Musim panas belum datang sepenuhnya saat kami tiba di Korea Selatan. Udara sejuk sisa peralihan dari musim semi masih terasa saat kami menginjakkan kaki di Bandara Incheon. Suasana itu menjadi pembuka perjalanan kami selama sepekan menyusuri Negeri Ginseng.
detikcom bersama sejumlah jurnalis dari berbagai media berkesempatan mengunjungi Korea Selatan dalam program The Indonesian Next Generation Journalist Network yang digelar Korea Foundation bekerja sama dengan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) pada pertengahan Juni lalu. Program ini menjadi kesempatan untuk mengenal Korea Selatan lebih dekat, sekaligus merayakan eratnya persahabatan yang terjalin antara Indonesia dan Korea Selatan.
Begitu tiba di Seoul, kami langsung menuju Samcheonggak untuk mengikuti sambutan jamuan makan siang. Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation, Yonguk Kim, bersama jajaran menyambut para jurnalis peserta program ini. Suasana keakraban terlihat dalam perbincangan santai di kawasan restoran yang penuh dengan nuansa budaya dan seni.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Museum Nasional Korea. Di sana, kami diajak menelusuri perjalanan sejarah dan budaya Korsel dari masa ke masa.
Salah satu koleksi yang paling menyita perhatian adalah Pagoda Batu Sepuluh Tingkat yang berdiri megah di tengah museum. Pagoda itu dikenal memadukan gaya tradisional Dinasti Goryeo dengan pengaruh eksotis yang diadopsi melalui Dinasti Yuan (Tiongkok).
Di balik kemegahannya, pagoda itu juga menyimpan cerita masa lalu yang getir bagi Korea Selatan. Pada 1907, pagoda itu sempat dibawa secara ilegal ke Jepang. Namun berkat kegigihan dan upaya keras dari berbagai pihak, pagoda itu berhasil direbut kembali dan dipulangkan ke Korea pada 1918.
Setelah dari museum, kami kemudian bergerak menuju Taman Banpo Hangang menggunakan bus. Suasana indah sore hari di taman tersebut menutup perjalanan kami di hari pertama. Kami makan malam dengan menghadap sungai Han yang tenang.
Persahabatan Erat Indonesia-Korsel
Keesokan harinya, kami mengunjungi Gedung Majelis Nasional Korea Selatan. Ketua Komite Persahabatan Majelis Nasional Korea Selatan-Indonesia, Gi-hyeon Kim, menerima rombongan jurnalis di ruangan Komite Urusan Diplomasi dan Unifikasi.
"Kami merasa akan sangat bermakna jika menjamu Anda di sini karena tempat ini merupakan ruang yang digunakan untuk diplomasi," kata dia menjelaskan ruang pertemuan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa hubungan Korea dan Indonesia telah terjalin erat sejak lama. Hubungan kedua negara juga diperkuat melalui berbagai program pertukaran masyarakat, salah satunya melalui The Indonesian Next Generation Journalist Network. Lewat kegiatan tersebut, para jurnalis berkesempatan bertemu sejumlah pihak dari berbagai institusi dan melihat langsung perkembangan Korea Selatan dari berbagai perspektif.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Korea Selatan sendiri telah terjalin sejak 1973. Pada 2023, kedua negara merayakan hubungan diplomatiknya yang ke-50. Saat itu, Gi-hyeon menjabat sebagai pemimpin partai politik penguasa di Korea Selatan.
Selain itu, Gi-hyeon juga bercerita mengenai kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan beberapa waktu lalu. Ia berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Prabowo saat berkunjung ke Istana Kepresidenan Korsel.
"Karena itu, saya merasa memiliki ikatan yang khusus dengan Indonesia," ujarnya.
Ia menyampaikan saat ini ada lebih dari 80 ribu warga Indonesia yang tinggal di Korea dan sekitar 27 ribu warga Korea tinggal di Indonesia. Ketika berkunjung ke Indonesia, ia kerap bertemu dengan warga Korea dan mendengar bahwa relasi kedua negara semakin erat.
"Saya juga mengetahui bahwa konten Korea seperti drama Korea dan musik Korea mendapatkan perhatian dan cinta yang besar dari masyarakat Indonesia. Karena itu saya berharap pertukaran budaya dan seni antar kedua negara akan semakin berkembang," katanya.
Setelah dari Gedung Parlemen Korsel, perjalanan berlanjut ke Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Seoul. Dubes RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, bersama jajaran KBRI menyambut kedatangan rombongan jurnalis.
Dalam sambutannya, Dubes Cecep berharap para peserta The Indonesian Next Generation Journalist Network dapat menjadi agen persahabatan Indonesia dan Korea Selatan. Ia mengatakan hubungan kedua negara yang sudah terjalin selama puluhan tahun harus terus diperkuat, salah satunya lewat program pertukaran masyarakat.
Ia kemudian menjelaskan mengenai perjalanan hubungan diplomatik Indonesia dan Korsel yang telah terjalin sejak 1973. Menurut Cecep, relasi kedua terus berkembang hingga kini semakin solid dan strategis.
Hal itu ditandai dengan peningkatan status hubungan Indonesia dan Korsel ke level Special Comprehensive Strategic Partnership saat kunjungan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu. Bagi Cecep, Indonesia memiliki posisi sangat istimewa di mata Korea Selatan.
"Kalau boleh saya bilang, menjadi satu-satunya hubungan diplomatik Korea dengan negara asing pada tingkatan ini, hanya dengan Indonesia, yaitu menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership. Ini patut berbangga juga kita bahwa kita dinilai sebagai satu-satunya negara yang punya ee tempat khusus dalam hubungan antara Indonesia dengan Korea," ujar Dubes Cecep.
Menurut Cecep, perubahan status tersebut bukan sekadar simbol hubungan diplomatik. Lebih dari itu, status tersebut memperlihatkan semakin dalamnya kepercayaan Indonesia dan Korea Selatan.
Kerja sama kedua negara juga semakin meningkat dalam berbagai bidang mulai dari ekonomi, pendidikan, budaya, teknologi hingga pertahanan.
Di sektor pertahanan, Indonesia selalu menjadi mitra penting bagi Korea Selatan. Berbagai produk alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan Korea Selatan telah digunakan Indonesia mulai dari KRI Mandau, pesawat latih KT-1, T-50 hingga kapal selam Nagapasa.
Tak hanya sebagai pembeli, Indonesia juga menjadi mitra strategis industri pertahanan Korea Selatan lewat kerja sama proyek pengembangan jet tempur KF-21 Boramae.
"Kita mengirimkan beberapa insinyur dan juga beberapa pilot untuk terlibat langsung dalam pengembangan industri ini," ujar Cecep.
(knv/knv)