Jejak Dokter Soeharto di BNI 1946, UGM, hingga Sarinah

ADVERTISEMENT

Jejak Dokter Soeharto di BNI 1946, UGM, hingga Sarinah

Sudrajat - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 19:25 WIB
Soeharto, dokter pribadi Bung Karno ini punya andil dalam pendirian BNI 46, UGM, dan  Sarinah
Soeharto Sastrosoeyoso, dokter pribadi Bung Karno, punya andil dalam pendirian BNI 46, UGM, dan Sarinah (Kolase Foto: Fuad Hasim)
Jakarta -

Kiprah dokter Soeharto Sastrosoeyoso yang baru saja dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional ternyata tak cuma sebagai dokter pribadi Presiden Sukarno (Bung Karno). Dia juga ikut terlibat dalam berbagai perjuangan Republik Indonesia sebelum maupun sesudah merdeka.

Pada awal Mei 1946, misalnya, Wakil Presiden Mohammad Hatta menugaskannya untuk mengurusi keuangan Kementerian Pertahanan. Atas kiprahnya itu, Jenderal AH Nasution memberinya pangkat Kapten. Sebagai Ketua Front Pembebasan Irian Barat, Nasution mengangkat Soeharto sebagai stafnya dengan pangkat Kolonel.

Oleh Presiden Sukarno dan Bung Hatta, dokter Soeharto juga dipercaya untuk mengurusi pengumpulan dana bantuan bagi bagi operasional pemerintahan yang disebut Fond Kemerdekaan Indonesia (FKI). Sebanyak Rp 350 ribu dari dana yang terhimpun, oleh Soeharto diserahkan kepada Bank Negara Indonesia (BNI 46) sebagai modal pertama. Kelak, pada 5 Juli 1976, manajemen BNI 46 memberikan piagam penghargaan kepada Soeharto atas jasanya tersebut.

Sebagai Wakil Ketua FKI, dokter Soeharto juga terlibat dalam upaya pendirian Universitas Gajah Mada (UGM). Universitas tersebut merupakan yang pertama dimiliki RI.

"Para cerdik pandai berpendapat, pendirian perguruan tinggi atau universitas sangat berguna untuk mendidik para calon sarjana yang akan menjadi tulang punggun pembangunan," tulis dokter Soeharto dalam memoarnya, 'Dr R. Soeharto, Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal'.

Dokter Soeharto menerima kunjungan Jenderal AH Nasution di Gedung Pola, Jakarta. Nasution pernah memberinya pangkat Kapten Kehormatan atas jabatan sebagai Ketua AMP. Sebagai Ketua Front Pembebasan Irian Barat, Nasution memberinya pangkat Kolonel.Dokter Soeharto menerima kunjungan Jenderal AH Nasution di Gedung Pola, Jakarta. Nasution pernah memberinya pangkat Kapten Kehormatan. Sebagai Ketua Front Pembebasan Irian Barat, Nasution memberinya pangkat Kolonel. Foto: Repro buku: R. Soeharto, Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal

Di Jakarta, mengutip penjelasan Mr Sunario dalam rapat 24 Januari 1946 di Yogyakarta, NICA telah mendirikan Universiteit van Indonesia. "Karena itu, RI tidak boleh ketinggalan," ujar Sunario.

Akhirnya pada 3 Mei 1946 dibentuk Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada, yang kelak menjadi UGM, di Gedung KNI Marlioboro. Balai itu memiliki dua fakultas, yakni Hukum dan Sastra. Para tokoh yang terlibat antara lain Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ki Hajar Dewantara, Prof Rooseno, Mr Budiarto, dan Mr Sunario.

"Sejak itu saya terlibat dalam penentuan anggaran belanja yang sangat minim, tapi harus dapat menutup segala kebutuhan. Mencari dana pun menjadi salah satu pekerjaan saya di Balai tersebut," tulis Soeharto.

Di pemerintahan, Bung Karno pernah menjadikan dokter Soeharto sebagai Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, hingga Kepala Bappenas. Ketika Bung Karno menginginkan berdirinya pusat perbelanjaan megah yang diberi nama Sarinah, dokter Soeharto yang ditunjuk sebagai Direktur Utama. Pembangunan Sarinah mulai dikerjakan Agustus 1962 dan diresmikan 15 Agustus 1966.

Sejumlah kalangan mengkritik pembangunan Sarinah dan menyebutnya sebagai proyek mercu suar. "Jangan terlalu menghiraukan kecaman itu," kata Bung Karno menentramkan Soeharto. Sarinah, lanjutnya, harus menjadi pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat.

"Hingga saat ini Sarinah terus menjunjung tinggi komitmennya untuk mendukung kemajuan produk-produk usaha kecil, menengah, dan koperasi," tulis Manajemen Sarinah seperti dikutip dari Sarinah.co.id.

Tak heran bila dengan segala kiprahnya itu Presiden Joko Widodo pada Senin, 7 November 2022, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dokter Soeharto. Turut dianugerah gelar yang sama tempat tokohlainnya, yakni KGPAA Paku Alam VIII, dr Raden Rubini Natawisastra, Salahuddin bin Talibuddin, dan K.H. Ahmad Sanusi.

Simak juga 'Mengenal 5 Sosok yang Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional':

[Gambas:Video 20detik]



(jat/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT