BNN Inisiasi Program 'Ananda Bersinar' Perang Melawan Narkoba

BNN Inisiasi Program 'Ananda Bersinar' Perang Melawan Narkoba

Rizky Adha Mahendra - detikNews
Kamis, 23 Jul 2026 10:36 WIB
Kepala BNN dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Lido, Bogor (Rizky/detikcom)
Foto: Kepala BNN, Suyudi Ario Seto, dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Lido, Bogor (Rizky/detikcom)
Bogor -

Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) menginisiasi program Aksi Nasional Antinarkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkoba (Ananda Bersinar) dalam upaya Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Program tersebut diinisiasi untuk mencegah anak muda generasi penerus bangsa terjerumus dalam narkoba.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Lido, Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/7/2026). Kepala BNN mengatakan perang terhadap narkotika harus dimulai sebelum jatuh korban.

"Pada bidang pencegahan, kami berangkat dari keyakinan bahwa perang melawan narkotika tidak boleh baru dimulai ketika seseorang telah menjadi korban. Perang itu harus dimulai jauh sebelumnya: dari keluarga, dari sekolah, dari lingkungan tempat anak tumbuh, dan dari kemampuan agar setiap anak untuk berkata 'tidak' terhadap narkotika, say no to drugs," kata Suyudi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam upaya penyempurnaan strategi P4GN, BNN terus melakukan pendekatan yang semakin komprehensif dan berimbang, namun tetap tegas terhadap bandar dan jaringan narkoba. Di sisi lain, BNN tetap mengedepankan humanisme dalam memulihkan penyalahgunaan dan korban narkotika untuk membangun ketahanan masyarakat, serta semakin preventif dalam melindungi anak-anak Indonesia sejak usia dini.

"Inilah semangat yang kami maknai dalam 'War on Drugs for Humanity', yaitu perang terhadap kejahatan narkotika, namun tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia serta humanis terhadap korban penyalahguna demi menyelamatkan manusia," imbuhnya.

Program 'Ananda Bersinar'

Atas dasar itulah, BNN RI menginisiasi program 'Ananda Bersinar'. Program ini merupakan transformasi strategi pencegahan BNN yang menempatkan anak sebagai subjek utama perlindungan dengan membangun karakter, ketahanan diri, kecakapan hidup, literasi bahaya narkotika, serta memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

"Ananda Bersinar kami rancang agar berjalan searah dengan agenda besar pembangunan sumber daya manusia yang dipimpin oleh Bapak Presiden. Sebab, anak yang sehat secara fisik, tercukupi gizinya, dan memperoleh pendidikan yang baik, tetapi tidak memiliki daya tangkal terhadap narkotika, tetap berada dalam risiko kehilangan masa depannya," jelasnya.

Kurikulum Antinarkoba dan Saka Antinerkotika

Suyudi menambahkan, untuk memperkuat ekosistem pencegahan, BNN bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mendorong integrasi kurikulum antinarkotika ke dalam proses pembelajaran melalui mata pelajaran yang telah ada. BNN juga menginisiasi penguatan gerakan kepanduan melalui Saka Antinarkotika.

BNN juga terus memperluas edukasi berbasis komunitas, serta menghadirkan layanan BNN Call Center 184 yang beroperasi 24 jam sebagai kanal informasi dan pengaduan masyarakat dengan menjaga kerahasiaan identitas pelapor sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Lebih lanjut, Suyudi memaparkan upaya BNN dalam program P4GN pada bidang pemberdayaan masyarakat. BNN terus bekerja untuk memutus akar sosial dan ekonomi yang membuat sebagian masyarakat berada dalam lingkaran kerawanan narkotika.

"Di wilayah rawan kultivasi ganja seperti Gayo Lues, Aceh, kami melaksanakan Grand Design Alternative Development (GDAD)," imbuhnya.

Suyudi menekankan, pendekatan tersebut tidak berhenti pada pemusnahan tanaman ganja, tetapi dilanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komoditas alternatif yang legal dan produktif. Melalui program GDAD, BNN telah berhasil mengubah pola pikir (mindset) masyarakat dari petani ganja menjadi petani kopi yang hasilnya bernilai ekonomis sehingga dapat menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi pemerintah daerah setempat.

"Bagi kami, pemberantasan yang berkelanjutan harus mampu memutus mata rantai kejahatan sekaligus menghadirkan pilihan penghidupan yang bermartabat. Karena itu, keberhasilan P4GN tidak cukup hanya diukur dari berapa hektare tanaman ilegal yang dimusnahkan, tetapi juga dari seberapa kuat masyarakat mampu berdiri secara mandiri tanpa kembali bergantung pada ekonomi ilegal narkotika," pungkasnya.

(mea/dhn)


Berita Terkait