ADVERTISEMENT

HNW Sebut Masjid Bisa Jadi Sarana Umat Selamatkan & Makmurkan Bangsa

Sukma Nur - detikNews
Kamis, 08 Sep 2022 21:27 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan masjid tetap bisa menjadi sarana untuk berkontribusi memakmurkan dan menyelamatkan bangsa. Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah acara yang yang digelar Dewan Masjid Indonesia MUI Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan yang bertajuk 'Membangun Semangat Kepemimpinan yang Unggul dalam Rangka Menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar' di Cisarua, Bogor.

Ia juga mengatakan, masjid bisa menjadi sarana untuk merealisasikan kemaslahatan bangsa dan negara dengan cara yang benar. Sebab, bangunan bersejarah di Indonesia termasuk masjid di dalamnya menjadi tempat yang sangat terbuka untuk hadirnya peran positif para ulama, pesantren, dan masjid yang bisa menjadi bagian dalam melaksanakan dan melanjutkan kebaikan untuk umat, bangsa, dan negara.

"Dari masjid umat bisa berkolaborasi dan berkontribusi memakmurkan dan menyelamatkan umat, bangsa dan negara. Para ulama, habib, umat, umara, dan masjid bisa menjadi bagian yang terus menerus menjaga dan meluruskan kiblat berbangsa dan bernegara," ujar HNW dalam keterangannya, Kamis (8/9/2022).

"Ulama, habib, umara umat dan masjid bisa menghadirkan kebersamaan dan realisasi ukhuwah islamiyah, wathaniyah dan basyariyah, untuk memakmurkan dan menyelamatkan Indonesia, sebagaimana dahulu terlibat dalam memerdekakan Indonesia dan sekarang dalam menjaga Indonesia agar tidak berubah kiblat. Itulah posisi ulama, habib, umara, dan umat," imbuhnya.

Lebih lanjut, HNW membagikan cerita mengenai peristiwa Kudeta di Turki pada tahun 2016 sebagai contoh bagaimana masjid dan kekuatan umat mampu menyelamatkan bangsa. Pasalnya, pada peristiwa itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan masyarakat untuk turun ke jalan memberikan dukungan bagi pemerintah Turki. Namun, tiba-tiba terdengar kumandang adzan dari masjid pada dini hari. Mendengar hal tersebut, masyarakat menjawab seruan adzan tersebut dan baru turun ke jalan memberikan dukungan untuk pemerintah Turki.

"Tiba-tiba terdengar kumandang adzan dari masjid di sekitar Turki pada dini hari. Pada Subuh, masyarakat sudah berbondong-bondong menjawab seruan masjid. Warga pun turun ke jalan untuk mendukung pemerintah Erdogan sehingga kudeta terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan gagal," katanya.

Peristiwa tersebut, menurut HNW bisa terjadi karena masjid adalah tempat yang luar biasa. Di Indonesia sedikitnya terdapat 290.951 masjid. Di Jakarta ada 8.212 masjid, dan untuk Jakarta Selatan terdapat sekitar 3.570 masjid.

Sedangkan, jumlah pesantren di Indonesia yang melahirkan para ulama dan pemakmur masjid juga sangat banyak. Jumlah pesantren di Indonesia setidaknya terdapat 26 ribu pesantren. Serta, jumlah santri ada sekitar 18 juta orang, dan berkat perjuangan di DPR pesantren kini sudah memiliki Undang-Undang tersendiri, yaitu UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

"Dengan demikian, lembaga-lembaga yang nanti akan memakmurkan masjid dan menjadi kaderisasi ulama, bukanlah lembaga yang inkonstitusional. Lembaga itu konstitusional sehingga tidak layak dicurigai atau dipinggirkan. Ini adalah lembaga konstitusional yang diakui dan mendapatkan hak, serta harus diperlakukan setara dengan lembaga resmi lainnya," tegas HNW.

Lanjut HNW, Indonesia juga terbuka akan potensi para ulama, pesantren, dan masjid yang menjadi bagian dalam berkontribusi untuk kebaikan umat.

"Potensi yang terbuka itu bukan hanya sekarang saja. Tapi, sudah sejak sebelum kemerdekaan. Indonesia ada karena peran besar ulama dari pesantren, dari masjid. Itu adalah fakta sejarah. Karena itu saya sering mempopulerkan Jas Hijau yaitu jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama, umaro, dan umat," imbuhnya.

HNW menambahkan umara (pemimpin) juga berjasa dalam perjuangan Indonesia untuk merdeka. Ia menyebutkan, Sultan Hamengku Buwono IX dari Mataram, Yogyakarta yang memberikan uang 6 juta gulden atau setara Rp 600 miliar dan emas batangan agar Indonesia bisa mencetak uang (Oeang Republik Indonesia).

Selain itu, ia juga menyebutkan Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak Indrapura yang memberikan uang sebanyak 13 juta gulden atau setara Rp 1,3 triliun serta emas. Terakhir, ia menyebutkan Sultan Hamid II dari Pontianak yang menciptakan lambang Garuda Pancasila dan menyerahkan 300 meriam yang dipakai untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Dari contoh itu bahwa hadirnya ulama, kiai, santri, umat, dan masjid, untuk membela bangsa dan negara memang sudah menjadi jatidiri dan fitrahnya. Yang tetap relevan dan konstitusional untuk dihadirkan bagi kemaslahatan umat bangsa dan negara, hingga untuk seterusnya," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara tersebut turut hadir Ketua DMI Kecamatan Tebet Drs. Habib Abdullah Bin Husin Alathos, MM, Ketua MUI Kec. Tebet K.H. Saefudin Zein, Ketua BKS3B Kec Tebet K.H. Zaini Sholihin, Ketua GPMI Kec Tebet H. Dedy Efendi ST, MM.

(fhs/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT