Dugaan di Balik Tak Terekamnya Suara Pilot Sriwijaya Air SJ182

ADVERTISEMENT

Dugaan di Balik Tak Terekamnya Suara Pilot Sriwijaya Air SJ182

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Kamis, 03 Nov 2022 22:05 WIB
Cockpit voice recorder (CVR) black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ182 akhirnya ditemukan. Penemuan CVR ini dikonfirmasi oleh Kementerian Perhubungan.
CVR pesawat Sriwijaya SJ182 ditemukan di Perairan Kepulauan Seribu. (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Pada 9 Januari 2021, pesawat Sriwijaya Air SJ182 jatuh di Perairan Kepulauan Seribu menelan ratusan korban jiwa. Setelah cockpit voice recorder (CVR) dan dianalisis, suara kapten pilot Sriwijaya Air SJ182 tak terekam di kokpit pesawat.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan analisis CVR Sriwijaya Air SJ182 dan diungkap kepada publik. Hasilnya terungkap suara kapten pilot Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak tidak terekam di kokpit pesawat.

"Kami kebetulan dari cockpit voice recorder (CVR) yang ditemukan kami mendapatkan bahwa suara kaptennya tidak terekam. Kami tidak bisa menentukan mengapa suara kaptennya tidak terekam. Namun, ada dugaan bahwa kaptennya tidak menggunakan headset," kata Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi V DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/11/2022).

Pada mikrofon di dalam kokpit pesawat, kata Nurcahyo, justru tertutup suara noise atau bising sehingga suara pembicaraan tak bisa direkam. Nurcahyo mengatakan hal ini mengakibatkan pihaknya tak bisa menganalisis interaksi kerja sama di kokpit.

"Kemudian ada mikrofon yang di dalam kokpit yang kami harapkan bisa merekam apa pun suara yang ada di kokpit. Namun demikian ternyata pada channel ini tertutup suara bising pada 400 hertz sehingga suara pembicaraan tidak bisa direkam," katanya.

"Jadi dari cockpit voice recorder ini kita tidak bisa menganalisa, bagaimana kerja sama di kokpit, apa saja perintahnya kapten kepada kopilot. Namun suara kopilot bisa kita dengar sepanjang waktu, suara dari pengatur lalu lintas udara juga bisa kita dengar," imbuh dia.

Rapat Komisi V DPR bersama Kemenhub hingga KNKT membahas investigasi kecelakaan Sriwijaya Air SJ182. (Firda Cynthia Anggrainy/detikcom).Rapat Komisi V DPR bersama Kemenhub hingga KNKT membahas investigasi kecelakaan Sriwijaya Air SJ182. (Firda Cynthia Anggrainy/detikcom)

Pilot Tak Sadari Perubahan di Kokpit

Selain itu, Nurcahyo mengungkapkan, selama penerbangan, terdapat perubahan di kokpit pesawat, yaitu perubahan posisi thrust lever. Namun, perubahan sikap pesawat ini disebut tidak disadari pilot.

"Kemudian selama penerbangan ini terdapat beberapa perubahan di kokpit antara lain perubahan posisi thrust lever. Kemudian perubahan penunjukan indikator mesin karena tenaga mesin kiri berkurang, sementara sebelah kanan tidak berkurang," kata Nurcahyo dalam rapat.

"Kemudian, perubahan sikap pesawat yang tadinya belok ke kanan jadi datar dan kemudian belok ke kiri, yang tergambar di electronic attitude atau EADI. Perubahan-perubahan ini tidak disadari oleh pilot," lanjutnya.

KNKT berasumsi bahwa pilot mempercayakan pada sistem otomatisasi yang ada di pesawat. Lantas, sang pilot diduga mengurangi monitornya terhadap instrumen di pesawat.

"Nah, adanya perubahan-perubahan di dalam kokpit ini tidak disadari oleh pilotnya, kami tidak tahu apa yang terjadi. Namun kemudian kami asumsikan bahwa pilotnya percaya pada sistem otomatisasi yang ada di pesawat," kata dia.

"Kalau pesawat sudah diset arah tertentu ketinggian tertentu maka autopilot akan mengatur apa yang sudah diset, dan auto-throttle akan mengatur sesuai permintaan autopilot sehingga kondisi ini mungkin telah berdampak pada pengurangan monitor terhadap instrumen dan kondisi-kondisi yang terjadi," lanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT