Kesaksian dr Soeharto, Bung Karno Mau Operasi Ginjal Usai Irian Barat Bebas

ADVERTISEMENT

Kesaksian dr Soeharto, Bung Karno Mau Operasi Ginjal Usai Irian Barat Bebas

Sudrajat - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 14:00 WIB
Soekarno dan dr Soeharto (dok. detikcom)
Soekarno dan dr Soeharto (dok. detikcom)
Jakarta -

Presiden Sukarno (Bung Karno) mengaku dirinya mengidap malaria dan menderita sakit ginjal sejak muda. Bila penyakit itu kambuh, dia terpaksa meringkuk di kamar sambil merasakan sakit yang tak terperikan.

"Terkadang aku berkeringat dingin dan bahkan sedikit gemetar di atas podium. Beberapa kali terjadi, begitu selesai berpidato aku harus berjalan tertatih-tatih masuk mobil," tuturnya dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' karya Cindy Adams dikutip detikcom, Kamis (10/11/2022).

Toh begitu, menurut kesaksian dokter Soeharto Sastrosoeyoso, Bung Karno yang gila kerja lebih sering mengabaikan kondisi kesehatan tubuhnya. Dia juga kerap abai terhadap berbagai makanan yang sepatutnya tidak dikonsumsi oleh orang yang mengalami gangguan ginjal.

Pemeriksaan intensif terhadap kondisi kesehatan Bung Karno baru bisa dilakukan pada 7 Januari 1959. Diagnosis tim dokter, kata Soeharto, menyebutkan ada kelainan pada buah pinggang bagian kanan. "Dua hari kemudian, tim dokter merekomendasikan agar Bung Karno menjalani pengobatan di Rumah Sakit Universitas Lund, Swedia," tulis Soeharto dalam memoarnya, 'Dr R. Soeharto, Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal'.

Dia menjadi dokter pribadi Bung Karno sejak 1942. Lelaki kelahiran Tegalgondo, Solo, 24 Desember 1908, itu meraih gelar doktor bidang medis pada 1937. Soeharto membuka klinik bersalin di paviliun rumahnya.

Sebagai dokter pribadi, Soeharto Sastrosoeyoso tak cuma mengurusi soal kesehatan Bung Karno. Kesehatan para istri si Bung dan anak-anaknya pun kemudian menjadi tanggung jawabnya hingga 1966. Selain ajudan, Soeharto turut mendampingi ke mana pun Bung Karno pergi, tak kecuali lawatan ke luar negeri.

Prihatin atas kondisi kesehatan Bung Karno, pada 5 Oktober 1961 dokter Soeharto akhirnya memberanikan diri menulis surat untuk mengingatkan tentang perlunya memeriksakan kesehatan secara intensif. Kali ini Bung Karno setuju. Pemeriksaan dilakukan di Wina, Austria, oleh tim dokter yang dipimpin Prof Dr Fellinger dari Universitas Kedokteran Wina.

Hasilnya, kondisi ginjal Bung Karno diketahui sudah benar-benar rapuh. Karena ginjal kiri si Bung sudah tak berfungsi, Fellinger menyarankan ginjal tersebut segera dibuang agar tidak merembet ke organ vital lain. Tapi Bung Karno menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan.

"Nanti saja jika Irian Barat sudah kita bebaskan," jawab Bung Karno ketika Soeharto ikut menasihati terkait kondisi ginjalnya tersebut.

Selain sebagai dokter kepresidenan, Soeharto pernah menjabat Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, hingga Kepala Bappenas di Kabinet Sukarno.

Atas segala pengabdiannya itu, Presiden Jokowi pada Senin, 7 November 2022, menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk dokter Soeharto Sastrosoeyoso bersama empat tokoh lainnya. Keempatnya adalah KGPAA Paku Alam VIII, dr Raden Rubini Natawisastra, Salahuddin bin Talibuddin, dan KH Ahmad Sanusi.

Sebelum menerima gelar Pahlawan Nasional, sejak 27 Mei 2022 Pemerintah Kabupaten Klaten mengabadikan Soeharto menjadi nama jalan. Tepatnya dari gapura Jimbung hingga Rawa Jombor, Klaten. Lokasi itu dekat dengan Jalan Ir Soekarno dari terminal sampai arah Wedi. "Didekatkan dengan Jalan Ir Soekarno karena Pak R. Soeharto itu dokter pribadi Bung Karno," kata Sekdes Jimbung, Slamet kepada detikJateng, 14 Agustus 2022.

(jat/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT