Getir Sejarah Hidup Gebar: Dituduh PKI, Ditahan di Usia 16 Tahun

ADVERTISEMENT

Getir Sejarah Hidup Gebar: Dituduh PKI, Ditahan di Usia 16 Tahun

Bahtiar Rifa'i, Aris Rivaldo - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 09:34 WIB
Gebar Sasmita berusia 73, dulu pernah dituduh PKI. (Bahtiar Rifai/detikcom)
Gebar Sasmita berusia 73, dulu pernah dituduh PKI. (Bahtiar Rifai/detikcom)
Serang -

"Saya makan bubur tanah, itu tahun '67-'69 saat ditahan di Bandung, tanah saya makan, dedek buat ayam disangrai saya makan, cicak, tikus segala, karena kita ingin bertahan hidup."

Ucapan getir itu disampaikan oleh Gebar Sasmita (73) yang dituduh terlibat organisasi sayap PKI pada tahun 1965. Pada bulan Desember, saat ia duduk di kelas III Sekolah Teknik Pandeglang, setara SMP berumur 16 tahun, dia ditahan di Denpom Serang lantas dibawa ke kamp tahanan Kebonwaru, Bandung pada enam bulan kemudian.

Dua tahun pertama di Kebonwaru, Gebar berusaha bertahan hidup meski ia tidak mengerti alasan penangkapan dan keterlibatan apa dia di PKI. Ia merasa dirinya dibiarkan mati perlahan bersama tahanan lain oleh penguasa waktu itu. Untuk sekedar makan, ia berjuang setengah mati, merasa tidak dimanusiakan di penjara waktu itu.

"Mana ada tahanan yang diberikan makanan, karena memang kita diinginkan mati," kata Gebar saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Kabupaten Lebak, Banten.

Di Kebonwaru, Gebar ditahan hingga tahun 1973. Setelah itu, ia dibawa bersama tahanan lain ke Nusakambangan. Di sana, ia baru bebas pada tahun 1979 karena desakan dunia internasional.

Penahanan dirinya pada 1965 waktu itu menurut Gebar karena ikut-ikutan di organisasi Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) di sekolah. Di samping itu, ia yang berasal dari Panimbang di selatan Banten, memang menumpang di rumah kakak perempuannya di Pandeglang.

Kakaknya itulah kebetulan anggota Gerwani. Di kantor PKI Pandeglang di daerah Ciherang, ia juga saban hari sering belajar mengetik. Ia tidak sungkan mampir apalagi kakak perempuan dan iparnya memang sering ke kantor itu juga.

"Saya kan suka belajar ngetik, di situ ada mesin tik. Sering saya masuk, makanya ketika ada ini (peristiwa '65) bahwa ini (saya) terlibat, saya nggak habis pikir," ujarnya.

Jadi tahanan yang paling muda di Kebonwaru, ia dinasihati oleh seorang guru juga komposer dari Bandung. Ia disarankan tetap belajar di tahanan karena di sana banyak intelektual, sastrawan, pelukis, dokter dan ahli-ahli pengetahuan. Nasihat itu isinya agar masa mudanya tidak sia-sia meski di dalam penjara.

Karena memiliki bakat seni, Gebar yang waktu itu sudah bisa membuat patung, belajar kepada seorang maestro lukis Hendra Gunawan. Melalui mulut dari seorang sastrawan A.S Dharta, Gebar lalu belajar seni dan melukis melalui bimbingan Hendra. Kelak, bakat melukis dan mematung ini kemudian mendarah daging di tubuhnya hingga sekarang.

Pada tahun 1973, ia kemudian dibawa ke Nusakambangan menuju kamp tahanan politik. Di sana, ia merasai kamp mulai di Permisan, Limus Buntu, Nirbaya, Karangtengah dan terakhir di Candi. Lokasi terakhir katanya model penjara terbuka dengan pengawasan ketat dari petugas.

Selama di Nusakambangan, Gebar mengatakan darah seninya mengalir meski ditekan keadaan. Ia bercerita, di tahun terakhir menjelang dibebaskan, ia pernah membuat relief di sebuah gua dengan alat sederhana. Relief itu ia buat untuk menyikapi keadaannya selama menjalani tahanan.

"Itu dianggap sebagai peninggalan purba, saya dengar berita dari saudara saja, katanya jadi peninggalan purba, saya ketawa," ujarnya berseloroh.

Di sana juga, lanjutnya ia sempat tidak memiliki harapan pulang ke Pandeglang. Bertemu dengan para tahanan politik yang satu usia, mereka seolah hilang harapan dan direnggut masa mudanya. Apalagi katanya ia sama sekali tidak pernah mendapat proses peradilan.

"Betul-betul hilang, saya sudah tidak ada, apa dosa saya. Saya bergaul dengan teman-teman (tapol) apa dosanya, banyak yang sama dengan saya. Tapi kita sampai 13 tahun kita ditahan tanpa proses peradilan, apa tidak dianaktirikan sebagai anak bangsa," paparnya.

Gebar Sasmita berusia 73, dulu pernah dituduh PKI. (Bahtiar Rifai/detikcom)Gebar Sasmita berusia 73, dulu pernah dituduh PKI. (Bahtiar Rifai/detikcom)

Selama perjalanan menjadi tahanan itu tidak membuat Gebar dendam termasuk ke militer yang waktu itu memenjarakannya. Tapi, ia mengaku geram atas ketidakadilan pemerintah waktu itu yang memenjarakan bahkan melakukan pembantaian kepada orang yang justru tidak terlibat. Ia setuju ada permintaan maaf kepada korban-korban yang tak berdosa itu.

"Orang yang tidak berdosa yang tidak tahu waktu itu (peristiwa 65) belum lahir terkena sanksi. Hal-hal ini harus diangkat, ini yang pernah terjadi kejadian di negeri ini, supaya tidak terjadi lagi hal serupa," pungkasnya.

(bri/dnu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT