Bule Belanda-AS Rela Datang ke Desa Tumbur Demi Beli Patung Unik

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Bule Belanda-AS Rela Datang ke Desa Tumbur Demi Beli Patung Unik

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Selasa, 11 Okt 2022 15:41 WIB
Lokasi galeri penjualan Patung Desa Tumbur.
Foto: dok. Agung Pambudhy/detikcom
Kepulauan Tanimbar -

Patung buatan warga Desa Tumbur di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, sudah dikenal di kalangan kolektor lokal maupun internasional. Beberapa bule bahkan rela datang jauh-jauh dari negaranya ke Desa Tumbur untuk membeli patung tersebut.

Maria Silolone, anak sulung dari mendiang Modestus Silolone yang merupakan pematung tersohor dari Desa Tumbur, mengatakan sudah cukup banyak orang asing membeli patung buatan ayahnya. Mereka menilai patung dari Desa Tumbur sebagai barang unik dan antik, sehingga tertarik untuk mengoleksinya.

Maria menuturkan informasi mengenai patung Desa Tumbur didapatkan dari pameran serta media sosial. Ia pun membantu memasarkan patung buatan sang ayah via Facebook sehingga dapat menjangkau pembeli dari berbagai negara.

Wanita yang berprofesi sebagai bidan itu menjelaskan para pembeli mancanegara itu datang langsung ke Galeri Kapas Mele milik keluarganya di Desa Tumbur untuk membeli patung. Sebab, Maria dan keluarganya tak mau mengirim patung via kargo. Mereka khawatir patung hilang atau rusak di perjalanan.

"Jadi saya bilang datang ke Galeri Kapas Mele. Tidak bisa kirim lewat kargo karena takut barang tidak sampai, (padahal) mereka sudah bayar. Jadi kita bertanggung jawab. Jadi kalau mau mereka datang ke sini langsung saja. Karena barangnya takut pecah mereka datang akhirnya," jelas Maria kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Ia menyebut orang asing yang membeli patung Desa Tumbur berasal dari Jerman, Belanda, Prancis, Australia, hingga Amerika Serikat. Mereka datang ke Tanimbar bukan dengan pesawat udara, melainkan berlayar dengan kapal laut. Dengan begitu, mereka bisa membawa patung yang ukurannya cukup besar (tinggi sekitar 1 meter) dengan aman.

Patung di Desa TumburPembuatan patung di Desa Tumbur Foto: dok. Agung Pambudhy/detikcom

"Australia, Jerman, Belanda, Amerika juga, mereka datang bawa kapal sendiri," kata Maria.

Oliva Reresy, ibu dari Maria Silolone, menjelaskan patung menjadi medium untuk mengabadikan cerita nenek moyang. Setiap bentuk patung menggambarkan aktivitas atau tradisi yang biasa dilakukan oleh tetua zaman dulu.

Misalnya, ada patung yang menggambarkan tradisi persembahan setelah melakukan panen. Patung itu menceritakan bagaimana para nenek moyang dulu menunjukkan rasa syukur atas panen dengan memberikan persembahan kepada para leluhur.

"Dulu itu kan kita hasil panen masih kita persembahkan untuk moyang moyang leluhur dulu Kita kumpul ubi kumpul padi (yang) baru (panen) kita (berikan) untuk moyang-moyang," jelas Olivia saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, ada patung topang dagu. Menurut Olivia, patung itu bercerita soal bagaimana orang tua zaman dulu setelah bangun tidur merenungkan pekerjaan apa yang mesti dilakukan hari itu untuk menafkahi keluarga mereka.

Patung di Desa TumburPatung di Desa Tumbur Foto: dok. Agung Pambudhy/detikcom

"Dulu moyang-moyang kalau bangun merenungkan kerja apa, makan apa untuk istri (dan) anak," kata Olivia.

Olivia mengungkapkan sepasang patung dengan tinggi sekitar 1 meter dijual seharga Rp 10 juta. Selain patung berbentuk manusia, warga Desa Tumbur juga membuat kerajinan ukiran. Satu yang paling populer adalah ukiran berbentuk perahu layar.

Perahu untuk pajangan itu memiliki berbagai ukuran. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 3 juta untuk ukuran paling besar.

Olivia mengatakan hasil dari kerajinan patung itu dapat menghidupi keluarganya. Agar uang hasil penjualan patung bisa dikelola dengan baik, sejak beberapa tahun lalu dia menabung di Bank BRI. Ia memilih menabung di bank agar lebih aman dan uang dapat disimpan untuk kebutuhan mendesak.

"Kita simpan saja. Ditabung saja supaya aman, begitu kita susah bisa diambil sedikit. Untuk cucu sekolah juga, ada cucu sekolah di Malang sekarang," sebut Olivia.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(prf/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT