Saksi Ini Bilang Hendra dkk Amankan CCTV Diperbolehkan, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Saksi Ini Bilang Hendra dkk Amankan CCTV Diperbolehkan, Ini Alasannya

Wilda Hayatun Nufus, Wildan Noviansah - detikNews
Kamis, 01 Des 2022 14:38 WIB
Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria menjalani sidang kasus perintangan penyidikan pembunuhan Brigadir Yosua di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2022). Mereka kompak mengenakan kemeja hitam.
Brigjen Hendra Kurniawan (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Saksi dari Polri bernama Agus Saripul Hidayat menyebutkan tindakan Hendra Kurniawan dkk yang mengamankan CCTV di lokasi diperbolehkan. Apa alasannya?

Agus Saripul merupakan anggota Timsus Agus Saripul Hidayat. Dia bersaksi dalam sidang lanjutan kasus obstruction of justice dalam perkara pembunuhan Brigadir N Yosua Hutabarat di PN Jaksel, Kamis (1/12/2022).

Awalnya, Agus mengatakan ada kejanggalan dalam penanganan kasus tersebut. Kemudian, timsus mengkaji kejanggalan tersebut.

"Dari hasil Timsus tersebut, saksi melakukan pengawasan memantau, yang saksi temukan terkait terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria itu seperti apa?," tanya Hakim.

"Yang setelah kami teliti, dari mulai proses berjalan tanggal 8 Juli kejadian, kami bersama rekan-rekan kami mempelajari masing-masing alibinya, personelnya, kembali kami punya persepsi terjadi keganjilan, kami mendeteksi memeriksa siapa atau apa pun yang tidak semestinya ada atau berada menangani dalam TKP tersebut," jawab Agus.

Jaksa kemudian bertanya terkait tindakan Hendra Kurniawan dkk di lokasi yang mengamankan CCTV di lokasi apakah diperbolehkan atau tidak. Sebab, saat peristiwa penembakan terjadi, kasus tersebut sudah ditangani oleh penyidik Polres Metro Jakarta Selatan.

Agus mengatakan hal tersebut boleh dilakukan karena dalam perkara tersebut pelaku dan korban sebagai anggota Polri. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2016 dan Perkadiv Propam Nomor 1 Tahun 2015.

"Saat itu kami tetap membuat prasa tak bersalah. Tapi kami urut Timsus ini, kejadian tersebut pertama tanggal 8, kemudian sudah ada terbit yang tangani penyidik Polres Jakarta Selatan meskipun kondisi penyidik yang masih belum optimal. Kemudian tiba-tiba ada surat perintah menurut kami itu tidak semestinya untuk dilakukan," kara Agus.

"Kalau awal-awal, kembali lagi pada tugas dan fungsinya dia harus mengamankan, tindakan awal boleh. Siapa pun yang menangani karena ini yang melibatkan anggota pelaku dan anggota Polri sebagai korban," imbuhnya.

Tindakan awal yang dimaksud Agus ini adalah karena kejadian penembakan itu diketahui terjadi karena polisi tembak polisi. Karena kasus melibatkan anggota polisi jadi Propam Polri boleh terlibat.

Agus menambahkan, setelah itu batang bukti tersebut harus diserahkan ke penyidik yang menangani kasus kematian Brigadir J.

"Setelah diamankan, baru dilimpahkan kembali kepada fungsi yang memang seharusnya menangani. Namanya barang bukti ya ke penyidik," katanya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT