Waket MPR Ajak Mahasiswa Jadi Pengusaha & Ciptakan Lapangan Kerja

ADVERTISEMENT

Waket MPR Ajak Mahasiswa Jadi Pengusaha & Ciptakan Lapangan Kerja

Atta Kharisma - detikNews
Rabu, 28 Sep 2022 22:09 WIB
Fadel Muhammad
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad mengimbau para mahasiswa untuk tidak beramai-ramai menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia mendorong mahasiswa mempersiapkan diri menjadi entrepreneur yang dapat menciptakan lapangan kerja bagi orang banyak.

Fadel menjelaskan negara memiliki kemampuan yang terbatas untuk menampung ASN. Kemampuan tersebut juga tidak sebanding dengan minat pencari kerja yang ingin bergabung menjadi abdi negara.

Menurutnya, menjadi entrepreneur memiliki kesempatan yang lebih besar karena tidak dibatasi lapangan pendidikan serta modal. Selain itu, dapat mencakup berbagai sektor kehidupan. Berbeda dengan ASN, entrepreneur juga bisa berkontribusi dengan menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

"Menjadi entrepreneur, itu bisa dimulai dari hal-hal yang kecil, menggunakan modal yang tidak besar. Seperti menjual pisang goreng, tidak serta merta digoreng begitu saja. Tapi digoreng memakai tepung, dipotong mengikuti bentuk tertentu. Ini sama, seperti saat saya membangun perusahaan, tenaga dan modal terbatas, tetapi terus melakukan inovasi produk yang dihasilkan," ujar Fadel dalam keterangannya, Rabu (28/9/2022).

Hal itu ia sampaikan saat membuka sosialisasi Empat Pilar MPR RI bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMG) di Gedung Serba Guna David Bobihoe Akib, UMG, Rabu (28/9). Hadir dalam acara tersebut Anggota MPR dari Kelompok DPD Djafar Alkatiri.

Hadir pula Wakil Rektor 2 dan 3 UMG, yakni Dr. Salahudin Pakaya, M.H. dan Dr. Apris Ara Tilome, MSi. Acara tersebut sekaligus merupakan kerjasama MPR dengan Ruang Anak Muda Connection Gorontalo dan Badan Eksekutif Mahasiswa UMG.

Dalam kesempatan itu, Fadel menerangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas bisa diperoleh dari kampus. Karenanya, ia berharap warga kampus bisa berkontribusi besar terhadap lahirnya entrepreneur baru dan turut menciptakan banyak lapangan kerja.

Sehingga saat puncak bonus demografi datang pada 2030, tidak terjadi banyak kasus pengangguran maupun tenaga kerja bergaji rendah.

"Fenomena ini harus diantisipasi dari sekarang. Dan itu tidak mungkin ditangani melalui jalur penerimaan ASN. Karena jumlahnya sangat terbatas. Tetapi kalau kampus bisa melahirkan banyak entrepreneur, pada waktunya mereka akan menciptakan lapangan pekerjaan," jelasnya.

Senada, Djafar Alkatiri menyebut bonus demografi bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menguntungkan, jika tenaga kerja yang tersedia bisa berproduksi dengan baik.

Sebaliknya, lanjut Djafar, bonus demografi akan menjadi beban jika tenaga kerja yang tersedia tidak memiliki pekerjaan atau para pegawai berpenghasilan rendah. Karena itu, Djafar menganggap menjadi entrepreneur sebagai salah satu pilihan karier yang baik.

"Teman-teman yang saat ini bisa kuliah, mereka itu sangat beruntung, semoga saja selama belajar di kampus mereka juga bisa menumbuhkan ide-ide yang inovatif, dan berguna bagi masa depan," ucapnya.

Djafar mengingatkan potensi Indonesia terpecah belah menjadi negara-negara kecil sangatlah besar. Karenanya, ia mengimbau generasi muda untuk terus menjaga dan memupuk rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Dengan adanya hal tersebut, lanjut Djafar, generasi muda akan mampu mempertahankan NKRI dari ancaman perpecahan.

"Cinta Tanah Air itu adalah bagian dari pada iman. Bahkan Rasulullah SAW, sangat mencintai umatnya yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air. Kalau para entrepreneur memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, niscaya kedatangan bonus demografi, itu akan menjadi tonggak kemajuan bagi bangsa Indonesia," tandasnya.

(fhs/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT