Pakar Sebut Produsen Obat Sirop Berbahaya Bisa Dipidana 10 Tahun Penjara

ADVERTISEMENT

Pakar Sebut Produsen Obat Sirop Berbahaya Bisa Dipidana 10 Tahun Penjara

Matius Alfons Hutajulu - detikNews
Kamis, 27 Okt 2022 06:39 WIB
Pakar Hukum Pidana Pahrur Dalimunthe
Foto: Pakar Hukum Pidana Pahrur Dalimunthe (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Kandungan etilon glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) pada obat sirop menyebabkan ratusan anak di Indonesia mengidap gagal ginjal akut. Data Kemenkes saat ini ada 255 kasus gagal ginjal akut misterius, di mana 143 di antaranya meninggal dunia. Bisa kah produsen obat sirop berbahaya dipidana?

Pakar Hukum dari Firma Hukum Dalimunthe & Tampubolon Laywers (DNT Lawyers), Pahrur Dalimunthe memastikan produsen hingga pengedar obat sirop yang memiliki kandungan berbahaya bisa dipidana. Dia awalnya membeberkan data milik Kemenkes yang mencatatkan 133 orang anak telah meninggal per 21 Oktober 2022 kemarin.

"Hingga Kamis 21 Oktober 2022 terdapat 241 pasien anak gagal ginjal dengan 133 diantaranya meninggal. Tingkat kematian akibat kasus ini mencapai 55,18%, jauh melebihi tingkat kematian (case fatality rate/CFR) COVID-19 di Indonesia yang hanya 2,58%. Bahkan menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, jumlah anak yang menderita gagal ginjal akut bisa bertambah 4-5 kali lipat," kata Dalimunthe dalam keterangannya, Kamis (27/10/2022).

Pahrur membeberkan penyebab gagal ginjal akut pada anak tersebut tampak misterius. Namun, kata dia, perlahan fakta mulai terkuak setelah BPOM menarik limat obat sirop pada 20 Oktober 2022 lalu, di mana obat-obatan sirop yang ada mengandung senyawa berbahaya.

"Penyebab yang awalnya tampak misterius, pada akhirnya terkuak ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik lima obat sirup pada 20 Oktober lalu. BPOM menyebut obat-obatan itu mengandung tiga senyawa berbahaya, yakni Etilena Glikol (EG), Dietilene Glikol (DEG), dan Etilena Glikol Butil Eter (EGBE). Cemaran etilen glikol pada sirop tersebut melebihi ambang batas yang sudah ditentukan," ucapnya.

Pahrur memaklumi ketika muncul pertanyaan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap adanya keberadaan zat berbahaya dalam obat yang beradar dan lulus verifikasi BPOM tersebut. Dia memastikan produsen obat atau perusahaan farmasi yang memproduksi dan mengedarkan obat-obat sirop tersebut dapat dipidana.

Dia mengatakan penyidik bisa menggunakan Pasal 196 UU Kesehatan untuk menjerat perusahaan farmasi yang nakal.

"Pasal ini pada intinya bisa menjerat perusahaan farmasi atau siapapun yang mengedarkan obat yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan dengan ancaman pidana penjara 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)," ujar dia.

"Jadi sepanjang terbukti obat-obatan itu sudah melebihi ambang batas yang sudah ditentukan BPOM, maka bagi produsen dan pengedar bisa dijerat dengan pasal ini," lanjut Pahrur.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Simak juga Video: 30 Daftar Obat yang Aman dari Etilen Glikol

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT