Kepuasan ke Jokowi Anjlok Efek Harga BBM Naik, Adian Bandingkan dengan SBY

ADVERTISEMENT

Kepuasan ke Jokowi Anjlok Efek Harga BBM Naik, Adian Bandingkan dengan SBY

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 18 Sep 2022 22:26 WIB
Adian Napitupulu
Foto: Adian Napitupulu (Muchamad Sholihin/detikcom)
Jakarta -

Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) anjlok 10% pascakenaikan harga BBM. Anggota DPR RI Adian Napitupulu membandingkan penurunan tingkat kepuasan Presiden Jokowi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2013, setelah menaikkan harga BBM

"Tingkat kepuasan (Jokowi) terakhir 62,6%. Kalau dibandingkan dan tingkat kepuasan yang sama di periode SBY tahun 2013, kalau menurut SMRC sekitar 55%, kalau nggak salah. Kemudian, menurut LSI, sekitar 35% kalau ngggak salah, tapi bisa di kroscek itu," kata Adian dalam rilis survei Indikator Politik Indonesia, yang disiarkan di YouTube, Minggu (18/9/2022).

"Artinya bahwa, di periode menjelang akhir masa jabatan, kalau kita bandingkan antara periode SBY dan Jokowi di tengah naiknya harga BBM ini, saya lihat masih tinggi Jokowi," imbuhnya.

Adian lalu memaparkan data hasil survei yang dia himpun terkait tingkat kepuasan publik terhadap kinerja SBY saat menaikkan harga BBM pada 2013. Dari data itu, Adian menyebut tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi masih lebih baik dibandingkan SBY.

"Kalau SMRC 55,8% 2013, kalau LSI 35,9%, sangat drop. Kalau dibandingkan head to head seperti itu, masih lebih bagus Jokowi hari ini, walaupun surveinya sebenarnya Jokowi dilakukan ketika 2 hari setelah kenaikan BBM," ucapnya.

Lebih lanjut Adian memaparkan persentase kenaikan harga BBM era SBY lebih besar dibandingkan era Jokowi. Anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi itu menyebut persentase kenaikan harga BBM era SBY sebesar 254%.

"Secara total, secara persentase kenaikan dibandingkan dengan Presiden SBY itu, Presiden SBY itu menaikkan sekitar 254% dalam 10 tahun. Sementara Presiden Jokowi menaikkan dalam persentase hanya 54%. Itu kalau secara presentase," sebutnya.

Aktivis '98 itu lalu menjabarkan lebih detail kenaikan harga BBM era SBY dan Jokowi. Adian menyebut total kenaikan harga BBM era Presiden Jokowi sebesar Rp 3.500.

"Kalau secara angka, total kenaikan BBM di era Presiden SBY itu Rp 4.690. sementara di era Presiden Jokowi kenaikan BBM itu Rp 3.500. Jadi secara angka masih lebih mahal kenaikan BBM secara total di pemerintahan SBY sebesar Rp 1.190 dibandingkan oleh zaman Jokowi. Jadi dari persentase maupun dari angka, ya memang lebih tinggi kenaikan di zaman Presiden SBY selama 10 tahun dibandingkan Jokowi," katanya.

Namun Adian tetap melihat adanya kelemahan di pemerintahan Jokowi dalam rangka menaikkan harga BBM. Dia melihat kelemahan era Jokowi, yakni soal sosialisasi, baik soal rencana kenaikannya hingga perihal anggarabsubsidi Rp 502 triliun yang telah digelontorkan.

"Apa kelemahannya? Kita mungkin tidak menyampaikan perbandingan-perbandingan tersebut secara masif, sehingga berpengaruh pada opini publik yang disurvei tadi. Tapi tak masalah. Menurut saya, bahwa kemudian pemerintahan ini kan tidak mungkin mampu memuaskan semua orang," ucap Adian.

"Pada saat yang bersamaan, kita mungkin lemah dalam menyampaikan misalnya Rp 502 triliun itu kan total subsidi energi di mana Di dalamnya juga ada subsidi gas, listrik termasuk BBM," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT