Dokter Soeharto Ungkap Dua Penyakit Utama Bung Karno

ADVERTISEMENT

Dokter Soeharto Ungkap Dua Penyakit Utama Bung Karno

Sudrajat - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 10:29 WIB
Dr Soeharto berdoa bersama Presiden Sukarno
Bung Karno dan dokter Soeharto tengah berdoa (Foto: Repro buku: R. Soeharto Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal)
Jakarta -

Awal Agustus 1965 di serambi belakang Istana Merdeka. Pagi itu Presiden Sukarno (Bung Karno) bercakap-cakap dengan sejumlah menteri. Tak berapa lama berselang, Bung Karno merasa pusing. Duduknya tak lagi tegak, keseimbangan tubuhnya goyang, kesadarannya mengabur.

"Sebagai Ketua Tim Dokter Presiden, saya memanggil para staf. Hasil diagnosis, apa yang dialami Bung Karno akibat spasmus, mengejang dan menyempitnya pembuluh darah di bagian otak untuk sementara, tapi bukan pendarahan otak," tulis DR dr Soeharto dalam memoarnya, 'Dr R. Soeharto, Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal'.

Pada 7 November 2022, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dokter Soeharto yang lahir di Tegalgondo-Solo, 24 Desember 1908. Soeharto anak kedua dari R. Sastrosuyoso dan Hermina. Sejak meraih gelar doktor bidang medis pada 1937, Soeharto membuka klinik bersalin di paviliun rumahnya.

Haji Raden Soeharto Sastrosuyoso, begitu nama lengkapnya, meraih gelar dokter dari Fakultas Medica Bataviensis (Sekolah Tinggi Kedokteran) pada 25 Mei 1935. Dua tahun kemudian dia meraih gelar Medicinae Doctorem (Doktor) dari fakultas yang sama, tepatnya pada 14 April 1937. Gelar itu merupakan yang pertama kali diberikan kepada alumnusnya.

Dia pertama kali menangani kesehatan Bung Karno pada akhir 1942. Kala itu Bung Karno datang ke kliniknya dengan keluhan nyeri di bagian pinggang. Juga mengaku suka mengeluarkan darah saat buang air kecil. Sejak itu lah, Soeharto dipercaya menjadi dokter pribadi Bung Karno.

Saat melawat ke Flores pada pertengahan 1950-an, dokter Soeharto pernah melihat Bung Karno terpaksa merangkak keluar kamar tidur untuk buang air kecil. Si Bung merintih kesakitan karena ada beberapa batu sebesar kacang ijo yang turut keluar saat buang air kecil. "Peristiwa ini yang pertama kali saya saksikan," tulis Soeharto.

Bung Karno pribadi mengakui selain mengidap malaria juga menderita sakit ginjal.

"Sering aku harus meringkuk di kamar merasakan sakit yang tak terperikan. Terkadang aku berkeringat dingin, dan bahkan aku sedikit gemetar di atas podium. Beberapa kali terjadi, begitu selesai berpidato aku harus berjalan tertatih-tatih masuk mobil," tuturnya dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' karya Cindy Adams.

Beberapa jam sebelum membacakan teks proklamasi, Bung Karno juga mendapat perawatan dokter Soeharto. Pada Jumat pagi, 17 Agustus 1945 itu, kondisi tubuh si Bung panas-demam. Ia segera menyuntikan Chinine-urethan intramusculair. Juga mempersilahkan si Bung minum broom chinine.

Obat tersebut untuk meredakan demam yang kerap menyerang Bung Karno bila terlalu lelah dan kurang tidur. Gejala itu timbul setelah Bung Karno terkena malaria tertiana saat berkunjung ke Makassar.

Kepada Fatmawati, dia meminta agar si Bung dibiarkan kembali untuk tidur 1-2 jam. Benar saja, saat dibangunkan sekitar pukul 9.30 kondisi Bung Karno sudah membaik. Dokter Soeharto pun lantas dimintanya memanggil Bung Hatta datang untuk mendampinginya membacakan teks proklamasi.

Simak video 'Gerindra Tak Sepakat dengan PDIP Terkait Negara Harus Minta Maaf ke Bung Karno':

[Gambas:Video 20detik]



(jat/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT