepada Dewan Pers Nasional, kepada Lembaga Uji Kompetensi Wartawan UMY, dan media yang telah mengatur secara administratif. Kenapa dulu saya sempat tidak, tidak dapat? Waktu itu kan rasanya zaman-zaman dulu ya, kita dapat kartu wartawan itu pikirannya ada macam-macam lah gitu. Jadi teman-teman ikut tes, saya nggak ikut gitu. Ya nggak apa-apa lah, yang penting jadi wartawan gitu. Tapi lama-kelamaan terpikir juga ingin dapat Kartu Utama," katanya.

Tonton juga video "Muhammadiyah Respons Usulan Dana Zakat untuk Makan Bergizi Gratis"




(gbr/gbr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork