Nyobeng, Ritual Cuci Tengkorak Suku Dayak di Kalimantan Barat

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Nyobeng, Ritual Cuci Tengkorak Suku Dayak di Kalimantan Barat

Nurcholis Maarif - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 19:10 WIB
Rumah Baluk, Rumah Adat Suku Dayak
Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Nyobeng merupakan ritual adat memandikan atau membersihkan tengkorak kepala manusia hasil mengayau (atau perang) oleh nenek moyang suku Dayak Bidayuh yang ada di Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Bengkayang, Kalimantan Barat.

Nyobeng menjadi puncak ritual gawai atau syukuran pascapanen, dan hanya boleh dilakukan oleh sesepuh adat Suku Dayak Bidayuh di rumah adat bernama rumah Baluk (yang miniaturnya ada di TMII).

Ritual adat tahunan yang digelar 15-17 Juni ini kerap menarik wisatawan dalam negeri, dari Malaysia (karena faktor jarak yang lebih dekat dan ikatan suku serumpun terutama yang berada di Sarawak) hingga mancanegara.

"Di Sebujit kegiatannya ritual adat budayanya namanya nyobeng, dan nyobeng ini dulu itu lebih ke arah kepada sebuah tradisi atau ritual mencuci tengkorak. Karena zaman dulu istilahnya ada ngayau, perang gitu kan, ditemukan (kepala) hasil perang, di rumah adat Baluk yang ada miniaturnya di Taman Mini," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya Bengkayang Heru Pujiono kepada detikcom belum lama ini.

"Itu di atas itu tempat menyimpan tengkorak hasil perang zaman dulu. Sehingga adatnya dicuci, dibersihkan, tujuannya agar masyarakat yang Dayak Bidayuh di Sebujit dilindungi Tuhan Yang Maha Esa," imbuhnya.

Rumah Adat di SebujitNyobeng menjadi puncak ritual gawai atau syukuran pascapanen, dan hanya boleh dilakukan oleh sesepuh adat Suku Dayak Bidayuh di rumah adat bernama rumah Baluk (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Heru menjelaskan ritual adat ini telah berlangsung lama dan menjadi salah satu usulan cagar budaya. Bahkan budaya maupun tokohnya seringkali mewakili Kalimantan Barat dalam hal adat dan budaya di acara nasional.

"Yang saat ini, yang sudah lama bahkan menjadi usulan cagar budaya, seperti nyobeng di Sebujit. Itu memang sudah ada sejak berdirinya Bengkayang, bahkan sudah terekspos sebagai salah satu unggulan juga," ujar Heru.

"Pelaku atau tokoh (adat) Sebujit mewakili Kalimantan Barat di acara G20 di pelataran Candi Borobudur, mewakili adat dan budaya kalimantan barat dari Sebujit. Selama ini dia senantiasa memimpin baik dari sisi acara ritual nyobeng, atau seni budaya yang diselenggarakan setiap tanggal 15," imbuhnya.

Meski menjadi salah satu wisata budaya unggulan, infrastruktur ke arah Desa Sebujit masih minim. Jalanan aspal yang mulus belum sepenuhnya sampai masuk desa. Hanya jalan tanah dan bebatuan yang diapit oleh rimbunan hutan Kalimantan.

Namun, saat tim Tapal Batas detikcom ke Sebujit belum lama ini, terlihat sedang ada beberapa pengerjaan jalan menuju desa yang hampir masuk ke pedalaman Kalimantan tersebut. Terlihat juga tiang-tiang listrik baru yang sudah terpasang.

Salome, salah satu warga Desa Sebujit mengatakan memang listrik 24 jam baru masuk 2 bulan belakangan ke desanya. Itu pun belum semua dapat menikmati listrik atau ada beberapa yang belum mendapatkan listrik seperti rumahnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT