Membentuk Polwan yang Humanis Lewat Kurikulum Presisi

ADVERTISEMENT

Membentuk Polwan yang Humanis Lewat Kurikulum Presisi

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 27 Nov 2022 06:54 WIB
Jakarta -

Sekitar 500 siswa Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) berbaris rapi di lapangan. Satu dari mereka berdiri di depan barisan dan memberi komando sikap siap.

Pagi kemarin, Minggu (27/11/2022), mereka berkumpul mendengarkan arahan Kepala Sepolwan Kombes Ratna Setiawati. Kegiatan ini adalah salah satu ihwal rutin di Sepolwan, Ciputat, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel).

Di sini, seluruh siswa wajib menjalani kegiatan dari pagi buta hingga malam tiba. Bukan hanya kegiatan pendidikan fisik dan kognitif, mental mereka pun ditempa agar menjadi abdi negara yang benar-benar paham dan mampu menjalankan tugas di tengah masyarakat.

Selama lima bulan penuh, seluruh peserta didik harus tuntas menjalani 1.200 jam pelajaran yang disiapkan oleh Sepolwan. Mereka kini dididik dengan kurikulum yang disesuaikan dengan visi-misi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yakni Presisi (prediktif, responsibiltas, transparansi dan berkeadilan).

Ella Kurnia, salah seorang siswa, mengatakan berkegiatan sebelum matahari terbit hingga malam hari semula terasa berat. Namun sekarang, dia mengaku rutinitas di Sepolwan terasa ringan dijalani dan menbentuknya menjadi seorang yang lebih disiplin.

"Kita bangun pagi itu pukul 03.00 atau 02.30 WIB. Mandi, langsung persiapan ibadah. Setelah ibadah, lari pagi, kemudian ke dorm kembali. Makan pagi. Habis makan pagi, nanti entah itu apel, atau pun kegiatan yang lain," kata Ella kepada tim Sosok.

"Habis itu belajar, istirahat, isoma (istirahat, salat, makan), makan siang lalu belajar lagi. Malam, kegiatannya wajib belajar. Habis itu apel. Sudah, habis itu istirahat malam. Kayak gitu aja sampai lima bulan," lanjut siswa asal Kalimantan Tengah (Kalteng) ini.

Pada kesempatan terpisah, Kasepolwan Kombes Ratna menjelaskan serangkaian kegiatan siswa yang telah disusun bertujuan untuk mengubah pola pikir siswa yang semula warga sipil menjadi pelindung, pelayan dan pengayom warga sipil.

Soal kurikulum Presisi, Ratna menuturkan kurikulum ini merupakan jawaban dari tantangan zaman dan tantangan tugas kepolisian saat ini. Ratna menyebut metode belajar-mengajar dilakukan dengan edutainment, agar mudah dipahami dan harapannya mudah diimplementasikan saat siswa lulus dari Sepolwan.

"Untuk menjawab tantangan tersebut, saat ini kami mengoperasionalkan kurikulum kekinian, yaitu kurikulum Presisi. Di mana dalam kurikulum Presisi ini lebih menekankan kepada bagaimana penerapan sikap-sikap seorang calon anggota Polri agar mereka lebih humanis," terang Ratna.

"Di dalam kurikulum Presisi ini, siswa atau peserta didik diajarkan bagaimana mengenal jati diri Polri. Mengenal bahwa jati diri Polri adalah seorang yang memiliki integritas yang tinggi, memiliki loyalitas, penuh dengan kejujuran, dan itu diberikan secara gamblang, diberikan secara lebih dengan pembelajaran edutainment supaya mereka melekat," imbuh Ratna.

Kembali ke Ella, sebagai siswa, dirinya menceritakan proses pendidikan di Sepolwan tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Dia mengatakan kegiatan di Sepolwan tak mengerikan, bahkan sebaliknya, menyenangkan.

"Dulu saya kira pendidikan di sini itu bakal menakutkan. Saya sempat kepikiran, 'Ah nggak mau ah masuk Polwan karena takut,' gitu kan. Karena dengar dari orang-orang di luar sana kalau pendidikan di Polwan itu menakutkan. Tapi setelah saya di sini, tidak menakutkan sama sekali. Malah, menyenangkan. Gadik (tenaga pendidik) dan pengasuh-pengasuhnya juga baik," ungkap Ella.

Ella mengaku bersyukur dapat lolos seleksi dan menjadi siswa Sepolwan. Perjuangannya untuk sampai di titik ini, diakuinya tak mudah. Sebelumnya dia empat kali tak lolos seleksi rekrutmen Sepolwan.

(vys/aud)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT