Cerita di Balik Saluran Air Kuno Batavia Peninggalan VOC di Proyek MRT

ADVERTISEMENT

Cerita di Balik Saluran Air Kuno Batavia Peninggalan VOC di Proyek MRT

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 06:35 WIB
Saluran Air Kuno Batavia beserta Jembatan Glodok Kuno ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok-Kota.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Saluran Air Kuno Batavia peninggalan zaman VOC ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok-Kota. Ternyata, saluran air sepanjang 400 meter itu dibangun oleh VOC dan digunakan untuk menyalurkan air bersih kepada penduduk Benteng Dalam yang kini merupakan kawasan Kota Tua.

Tim Arkeolog dari kontraktor MRT Jakarta, Junus Satrio Atmodjo menjelaskan, saluran air ini ditemukan sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Jalur pipanisasi itu dulunya membentang dari persimpangan Glodok dekat Orion Plaza hingga kawasan Pasar Ikan.

"Ini Orion Plaza, dulunya tempat penyaringan air. bangunan seng ini dulunya adalah benteng kecil. Ini sempat jadi penjara, M Hatta pernah dipenjara di sini tahun 40-an. Tapi kemudian diputuskan dijual maka jadilah Orion Plaza. Ini adalah cikal bakal air masuk menuju ke dalam Kota Batavia mulai dari sini," kata Junus saat meninjau Proyek MRT Jakarta Fase 2A Glodok-Kota, Selasa (20/9/2022).

Pembangunan saluran air yang terbuat dari terakota ini direncanakan sejak tahun 1730. Akan tetapi, pipa air itu baru bisa berfungsi pada tahun 1800 an.

Saat itu, upaya antisipasi lingkungan kota yang kotor dilakukan VOC dengan memasok air bersih dari arah selatan, di mana ujung pipa atau waterleiding bermula di daerah Pancoran di sebuah tempat bernama Waterplaats (kolam air). Kemudian, berakhir sekitar Pasar Ikan.

"Jadi prosesnya (pembangunan) lama, karena bata-bata nya didatangkan dari Belanda. kita bisa bayangkan, kapal berlalu-lalang ke sini membawa bata ini. Bata digunakan sebagai penyeimbang," jelasnya.

Saluran pipa bahkan melewati gedung Wali Kota (Stadhuis) dan Kantil Batavia. Setidaknya, kebutuhan air bersih untuk ribuan penduduk dalam kastil dilayani oleh saluran pipa ini, baik untuk minum maupun mencuci.

Lantas, mengapa hanya penduduk dalam benteng saja? Junus menjelaskan, kala itu, VOC membangun benteng pertahanan yang kuat usai 30 tahun menduduki Sunda Kelapa. Benteng itu, kata dia, menutup seluruh wilayah kota dari daerah luar sekelilingnya dan dilengkapi oleh enam pintu masuk menuju kota, di antaranya Nieuwpoort (pintu besar) di bagian selatan tempat ditemukannya sisa tembok kota.

"(Mengairi) hanya penduduk dalam benteng," ujarnya.

"Estimasinya orang Eropa di situ sekitar 3 ribuan, tapi lebih banyak ke budaknya. (Misal) satu keluarga punya budak 10 orang. Kalau satu keluarga 6 orang dengan budak minimal 10 orang, jadi kalau dikata 3 ribu, harus ditotal 3 kali lipat. bisa 9-10 ribu. Semua butuh air, nyuci semua, mandi semua, masak semua. Saluran ini digunakan untu supply air bersih," tambahnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Saksikan juga 'MRT Mulai Bangun Infrastruktur Stasiun Harmoni-Mangga Besar':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT