Cerita Transmigran di Kalbar Raup Ratusan Juta Tiap Bulan dari Jagung

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Cerita Transmigran di Kalbar Raup Ratusan Juta Tiap Bulan dari Jagung

Nurcholis Maarif - detikNews
Rabu, 28 Sep 2022 18:57 WIB
Proses penggilingan jagung di usaha milik Robi
Foto: detikcom/Nurcholis Maarif
Bengkayang -

Jauh dari kampung halaman tidak menyurutkan semangat Robi Ismail untuk mencari hidup dan penghidupan. Ia yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat ikut menjadi transmigran ke Kecamatan Seluas, Bengkayang, Kalimantan Barat, salah satu wilayah yang dekat dengan titik nol Indonesia-Malaysia.

Segala usaha disebut telah dilakukan Robi, mulai dari jualan jengkol keliling, mulai merintis walet, hingga kini menjadi 'bos' pengepul jagung di bekas kampung transmigrannya tersebut. Rosaline Ernawati, adik Robi, menceritakan bahwa kakaknya memulai usaha jagung sudah lebih dari 5 tahun yang lalu.

Awalnya, Robi hanya membeli tongkol jagung dari petani. Lalu ia memutuskan membuat pemanggang sendiri, mengingat harga yang dijual lebih mahal jika jagung sudah digiling dan dikeringkan. Ditambah, Bengkayang merupakan sentra produksi jagung Kalimantan Barat dan potensi permintaan dari perusahaan pakan ayam di Singkawang.

"Awalnya sih, kalau jual tongkol (Jagung) ke Sanggau ada pembelinya, sambil jual sahang (merica). Terus ke Bengkayang, kalau jual yang sudah di-oven kita tahu di Singkawang tuh ada pabrik ayam, jadi coba-coba bawa ke sana. (Jadi jagungnya buat pakan) Orang melihara ayam, beli pakan dari sini," ujar Ernawati kepada detikcom belum lama ini.

Ia mengatakan jagung menjadi komoditas yang menjanjikan karena bisa panen 3 kali dalam setahun. Ia pun menjelaskan bahwa jagung yang baik ialah yang biasa dipanen tua karena lebih kering dan tidak hancur saat digiling.

"Kalau yang jelek tuh yang muda sudah dipanen, jadi digiling hancur. Di-oven jelek kan. Digiling langsung di-oven. Awalnya digiling dulu, sudah itu di-oven tergantung jagungnya. Kalau kering dari pohonnya itu cepat di-oven, tapi kalau yang basah bisa lama sampai 6 jam. Yang kering 2 jam pun sudah kering," ujarnya.

Tumpukan Jagung dari Petanikini Robi biasa mengirim 3 truk dalam seminggu, yang masing-masing truk berisi 6 ton jagung (Foto: detikcom/Nurcholis Maarif)

Awalnya, kata Ernawati, Robi hanya mengirim satu truk jagung dalam waktu dua minggu hingga satu bulan. Namun, kini Robi biasa mengirim 3 truk dalam seminggu, yang masing-masing truk berisi 6 ton jagung.

"Di mobil tuh (kadang) ada sahang. Kadang bawa jagung 5 ton, 1 tonnya sahang. Kan pokoknya target di 1 mobil itu 6 ton, kalau nggak ada sahang, jagung aja. Pas lagi mahal (harga jagung) bisa Rp 6.000 per kg, sekarang sisa 4.100 per kg," ujarnya.

Dengan estimasi harga terendahnya saja, usaha Robi ini bisa menghasilkan omzet ratusan juta per bulannya. Hal itu belum dipotong dengan gaji 11 karyawan yang bekerja di gudang pengolahan jagung hingga beberapa sopir yang rutin mengantar jagung ke Singkawang.

Robi juga bekerja sama dengan mayoritas petani di dekat tempat tinggalnya dalam penyediaan jagung. Sepulang dari Singkawang, biasanya sopir membawa tahi ayam yang akan digunakan sebagai pupuk untuk penanaman jagung milik para petani.

"Kalau ngantar jagung ke sana, pulangnya jangan kosong, bawa tahi ayam. Kalau dengan petani abang nih, modal ke petani dikasih modal tahi ayam, kredit tahi ayam. Petani itu tanam jagung, jagungnya dijual dengan abang," ujarnya.

Robi, kata Ernawati, memanfaatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI dalam menjalankan usahanya tersebut. Robi pernah minjam dua kali, pertama KUR BRI Rp 50 juta dan pinjaman komersial Rp 150 juta. Semuanya digunakan sebagai pengembangan usaha.

"Abang saya sudah beberapa kali minjam di BRI buat pengembangan usaha jagung. Usaha yang lain (juga), (pokoknya) apa yang bisa dijual kaya kemiri ini kan. Untuk mengembangkan usaha ini, abang saya meminjam pengajuan KUR di BRI. Minjam dua kali, KUR Rp 50 juta, yang kemarin Rp 150 juta," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT