ADVERTISEMENT

Dianggarkan Rp 17,8 M, Pemilik Tanah SMKN 7 Tangsel Hanya Dibayar Rp 7,3 M

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 22:54 WIB
Pemilik tanah SMK N 7 Tangerang Selatan, Sofia M Sujudi saat bersidang di kasus korupsi pengadaan tanah.
Pemilik tanah SMK N 7 Tangerang Selatan, Sofia M Sujudi, saat bersidang di kasus korupsi pengadaan tanah. (Bahtiar/detikcom)
Serang -

Saksi Sofia M Sujudi Rassat selaku pemilik tanah untuk pembangunan SMKN 7 Tangerang Selatan (Tangsel) merasa dizalimi karena tanahnya dihargai Rp 7,3 miliar. Padahal belakangan diketahui Pemprov Banten membayar tanah itu senilai Rp 17,8 miliar ke terdakwa.

"Saya merasa jual beli ini saya dizalimi terus," kata saksi Sofia di Pengadilan Tipikor Serang, Selasa (27/9/2022).

Sofia menjadi saksi untuk perkara kasus korupsi pengadaan tanah untuk SMKN 7 Tangsel. Ia memberikan kesaksian untuk terdakwa Ardius Prihantono selaku eks Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Pemprov Banten serta Agus Kartono dan Farid Nurdiansyah sebagai pihak swasta.

Sofia mengatakan, pada sekitar Desember 2017, ia awalnya dipanggil ke Kecamatan Ciputat Timur pada pukul 21.00 WIB. Di sana, ia diminta untuk melepaskan hak atas tanah di Rengas yang sebelumnya sudah disepakati akan dijual ke terdakwa Agus Kartono dengan pembayaran uang muka.

Malam itu, lalu disepakati bahwa uang transfer pembayaran Dindikbud diberikan ke terdakwa Agus. Ia mengaku heran dan kaget waktu itu kenapa dibayarkan ke Agus padahal ia pemilik tanah yang sah. Agus memang membeli tanah itu tapi baru memberikan uang muka Rp 3 miliar lebih dan itu dilakukan pada 2013.

"Saya keberatan uang masuk ke Pak Agus," ujarnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Atep Sopandi.

Ia lalu diyakinkan oleh camat Ciputat Timur karena sisa uang pembayaran pasti akan diberikan oleh terdakwa Agus. Setelah ada jaminan dari camat, ia lalu setuju uang tidak diterima secara langsung, tapi melalui terdakwa.

"Saya tidak mempertanyakan, saya sudah lah karena sudah kesal, karena saya yang menjual tapi yang menerima orang lain, Pak Agus. Pak camat bilang, ibu akan menerima apa yang menjadi hak ibu Rp 4,1 miliar," katanya menceritakan.

Uang Rp 4,1 miliar itu pun dibayarkan beberapa hari kemudian oleh terdakwa Agus. Ia sendiri tidak berurusan dengan pihak DIndikbud karena tidak ada yang ia kenal .

Setelah pembayaran pada dirinya selesai, belakangan ia memang baru tahu ternyata tanah miliknya dibeli Dindikbud seharga Rp 17,8 miliar. Ia sendiri memang kaget.

"Kaget, saya tidak mempertanyakan, sudah lah karena sudah kesal," paparnya.

(bri/aik)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT