Survei Indikator: Kepuasan atas Kinerja Jokowi Anjlok 10% Efek Harga BBM Naik

ADVERTISEMENT

Survei Indikator: Kepuasan atas Kinerja Jokowi Anjlok 10% Efek Harga BBM Naik

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 18 Sep 2022 15:56 WIB
Burhanuddin Muhtadi
Burhanuddin Muhtadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei tentang kepuasan kinerja Presiden Jokowi. Hasilnya, kepuasan kinerja terhadap Presiden dinilai menurun pascakenaikan harga BBM.

Survei ini dilakukan pada 5-10 September 2022 atau dilakukan 2 hari setelah kenaikan harga BBM diumumkan oleh pemerintah.

Metode survei adalah WNI berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah dan memiliki telepon. Pemilihan sampel dilakukan melalui random digit dialing (RDD) atau secara acak nomor telepon.

Sebanyak 1.215 responden dipilih melalui secara acak nomor telepon, margin of error survei diperkirakan kurang lebih 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara responden dilakukan lewat telepon.

Responden diberi pertanyaan yang berbunyi, 'secara umum, apakah sejauh ini ibu/bapak sangat puas, cukup puas, kurang puas, atau tidak puas sama sekali dengan kerja presiden jokowi?'

Hasil survei:

Sangat Puas: 16,3%
Cukup Puas: 46,3%
Kurang Puas: 27,2%
Tidak Puas Sama Sekali: 8,1%
Tidak Tahu/Tidak Jawab: 2,1%

Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan kenaikan harga BBM membuat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun. Persentase penurunannya mencapai 10%.

"Waktu kita survei, yang mengatakan sangat puas atau cukup puas 62,6%, yang mengatakan kurang puas atau tidak puas sama sekali itu 35,3%," kata Burhanuddin saat memaparkan hasil survei melalui YouTube Indikator Politik Indonesia, Minggu (18/9/2022).

"Jadi memang efeknya terhadap trend approval rating Presiden cukup lumayan, kurang lebih (turun) 10% dibanding survei bulan Agustus sebelum kenaikan harga BBM," imbuhnya.

Angka kepuasan kinerja presiden 62,6% pada bulan ini dinilai menurun 10% jika dibandingkan dengan hasil survei Indikator Politik Indonesia terhadap kepuasan kinerja presiden pada Agustus 2022, yaitu 72,3%.

Burhanuddin menilai Presiden Jokowi cukup cerdik membuat kebijakan menaikkan harga BBM di saat hasil survei approval rating-nya sedang tinggi. Sebab, menurutnya, jika kebijakan tersebut dilakukan saat terjadi penurunan tingkat kepuasan terhadap kinerja presiden, hasil surveinya bisa lebih rendah dari yang saat ini.

"Karena ini keputusan yang tentu tidak menyenangkan banyak pihak. Tetapi, ketika tidak dilakukan di saat approval rating Presiden sedang tinggi-tingginya, dampaknya setidaknya tidak sampai di bawah 50%, karena kalau sampai di bawah 50% itu alarming. Ini kan masih di atas 60% meskipun tren penurunannya cukup lumayan dari 72,3 menjadi 62,6%," katanya.

Baca selengkapnya di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT