Asa Korsel Agar Trump Turun Tangan di Semenanjung Korea

Asa Korsel Agar Trump Turun Tangan di Semenanjung Korea

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 17 Jun 2026 20:14 WIB
US President Donald Trump is presented with a replica gold crown in Gyeongju, South Korea, October 29, 2025. (Reuters)
Foto: Trump menjabat tangan Presiden Korsel Lee Jae Myung (Reuters)
Jakarta -

Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung berharap Presiden Amerika Serikat Donald Trump bisa membantunya berdamai dengan Korea Utara. Lee ingin Trump bisa turun tangan seperti ketika menyelesaikan konflik Timur Tengah.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada hari Jumat (19/6) mendatang untuk mengakhiri perang mereka. Muncul spekulasi bahwa pemerintahan Trump kemudian akan mengalihkan perhatiannya ke Korea Utara (Korut).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump memicu spekulasi tersebut tak lama setelah mengumumkan kesepakatan dengan Iran, dengan memposting di media sosial sebuah foto dirinya bersama pemimpin Korut Kim Jong Un pada pertemuan puncak mereka di Singapura tahun 2018.

Harapan Presiden Korsel

Kantor kepresidenan Korsel dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (17/6), mengatakan bahwa dalam pertemuan di KTT G7 di Prancis, Trump bertanya kepada Lee tentang perkembangan hubungan Korsel dan Korut.

Selama percakapan tersebut, "Presiden Lee meminta agar ia (Trump) memimpin dalam mencapai resolusi damai untuk masalah Korea Utara, seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah," kata kantor kepresidenan Korsel, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (17/6/2026).

"Presiden Trump menyatakan komitmennya untuk bekerja menuju resolusi masalah Korea Utara," imbuhnya.

Diketahui bahwa Lee telah mengambil pendekatan yang lebih lunak terhadap Korea Utara, berbeda dengan pendahulunya yang lebih garis keras, Yoon Suk Yeol.

Korut Menolak Pendekatan Korsel

Namun, Pyongyang telah menolak pendekatannya tersebut. Pyongyang secara resmi menyebut Seoul sebagai musuh terbesarnya, dan berulang kali menyatakan negaranya sebagai negara nuklir yang "tidak dapat diubah".

Menurut para ahli Korea Utara, peluang pertemuan antara Kim dan Trump rendah.

"Dari perspektif Korea Utara, praktis tidak ada alasan untuk bertemu dengan Amerika Serikat," kata Yang Moo-jin, mantan presiden Universitas Studi Korea Utara di Seoul, Korsel kepada AFP.

Tonton juga video "Presiden Korsel Pertimbangkan Patuhi Surat Penangkapan Netanyahu"

Halaman 2 dari 3
(rdp/rdp)


Berita Terkait