Dokter Soeharto Pilih Layani Orang Miskin ketimbang Belanda

ADVERTISEMENT

Dokter Soeharto Pilih Layani Orang Miskin ketimbang Belanda

Sudrajat - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 12:37 WIB
Bung Karno dan Soeharto yang menjadi dokter pribadi sejak 1942 - 1966
Bung Karno dan dokter Soeharto (Kolase Foto: Mindra Purnomo)
Jakarta -

DR dr Haji Raden (HR) Soeharto Sastrosoeyoso, yang baru saja dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional, benar-benar berjiwa mulia. Sebelum menjadi dokter pribadi Presiden Sukarno (Bung Karno), dia membuka klinik bersalin di rumahnya, Jalan Kramat Raya 128.

Meskipun diiming-imingi gaji besar, dokter Soeharto menolak bekerja sebagai dokter di instansi pemerintah, baik semasa dikuasai Belanda maupun Jepang.

NM Sher, warga keturunan Pakistan, yang telah mengenal HR Soeharto sejak 1937, pernah mendapat penjelasan langsung dari sahabatnya itu. "Ilmu yang saya peroleh bukan untuk mencari kekayaan, tapi untuk menolong sesama manusia, terutama orang-orang miskin dan anak-anak yatim yang tidak mampu. Terlebih lagi, saya tidak akan bekerja pada pemerintah yang menjajah bangsa saya," tulis Tabib Sher dalam memoar 'Dr R. Soeharto, Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal'.

HR Soeharto Sastrosoeyoso meraih gelar dokter dari Fakultas Medica Bataviensis (Sekolah Tinggi Kedokteran) pada 25 Mei 1935. Dua tahun kemudian dia meraih gelar medicinae doctorem (doktor) dari fakultas yang sama, tepatnya pada 14 April 1937. Gelar itu merupakan yang pertama kali diberikan kepada alumnusnya.

Dokter Soeharto lahir di Tegalgondo, Solo, 24 Desember 1908. Dia anak kedua R Sastrosoeyoso dan Hermina. Sejak meraih gelar doktor bidang medis pada 1937, Soeharto membuka klinik bersalin di paviliun rumahnya. Dia menjadi dokter pribadi Sukarno (Bung Karno) dan Bung Hatta sejak akhir 1942.

Meski telah mengenal nama Bung Karno sejak 1928, HR Soeharto mengaku baru berjumpa langsung pada suatu malam di bulan Juli 1942. Kala itu dia tengah menangani proses persalinan Ratna Djuwami Asmara Hadi. Soeharto baru tahu bahwa pasiennya adalah anak angkat Bung Karno bersama istrinya, Inggit Garnasih.

Pada akhir 1942, giliran Bung Karno yang menjadi pasiennya langsung. Kala itu si Bung mengeluhkan sakit di pinggang dan bawah perutnya. Si Bung mengaku keluhan di pinggang sudah dirasakan sejak masih mahasiswa di ITB. Tapi belakangan keluhan itu ditambah dengan munculnya darah di air seni.

Menurut tabib NM Sher, ahli wasir (ambeien) tanpa potong dan berpraktik di Senen, mobil yang ditumpangi Bung Karno setelah resmi menjadi Presiden pada Agustus 1945 adalah pemberian dari dokter HR Soeharto.

"Tak cuma memberikan mobil, setiap saat tenaganya diperlukan Bung Karno, dia selalu siap sedia," tulis Sher.

Ketika Dwitunggal Bung Karno-Bung Hatta beserta para pemimpin lainnya harus hijrah ke Yogyakarta, dokter HR Soeharto ikut serta. Rumahnya kemudian dikuasai oleh tentara NICA. Saat kembali dari Yogyakarta pasca-Perjanjian Roem Royen, 1949, Soeharto hanya menempati rumah sederhana di Jalan Eijkman Nomor 8 atau sekarang Jalan Kimia.

"Dokter HR Soeharto tak perlu diragukan lagi sebagai seorang patriot sejati. Beliau tidak sudi menjadi budak di bawah penjajah, dan amat mencintai kemerdekaan," tulis Sher.

Selain sebagai dokter kepresidenan, Soeharto pernah menjabat Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, hingga Kepala Bappenas di kabinet Sukarno.

Atas segala pengabdiannya itu, Presiden Jokowi pada Senin, 7 November 2022) menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk dokter Soeharto bersama empat tokoh lainnya. Keempatnya adalah KGPAA Paku Alam VIII, dr Raden Rubini Natawisastra, Salahuddin bin Talibuddin, dan KH Ahmad Sanusi.

(rdp/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT