×
Ad

AS Serang Venezuela, Pakar Bicara Dampaknya untuk Indonesia

Farih Maulana Sidik - detikNews
Senin, 05 Jan 2026 08:23 WIB
Foto: @RapidResponse47/HO via REUTERS
Jakarta -

Dosen Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menyebut serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menunjukkan kerapuhan negara tersebut. Dia tak habis pikir jika presiden bisa ditangkap tanpa perlawanan.

"Karena sulit dimengerti jika seorang presiden, dengan pengamanan berlapis dan aparatus negara yang lengkap, bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti. Artinya, mata dan telinga aparatur negara telah dibutakan dan ditumpulkan. Dalam hal ini, kalangan terdekat pemerintah telah mendiamkan proses yang terjadi dan menikmati kejatuhan tersebut," kata Rezasyah kepada wartawan, Senin (5//1/2025).

Akibatnya, kata Reza, tidak ada perlawanan militer nasional Venezuela untuk mempertahankan Presiden Maduro. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi dunia internasional.

"Bagi kalangan internasional, hendaknya menjadi pelajaran bersama. Ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan selalu musuh di luar, melainkan keraguan di dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri, yang merasa dirinya telah stabil," ucapnya.

Lebih lanjut, Reza membeberkan dampak dari serangan AS ke Venezuela untuk Indonesia. Kejadian itu kemungkinan berdampak mulai dari naiknya harga BBM di dalam negeri hingga penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

"Harga minyak dunia akan menaik. Sesuai hukum permintaan dan penawaran/demand dan supply, keadaan ini akan mempengaruhi harga minyak di Indonesia. Akan berdampak pada semakin lebarnya defisit APBN. Jika pemerintah menaikkan harga BBM, maka akan berakibat terjadinya instabilitas politik," ujar Reza.

"Nilai tukar rupiah terhadap dolar diperkirakan akan mengalami penurunan sampai 17.000-18.000 ribu/dolar," tambahnya.

Selain itu, Reza menyebut dampaknya juga bisa terjadi pada pertahanan dan keamanan dalam negeri. Menurutnya, AS berpotensi mengulangi kebijakan menyerang secara mendadak ke Kawasan Indo-Pasifik terhadap negara-negara yang pandangannya di bidang ekonomi dan energi berbeda dengan AS.

"AS memiliki banyak pangkalan militer di Indo-Pasifik dan juga di Asia Tenggara. RI hendaknya menyikapi keadaan ini dengan sangat baik. Mengawasi perbatasan darat, laut, dan udara. Agar tidak diganggu oleh berbagai aksi yang mengganggu pertahanan dan keamanan nasional," imbuhnya.




(fas/imk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork