Mediasi di DPRD, Pihak Ibu Bawa Bayi ke Rutan Pandeglang dan Pelapor Berdamai

ADVERTISEMENT

Mediasi di DPRD, Pihak Ibu Bawa Bayi ke Rutan Pandeglang dan Pelapor Berdamai

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 01 Des 2022 13:46 WIB
Para pihak perwakilan bidan Nunung dan dokter Aisiyah didampingi Komisi V sepakat berdamai (Foto: Bahtiar Rifai/Detikcom)
Para pihak perwakilan bidan Nunung dan dokter Aisiyah didampingi Komisi V sepakat berdamai. (Bahtiar Rifai/detikcom)
Serang -

Pihak keluarga terdakwa ibu bawa anak bayi di Rutan Kelas II-B Pandeglang dan pelapor atas perkara yang jadi perhatian publik ini sepakat berdamai. Kedua belah pihak saling memaafkan dimediasi oleh DPRD Banten.

Dalam mediasi yang dilakukan di Komisi V DPRD Banten, keluarga terdakwa bidan Nunung Nurhayati, Dian Rahadian menyampaikan permohonan maaf ke pihak dokter Siti Aisiyah atas pemalsuan surat. Permintaan maaf ini katanya disampaikan secara tulus mewakili istrinya yang saat ini menjalani proses hukum.

"Saya suami dari bidan Nunung menyampaikan ke dokter Aisiyah, alhamdulillah saat ini saya bisa menyampaikan sebagai suami pun sama, tulus minta maaf sudah merasa salah, benar-benar minta maaf dengan proses perjalanan dari awal sampai akhir ini bahwa nggak menyangka seperti ini," kata Dian di Serang, Kamis (1/12/2022).

Dia juga meminta dokter Aisiyah membuka hatinya untuk memaafkan istrinya. Dia menyampaikan mengenai kondisi bayinya yang sekarang sakit karena flu dan masih adaptasi dengan lingkungan setelah sempat tinggal di rutan.

"Saya minta maaf ke dokter Aisiyah dari istri saya Nunung dengan kondisi saya seperti ini anak juga sakit batuk pilek adaptasi lingkungan," katanya.

Sementara itu, dokter Aisiyah mengatakan dia memaafkan perbuatan yang telah dilakukan Nunung. Dalam kesempatan itu, dia mengatakan kejadian mengenai pemalsuan surat ini jadi pelajaran bagi tenaga kesehatan.

"Yang jadi persoalan bukan masalah individu tapi dari kasus ini sama-sama belajar kita sesama nakes dapat bekerja sama dengan baik dan saling menghormati atas wewenang masing-masing, dan bila ada pertanyaan berikutnya saya melimpahkan ke kuasa hukum saya," katanya.

Kedua belah pihak melalui tiap kuasa hukum lalu membuat surat perjanjian yang isinya saling memaafkan. Para pihak juga berjanji tidak mempermasalahkan hal ini di kemudian hari.

"Demikian surat perdamaian ini kami buat dalam keadaan sadar dan tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun dan dapat menjadi pertimbangan hakim yang memeriksa perkara agar memutus perkara ini dengan putusan yang seadil-adilnya," demikian bunyi perjanjian yang dibacakan.

Di tempat, Ketua Komisi V Yeremia Mendrofa mengatakan mediasi kesepakatan damai ini disaksikan oleh Dinas Kesehatan dan IDI Banten. Kedua belah pihak sepakat berdamai dan ini semoga menjadi pertimbangan hakim.

"Kita bersyukur telah terjadi proses damai sehingga ke depan silaturahmi kembali pulih, di pengadilan kita tidak mencampuri lebih lanjut tapi kita berharap jadi pertimbangan hakim," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, bidan Nunung jadi terdakwa pemalsuan surat pada 2021 dengan Nomor Perkara 241/Pid.B/2022/PN Pandeglang. Bidan ini sempat membawa bayinya ke Rutan Pandeglang selama proses persidangan.

Pada lanjutan sidang di Selasa (29/11) kemarin, kuasa hukum terdakwa meminta permohonan penangguhan penahanan rutan. Majelis hakim yang diketuai oleh Arlyan mengabulkan permohonan terdakwa.

"Memerintahkan penuntut umum untuk mengalihkan tahanan atas terdakwa tersebut dari tahanan rutan, menjadi tahanan rumah," kata majelis.

(bri/idn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT