Kisah Aira Kehilangan Ayah di Konflik Sampit, Lawan Trauma Masuk Sepolwan

ADVERTISEMENT

Kisah Aira Kehilangan Ayah di Konflik Sampit, Lawan Trauma Masuk Sepolwan

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 28 Nov 2022 12:48 WIB
Jakarta -

Mata Fahrisyia Rayana A berkaca-kaca saat mengungkapkan harapan kedua orang tuanya dapat hadir saat dirinya dilantik sebagai polisi wanita berpangkat brigadir dua. Dia hendak membuktikan kepada kedua orang tuanya kalau dia merupakan anak yang berbakti.

"Ingin memberi tahu bahwa, 'ini lho Ma, anaknya Mama sudah bisa jadi Polwan', gitu. Ingin Mama dan Papa ada di sini, dampingi saya," kata Fahrisyia sambil menyeka air mata yang menetes di pipi.

Aira, panggilan akrabnya, menyampaikan hal itu saat berbincang dengan tim Sosok, Minggu (27/11/2022) di Sekolah Polwan (Sepolwan), Ciputat, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel).

Siswa Sepolwan Angkatan 52 ini mengaku awalnya bercita-cita menjadi pramugari. Namun keluarganya sangat menginginkan Aira menjadi seorang polwan.

"Awalnya itu ingin jadi pramugari. Sudah ikut tes pramugari, tapi gagal. Kebetulan dulu papa anggota Polri, jadi keluarga ingin saya melanjutkan perjuangan papa yang belum tunai," jelas dia.

Ayah Aira adalah seorang anggota Korps Brimob Polri. Aira yang masih dalam kandungan harus kehilangan sosok ayahnya.

Ayah Aira gugur saat konflik kelompok warga di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), 21 tahun silam. Aira kecil tumbuh dalam asuhan ibunya di Aceh.

Sambil mengurus Aira, ibunya mencari nafkah dengan berdagang pakaian. Namun kini ibunya pun telah tiada.

"Papa meninggal tahun 2001. Saya masih di kandungan. Papa meninggal saat pengoperasian di Sampit, Kalimantan. Pengamanan (konflik) Sampit dan Madura," cerita Aira yang nampak berusaha menguatkan dirinya sendiri.

"Papa terkena panah di bagian leher, terus meninggal di tempat," imbuh siswa Sepolwan asal pengiriman Jawa Barat ini.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT