Sofyan Djalil Ditanya Hakim soal 'Atensi' ke Eks Kepala BPN Jakarta

ADVERTISEMENT

Sofyan Djalil Ditanya Hakim soal 'Atensi' ke Eks Kepala BPN Jakarta

Dwi Rahmawati - detikNews
Jumat, 04 Nov 2022 18:42 WIB
Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil (Dwi Rahmawati/detikcom)
Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil (Dwi Rahmawati/detikcom)
Jakarta -

Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil menjadi saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) dalam persidangan kasus dugaan pemalsuan dokumen untuk pembatalan surat hak guna bangunan. Sofyan Djalil menjelaskan komunikasinya dengan terdakwa mantan Kepala BPN DKI Jakarta, Jaya.

Awalnya jaksa bertanya kepada Sofyan apakah pernah menerima surat permohonan dari Abdul Halim terkait pembatalan sertifikat milik PT Salve Veritate. Sofyan membenarkan pertanyaan itu.

"Pernah, jadi (ada) orang tidak menjelaskan siapa namanya (kirim melalui WhatsApp), tapi surat yang dikirimkan ditandatangani atau dibuat oleh Hendra SH dari kantor Hendra SH and Partner," papar Sofyan dalam persidangan di PN Jakpus, Jumat (4/11/2022).

"Nah, surat itu kebiasaan saya, karena dalam rangka mereformasi BPN, nomor saya semua orang tahu, dan kebiasaan saya setiap ada komplain saya teruskan," tambahnya.

Menurutnya, surat tersebut diteruskan kepada Jaya, yang saat itu masih menjabat Kepala BPN DKI Jakarta. Dia ingin pemimpin di bawahnya memberikan atensi.

"Untuk memberi atensi, jadi surat saya forward kepada Pak Jaya. 'Ada orang minta atensi, tolong dicek bagaimana duduk permasalahannya. Terima kasih'. Jawab kanwil 'siap, Pak Menteri, segera kami cek bagaimana posisinya dan tindak lanjuti'," kata Sofyan menirukan percakapan melalui WhatsApp (WA).

Dia mengatakan percakapan terkait permasalahan pembatalan sertifikat milik PT Salve Veritate berakhir di sana. Ia baru mengetahui ada permasalahan setelah beberapa bulan PT Salve Veritate mengirimkan komplain.

"Tidak ada sama sekali (percakapan tindak lanjut laporan setelahnya). Saya baru tahu ada masalah itu setelah kemudian lawyer-nya atau pihak yang dibatalkan itu komplain," katanya.

Dia mengatakan Itjen Kementerian ATR ikut mendalami hal tersebut dan ditemukan masalah.

"Kemudian, Irjen melakukan penelitian, baru tahu ada masalah itu. Mungkin sekitar 6 bulan atau lebih dari itu, baru tahu, kemudian baru kita minta Irjen melakukan penelitian," ucapnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan juga 'FKMTI Berharap Hadi Tjahjanto Berantas Mafia Tanah & 'Bekingannya'':

[Gambas:Video 20detik]






ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT