ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Tolong, Bidai Khas Suku Dayak Mau 'Diakui' oleh Malaysia!

Nurcholis Maarif - detikNews
Kamis, 22 Sep 2022 09:17 WIB
Bidai Khas Kalimantan
Pembuatan Bidai Khas Kalimantan Barat (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)
Bengkayang -

Kerajinan tangan anyaman rotan bidai khas Suku Dayak Bidayuh yang ada di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat terancam diklaim Malaysia. Seringnya, bidai yang dibeli dari pengrajin di Jagoi Babang, dicap oleh Malaysia untuk kemudian dijual lagi.

"Selama ini bidai ini kan masuk ke Malaysia, cap Malaysia, masuk ke Prancis dibilang dari Serawak," ujar Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis belum lama ini.

"Itu yang kita ajukan untuk HAKI ke Kemenkumham, dinas kita sudah menyiapkan data. Kita juga sudah menyampaikan ke provinsi bidai ini akan diambil seperti reog Ponorogo kan sudah diakui. Ini kerja keras Pemda Bengkayang maupun Pemprov Kalbar, termasuk kementerian terkait," imbuhnya.

Bupati Bengkayang Sebastianus DarwisBupati Bengkayang Sebastianus Darwis (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Klaim Malaysia bidai milik suku dayak di Jagoi Babang ini memang sudah menjadi isu lama, termasuk bagi para pengrajinnya. Sebab kebanyakan mereka menjual bidai ke pengepul dari Malaysia maupun menjual langsung ke Pasar Serikin di Malaysia.

Hal itu karena faktor jarak ke Pasar Serikin di Serawak, negara bagian Malaysia, yang lebih dekat dengan Jagoi Babang dibanding dengan pasar di pusat Kabupaten Bengkayang, apalagi di pusat Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak. Meskipun begitu, pengrajin mengakui bahwa bidai memang hanya dibuat oleh masyarakat Jagoi Babang dan sekitarnya yang berada di tapal batas Indonesia-Malaysia tersebut.

"Di Malaysia nggak ada yang bikin, mereka beli jadi dari sini," ujar Roslinda, pemilik Sentra Industri Kecil Bidai Hasta Karya.

"Udah diakui sama (Malaysia), (isu) udah lama, mungkin tahu, itu udah lama. (Sama mereka) dijual lagi ke Jakarta, ke Bali. Jual ke Bali, (dibilangnya) jadi produk Malaysia, udah lama itu," imbuhnya.

Roslinda Pengrajin BidaiPengrajin mengakui bahwa bidai memang hanya dibuat oleh masyarakat Jagoi Babang dan sekitarnya serta bukan dari Malaysia (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Roslinda menjelaskan sebelum pos lintas batas (PLB) ditutup akibat kebijakan pembatasan karena COVID-19 sekaligus sedang pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang, Sentra Industri Kecil Bidai Hasta Karya lebih sering menjual bidainya ke pengepul dari Malaysia. Namun, kini ia lebih memilih menjualnya ke pasar domestik.

"Sementara sekarang nih (PLB-nya kan ke) Malaysia ditutup, cuma sekitar sini. Bengkayang, Pontianak, Sintang, Kapuas, Jakarta pernah. Dijual online (juga) lewat WA, dari teman ke teman. Karena permintaan di daerah kita masih banyak, jadi kita di sini dulu," ujar Roslinda.

Lebih lanjut Roslinda menjelaskan dalam mengembangkan usaha bidainya, ia memanfaatkan pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI. Ia pernah dua kali memanfaatkan KUR Bank BRI sebagai modal dalam mengembangkan usahanya.

"Ini kan modal besar beli-beli rotan, banyak permintaan, jadi harus kita nyiapkan barang juga kan modalnya. Jadi minjam ke BRI untuk nambah modal, minjam Rp 50 juta," ujarnya.

"Sebelumnya udah 2 kali (ngambil KUR Bank BRI), (pertama) Rp 20 juta itu, (kedua) Rp 40 juta. Jadi 3 kali total minjam KUR, buat modal bikin bidai semua," imbuhnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak juga 'Mengenal Daerah Jagoi Babang, Kecamatan Perbatasan Kalbar - Malaysia':

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT