Beda Sikap Negara-negara di Amerika Latin soal Serangan AS ke Venezuela

Beda Sikap Negara-negara di Amerika Latin soal Serangan AS ke Venezuela

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Minggu, 04 Jan 2026 18:39 WIB
Beda Sikap Negara-negara di Amerika Latin soal Serangan AS ke Venezuela
Serangan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah wilayah di Venezuela. (Foto: via REUTERS/VIDEO OBTAINED BY REUTERS)
Jakarta -

Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuai ragam sikap politik dari negara-negara di Amerika Latin. Sejumlah negara sekutu AS memuji penangkapan terhadap Maduro, sementara negara-negara lain mengecam operasi Presiden AS Donald Trump tersebut.

Dilansir NBC News, Minggu (4/1/2026), reaksi dari berbagai negara Amerika Latin terhadap serangan AS di Venezuela menunjukkan perpecahan politik di kawasan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilaporkan Associated Press, Kolombia, Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Kuba mengutuk serangan itu. Negara-negara ini juga menyerukan PBB untuk mencari solusi damai dan mengambil tindakan.

Sementara itu, Argentina, Paraguay, dan Ekuador memuji berita penangkapan Maduro. Panama menyatakan dukungan untuk oposisi politik Venezuela, yang secara luas diyakini telah memenangkan pemilihan presiden 2024 di tengah bukti yang kredibel. Guatemala menyerukan lebih banyak dialog.

ADVERTISEMENT

Sementara, Presiden El Salvador Nayib Bukele, sekutu Trump yang berulang kali mengkritik Maduro, menanggapi kritik Senator Demokrat AS Chris Van Hollen terhadap tindakan pemerintahan Trump. Bukele menyebut Hollen hanya ingin membela preman.

"Jadi Anda hanya ingin membela para preman," katanya melalui akun X resminya seraya mengunggah ulang cuitan Hollen.

Operasi Serangan AS ke Venezuela

Diketahui, serangan besar-besaran AS ke sejumlah titik di Venezuela diikuti penangkapan Nicolas Maduro merupakan puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Trump terhadap Venezuela. Operasi ini pun menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional.

Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari. Penangkapan diawali dengan serangan oleh pasukan AS. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah itu, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS.

Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.

Sejak September 2025, pasukan AS telah membunuh lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik. Para ahli hukum mengatakan aksi AS itu kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.

Lihat juga Video 'Warga di Berbagai Negara Rayakan Penangkapan Maduro oleh AS':

Halaman 2 dari 2
(fca/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini