ADVERTISEMENT

Kisah Jenderal Dudung Bangun Gereja hingga Imami Demonstran

Sudrajat - detikNews
Rabu, 05 Okt 2022 15:59 WIB
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman meluncurkan buku biografi. Buku tersebut berjudul Loper Koran Jadi Jenderal.
KSAD Jenderal Dudung Abdurachman saat peluncuran buku "Loper Koran jadi Jenderal", 10 Juni 2022 (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Tanggal 30 Juli 2021 menjadi momen bersejarah bagi para taruna di Kesatrian Akmil, Magelang. Hari itu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa meresmikan Gereja Katolik Ignatius Slamet Riyadi yang proses pembangunannya bekerja sama dengan Keuskupan Agung Semarang.

Tapi momen bersejarah itu sebetulnya telah dimulai sejak 25 Februari 2020. Waktu itu Gubernur Akmil Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang meletakkan batu pertama pembangunan Gereja Katolik tersebut. Sebab, sejak Akmil berdiri pada 11 November 1957, di sana cuma ada masjid dan gereja Protestan. Para taruna yang Katolik harus beribadah di Kelas E.

Tak cuma itu. Dudung yang menjadi Gubernur Akmil sejak 24 September 2018 juga mengubah aturan jam pelajaran di kelas setiap hari agar berhenti setengah jam sebelum azan duhur berkumandang.

"Jangan kamu kejar duniawi, sementara Tuhanmu kamu lupakan," kata Dudung kepada para tarunanya seperti dicatat dalam buku 'Loper Koran Jadi Jenderal' karya Imelda Bachtiar.

Hingga di situ, kiprah Dudung masih belum mendapat perhatian khalayak luas. Namanya mulai menjadi perhatian saat ditarik ke Ibu Kota menjadi Pangdam Jaya pada 6 Agustus 2020. Baru tiga pekan bertugas, mencuat kasus penyerangan oleh seratusan anggota TNI ke banyak fasilitas milik masyarakat dan kepolisian di Ciracas.

Kemudian, dia harus menyikapi dengan elegan tindakan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan sejumlah purnawirawan yang berorasi di TMP Kalibata. Tapi ketegasan yang paling meraih simpatik publik dan mendapat peliputan luas dari media adalah ketika Dudung memerintahkan anak buahnya membersihkan berbagai spanduk berwajah Rizieq Shihab yang dipasang FPI.

Ketika sejumlah pihak mengkritiknya, Dudung melawan tak kalah galak. Dia mengaku risau, jengah dengan spanduk-spanduk yang provokatif. Menyerukan revolusi, serta menghina kepala negara dan TNI. "Kenapa dibiarkan saja? Siapa dia (Rizieq Shihab) sampai bisa berbuat seenaknya tanpa menghormati aturan. Kalau perlu, bubarkan saja FPI," katanya tegas.

Sejatinya Dudung bukan anak kiai atau ulama, juga bukan keturunan habaib. Tapi dia senantiasa berupaya mengamalkan nilai-nilai keislaman yang dia pahami dalam setiap gerak langkahnya. Pada 8 Oktober 2020, misalnya, dia didaulat para mahasiswa dan kalangan buruh yang berunjuk rasa menolak omnibus law UU Cipta Kerja menjadi imam salat Magrib di kawasan Jalan MH Thamrin.

Saat menjadi Dandim Musi Rawas/Lubuklinggau, Agustus 2004-November 2006, dengan pangkat Letkol, oleh masyarakat di sana Dudung juga dikenal sebagai ustaz. "Dia biasa berkeliling ke masjid-masjid dan memberikan khotbah Jumat. Juga memberikan khotbah nikah pada anggota atau anak anggotanya yang menikah," kenang Letkol CZI Ayub yang pernah menjadi staf intelijen di Kodim Musi Rawas.

Dudung adalah anak ke-6 dari 8 bersaudara, pasangan Nasyati dan Achmad Nasuha. Ia lahir pada 19 November 1965 di Bandung. Nasuha cuma PNS di lingkungan Kodam Siliwangi di Bandung. Dudung menikah dengan Rahma Setyaningsih dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Nadine Aqmarina Setyaningsih, Nina Bonita Hasanah, dan Mohammad Akbar Abdurachman.

Dudung masuk AKABRI pada 1985 dan lulus tiga tahun kemudian. Dia antara lain pernah bertugas di Timor Timur, Maluku, hingga Aceh. Saat di Aceh, pasukan yang dipimpinnya berhasil melumpuhkan tokoh GAM Teuku Ramli Basyak di Lhokseumawe pada September 2003. Mereka pun diganjar kenaikan pangkat istimewa.

Sementara Jenderal Luhut B Panjaitan kerap menyebut perjalanan hidupnya penuh misteri, hal yang sama bisa ditafsirkan untuk Dudung. Sebelum menjadi perhatian publik berkat sepak terjangnya saat menjadi Pangdam Jaya, dia rupanya pernah dinonjobkan.

Tanpa kejelasan apa salahnya, Brigjen Dudung dicopot sebagai wakil gubernur Akmil dan dijadikan Perwira Tinggi Staf Khusus selama 1 tahun 8 bulan, yaitu pada 29 Februari 2016-27 Oktober 2017.

"Dudung tidak pernah marah, murung, atau bahkan jatuh mentalnya di masa-masa itu. Dia mentalnya kuat," kata Mayjen TNI A Denny Tuejeh, rekan satu angkatannya yang kini menjabat Pangdam XIII/Merdeka.

Simak Video 'Jokowi: Di Tengah Tantangan, Saya Minta TNI Tingkatkan Profesionalitas':

[Gambas:Video 20detik]

(jat/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT