Putri Candrawathi Akui Tanda Tangani Berita Acara Interogasi

ADVERTISEMENT

Putri Candrawathi Akui Tanda Tangani Berita Acara Interogasi

Wildan Noviansah - detikNews
Selasa, 29 Nov 2022 17:13 WIB
Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi menjalani sidang di PN Jakarta Selatan. Ada momen Ferdy Sambo memeluk Putri Candrawathi di ruang sidang.
Putri Candrawathi (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Putri Candrawathi angkat bicara soal pernyataan mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit, terkait berita acara interogasi (BAI). Putri mengatakan dirinya ikut menandatangani BAI tersebut.

"Sedikit tanggapan untuk bapak Ridwan Soplanit bahwa saya menandatangani BAI pada 11 Juli. Untuk yang lain saya tidak mengetahui," kata Putri saat menanggapi kesaksian Ridwan Soplanit di PN Jaksel, Selasa (29/11/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Putri juga meminta maaf kepada seluruh jajaran Polri, termasuk saksi yang hadir, usai terseret dalam rekayasa kasus pembunuhan Brigadir J. Dia menyadari hal tersebut menghambat mereka dalam berkarir di Polri.

"Dan sedikit saya menyampaikan kepada anggota Polri, saya dan keluarga memohon maaf kepada bapak-bapak anggota Polri yang hadir hari ini sebagai saksi. Mereka harus menghadapi semua ini karena harus mendapatkan hambatan dalam berkarir," ujarnya.

Sebelumnya, mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit, mengatakan berita acara interogasi (BAI) Putri Candrawathi dalam kasus penembakan Brigadir N Yosua Hutabarat dibuat dari catatan yang diserahkan mantan Wakaden B Biro Paminal Propam Polri, AKBP Arif Rahman Arifin. Hakim mempertanyakan apakah BAI itu wajar seperti itu atau tidak.

Ridwan mengatakan BAI terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir Yosua itu dibuat dari lembaran yang diberikan AKBP Arif Rahman. Jadi, Putri Candrawathi tidak diinterogasi langsung oleh penyidik, melainkan dia menuangkan kesaksiannya di sebuah kertas dan ditulis tangan. Ridwan mengatakan Putri tidak diperiksa langsung dengan alasan trauma.

Ridwan menyebut lembaran kesaksian Putri itu dibawa oleh AKBP Arif Rahman. Arif saat itu disebut langsung mendatangi Polres Jakarta Selatan.

"Saya panggil Kanit PPA saya soal pelecehan, penyidik saya, untuk berbicara terkait kronologi yang dibawa oleh AKBP Arif. Saya lapor ke Kapolres, ada AKBP Arif untuk buat BAI karena PC saat itu belum bisa ke Polres karena alasannya trauma, akhirnya didatangi AKBP Arif terkait lembar itu," kata Ridwan saat bersaksi di PN Jaksel.

Hakim ketua Wahyu Imam Santoso lantas bertanya apakah Putri tidak dihadirkan. Hakim Wahyu juga bertanya apakah itu lazim.

"Tanpa kehadiran PC? Wajar Nggak? Itu tidak lazim tidak sesuai SOP kamu nolak?" tanya Hakim.

"Tidak wajar, Yang Mulia. Saya keberatan, saya sampaikan bahwa saat itu kronologi ini kita sampaikan bentuk pertanyaan apakah mewakili semua, tapi saat itu saya langsung lapor ke Kapolres saya untuk datang ke tempat itu (TKP)," jawab Ridwan.

Meskipun dinilai tidak wajar, Ridwan mengatakan BAI tersebut tetap dibuat karena AKBP Arif mengatakan itu adalah perintah langsung dari Ferdy Sambo. Ridwan menuturkan perintah tersebut tidak bisa ditolak karena Ferdy Sambo saat itu masih menjabat Kadiv Propam.

"Saat itu Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam. Kami berhadapan dengan Kadiv Propam, kita melihat di TKP perangkat Propam sudah ada di permasalahan ini sehingga memang yang kita bayangkan kita dalam pengawasan," ucapnya.

(zap/zap)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT