ADVERTISEMENT

Laporan dari New York

Di Forum Global Food Security, RI Dorong Solusi Ketersediaan Pupuk Dunia

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 05:45 WIB
Menlu Retno Marsudi
Foto: Menlu Retno Marsudi di Amerika Serikat (Gibran/detikcom)
New York -

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi menghadiri Global Food Security Summit di New York, Amerika Serikat (AS). RI terus memperjuangkan masalah ketersediaan pangan dan pupuk dunia yang terganggu rantai distribusinya karena perang di Ukraina.

"Tadi saya baru bicara di Global Food food Security, Indonesia menjadi salah satu co-host dari Global Food Security. Pada saat saya bicara, saya bicara mengenai 2 hal, yang pertama adalah bagaimana mengembalikan supply chain untuk food dan fertilizer (pupuk)," kata Menlu seusai pertemuan yang bertempat di Intercon Barclay, New York, Selasa (20/9/2022) sore.

Menlu Retno secara khusus menyoroti masalah pupuk. Perihal perkuatan sistem ketahanan pangan dunia juga dibahas Menlu.

"Dan sekali lagi setelah berbicara dengan pihak Amerika sebagai salah satu co-chair dari Global Food security, pada akhirnya masukan Indonesia mengenai masalah fertilizer masuk ke dalam deklarasi," katanya.

Menlu mengatakan masalah pangan dunia mulai membaik, akan tetapi belum dengan urusan pupuk di pasar dunia. Menlu khawatir masalah pupuk yang berlarut dapat memberi dampak negatif ke depannya, khususnya di Asia.

"Kalau sampai kita tidak bisa menangani isu pupuk ini, maka ke depan situasi pangan dunia akan memburuk dan diperkirakan akan berdampak juga pada panen beras. Dan kalau panen beras mengalami penurunan atau kegagalan yang disebabkan oleh pupuk, maka akan menyangkut kepentingan 2 billion, 2 miliar orang yang sebagian besar ada di Asia," ujar Menlu.

Dibahas dengan PBB

Menlu Retno sebelumnya telah melakukan pertemuan dengan Sekjen PBB Antonio Guterres dan Wasekjen PBB Martin Griffiths mengenai pupuk dan pangan dunia akibat perang di Ukraina. Menlu mengungkit jumlah ekspor gandum Ukraina sebelum dan saat kini terjadi perang serta soal pupuk Rusia.

"Isu itu saya bahas dengan Griffiths secara lebih detail dalam artian sampai sejauh mana ekspor yang sudah dilakukan dari Ukraina ke luar. Gandumnya sudah berapa juta ton yang keluar, ke mana saja. Apakah perkiraan September dan bulan berikutnya itu akan tercapai karena kan sebelum perang ekspor yang dilakukan melalui pelabuhan laut itu jumlahnya sekitar 5 sampai 6 juta ton," ujar Menlu, Senin (19/9).

"Waktu perang terjadi, pelabuhan laut tidak bisa digunakan, terpaksa harus melalui darat dan itu hanya sekitar seperempatnya. Nah, menurut Martin Griffiths jumlahnya sudah akan mendekati dari jumlah sebelum terjadinya perang dan itu akan terus didorong," kata dia.

Soal ekspor dari Rusia, Menlu mengungkapkan sudah ada jaminan dari negara G7. Menurutnya, masih ada ketakutan akan transaksi dengan Rusia.

"Sementara itu, sudah ada jaminan juga dari negara-negara G7, yang dari Rusia ya, jadi kan ekspor Ukraina dan Rusia. Dari G7 sudah memberikan jaminan bahwa pangan dan fertilizer itu tidak masuk sanksi dan mereka akan menegaskan kembali hal tersebut karena memang tidak masuk di dalam sanksi tapi di sana sini masih terjadi kesulitan di lapangan karena orang takut bertransaksi," ujar Menlu.

Simak juga 'Pria di Bali Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk':

[Gambas:Video 20detik]



(gbr/maa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT