Wujudkan Industri LTJ, Arbi Leo CEO PT Bersahaja Hadir di B20 Bali

ADVERTISEMENT

Wujudkan Industri LTJ, Arbi Leo CEO PT Bersahaja Hadir di B20 Bali

Erika Dyah - detikNews
Jumat, 11 Nov 2022 18:39 WIB
Arbi Leo CEO PT Bersahaja
Foto: Fathur Dion
Jakarta -

Pemerintah Indonesia menggelar forum Indonesia Net Zero Summit bertema 'Industrial Decarbonization at All Cost' sebagai side event B20 di Nusa Dua, Bali. Kegiatan ini turut diikuti oleh PT Bersahaja yang juga menerapkan energi baru terbarukan (EBT).

Diketahui, PT Bersahaja saat ini sudah melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ), Fosfat, Thorium, dan Uranium. Owner PT Bersahaja Arbi Leo mengatakan, PKS dalam mewujudkan industri teknologi Rare Earth Element (RRE), Thorium, dan Uranium bersama dengan KemenkoMarves dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini bertujuan memajukan Indonesia dengan energi baru terbarukan tersebut.

"Kita hadir dalam kegiatan ini dalam rangka menjaga semangat dan komitmen kita untuk ikut serta memajukan Tanah Air dalam mewujudkan energi baru terbarukan," kata Arbi dalam keterangan tertulis, Jumat (11/11/2022).

Ia menambahkan saat ini PT Bersahaja sedang melakukan pembangunan smelter Titanium pertama di Indonesia dengan menggunakan sebagian energi baru terbarukan di pabriknya.

"Semakin semangat dalam berkarya dan akan terus berinvestasi mewujudkan industri-industri inovatif di Indonesia, salah satunya pembangunan smelter Titanium pertama di Indonesia yang sedang dibangun di Provinsi Bangka Belitung dan diharapkan dapat segera terselesaikan," jelas Arbi.

Diketahui, penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah di Indonesia terus didorong demi mewujudkan Net Zero Emission 2060. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (MenkoMarves), Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan dunia usaha di Indonesia turut didorong untuk mulai menerapkan energi baru terbarukan. Terutama dalam hal investasi dengan menerapkan empat syarat dari pemerintah.

"Pertama, tidak boleh mengganggu pertumbuhan ekonomi kami yang bagus mengenai energi, kedua, harus affordable teknologi kalau harganya mahal kami tidak bisa terima, ketiga, teknologi yang sudah ada tahun ini atau tahun depan kalau sepuluh tahun lagi pertumbuhan ekonomi kami pasti terganggu, terakhir, interest harus dari negara maju, kalau negara berkembang buat apa tidak ada nilainya untuk kita," terang Luhut.

Menurut Luhut, pemerintah sangat memperhatikan perubahan iklim yang terjadi saat ini. Sebab jika dibiarkan terus-menerus, ke depannya Indonesia akan sangat menerima dampaknya.

"Kami sangat peduli, tidak perlu diajarkan mengenai perubahan iklim. Saya tidak ingin cucu kita jadi rusak karena polusi yang saya buat saat ini," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan investasi yang didorong untuk hilirisasi adalah teknologi yang ramah lingkungan dan kekinian dan tidak menerima yang menggunakan teknologi jadul.

"Pemerintah dan dunia usaha harus sejalan, baru kita bisa menuju Indonesia emas yang paten. Kami Indonesia bebas karena mengenal ekonomi bebas aktif, selama mengikuti perundang-undangan dan aturan yang berlaku," kata Bahlil.

Ia menegaskan saat ini Indonesia sudah menghentikan ekspor raw material nikel. Sebab dalam prosesnya tidak berdasarkan lingkungan yang baik dan banyak ditentang negara lain sampai Uni Eropa.

"Salah satu alasan kami tidak ekspor raw material, karena proses yang harus dilakukan berdasarkan lingkungan yang baik. Hilirisasi kita pakai energi baru terbarukan baru kami ekspor kepada dunia, malahan kami dibawa ke World Trade Organization (WTO)," pungkasnya.

Simak Video 'Yang Akan Dibicarakan Elon Musk hingga Anne Hathaway di B20 Summit':

[Gambas:Video 20detik]



(fhs/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT