ADVERTISEMENT

Situasi Mencekam di Kanjuruhan dan 2 Polisi Juga Ikut Tewas

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 02 Okt 2022 15:51 WIB
Sabtu (1/10) malam terjadi tragedi di Stadion Kanjuruhan. Hingga saat ini, korban tewas akibat tragedi tersebut mencapai 174 orang berdasarkan data yang disampaikan Wagub Jatim, Emil Dardak.
Tragedi Kanjuruhan (M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Jakarta -

Sebanyak 174 orang tewas dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, seusai laga Arema FC melawan Persebaya. Dua anggota Polri turut menjadi korban jiwa.

Polisi menyampaikan ricuh suporter ini diawali dari sejumlah suporter yang tak menerima kekalahan Arema. Adapun laga Arema versus Persebaya berakhir dengan skor 2-3.

Kronologi Tragedi Kanjuruhan

Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mengatakan laga Arema Vs Persebaya dijadwalkan selesai pukul 22.00 WIB, Sabtu (2/10/2020). Ada 40 ribu Aremania yang hadir di Stadion Kanjuruhan.

"Yang nonton itu dari Persebaya tidak ada. Semuanya Arema," kata Nico kepada wartawan.

Nico mengatakan, setelah pertandingan selesai, pendukung Arema merasa tidak puas. Ada segelintir suporter yang turun ke lapangan untuk mengejar ofisial tim serta pemain.

"Nah mereka marah sama pemain dan ofisial Arema karena selama 23 tahun main di kandang sendiri nggak pernah kalah mereka ini. Semalam kalah dan penontonnya itu 1-2 ribuan orang yang turun ke bawah yang lakukan pengejaran ke ofisial," tuturnya.

Nico mengatakan pada awalnya Polisi memberikan imbauan untuk tidak masuk ke lapangan. Baru kemudian dilakukan tembakan gas air mata karena dianggap sudah anarkis.

"Baru gas air mata mereka lari ke satu pintu keluar yang bersamaan akhirnya berdesak-desakan, ada yang meninggal dan sesak napas waktu dievakuasi di situ," tuturnya.

Penyebab Polisi Tewas

Nico mengatakan ada 2 polisi yang turut menjadi korban tewas. Satu anggota Polri tewas karena terhimpit.

"Yang satu terimpit, yang satu masih pendalaman," ujarnya.

Nico menjelaskan, tidak ada luka terbuka yang dialami polisi korban tewas tragedi Kanjuruhan. Dia mengatakan akibat tragedi itu tidak ada laga kandang di Malang untuk Arema FC.

Kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan Malang saat laga Arema FC versus Persebaya pecah berujung tewasnya 127 orang. Ada tembakan gas air mata dalam kerusuhan itu. Polisi mengungkapkan alasan penggunaan gas air mata di Kanjuruhan.

Sosok 2 Polisi yang Tewas di Tragedi Kanjuruhan

Dua polisi tersebut bernama Briptu Fajar Yoyok Pujiono yang merupakan anggota Polsek Dongko, Trenggalek, dan Brigadir Andik Purwanto anggota Polsek Sumbergempol, Tulungagung. Kapolres Tulungagung AKBP Eko Hartanto mengatakan jenazah masih dalam proses penjemputan di Malang.

"Ini masih persiapan (penjemputan jenazah)," kata Kapolres Tulungagung AKBP Eko Hartanto seperti dilansir detikJatim.

Hal senada diungkapkan Kasi Humas Polres Trenggalek Iptu Suswanto. Dia mengatakan polisi dari Trenggalek yang meninggal dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan adalah Briptu Fajar Yoyok Pujiono. Sehari-hari Briptu Yoyok bertugas di Polsek Dongko.

Lihat Video: FIFA Sudah Larang Gas Air Mata! Polri Tetap Gunakan, Kenapa?

[Gambas:Video 20detik]




(idn/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT