ADVERTISEMENT

Akankah Hakim Tergantikan Komputer? Ini Jawaban Tegas Hakim MK

Andi Saputra - detikNews
Senin, 22 Agu 2022 10:45 WIB
Ketua MK, Arief Hidayat
Arief Hidayat (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Era digital membuat masyarakat melaju pesat dan memasuki era 4.0. Semua hal bisa diselesaikan lewat komputer dan artificial intelligence (AI). Lalu apakah peran hakim juga akan tergeser oleh komputer?

"Hukum yang berkarakter Pancasila menjadi penting di era sekarang. Sekarang masyarakat 4.0. Bahkan di Jepang sudah 5.0. Semua serba artificial intelligence, robotik. Lalu apa fungsi hakim?" kata hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat.

Hal itu disampaikan dalam kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Jember yang disiarkan di YouTube, Senin (22/8/2022). Hadir dalam acara itu Dekan FH Unej Prof Bayu Dwi Anggono. Arief Hidayat menegaskan peran hakim tidak akan pernah tergantikan karena memiliki rasa kemanusiaan.

"Tidak. Tetap pada masyarakat, peran human being masih tetap penting. Dalam memutus perkara ada rasa keyakinan. Komputer tidak punya keyakinan," ucap Arief Hidayat.

Bisa saja orang merekayasa sistem komputer untuk menyelesaikan masalah. Tinggal memasukkan kasus, pasal, hal-hal yang meringankan dan memberatkan lalu keluar hasil. Tapi hal itu tidak bisa menggantikan peran hakim dalam memutus karena putusan harus diputuskan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Rasa keyakinan hakim tidak muncul karena komputer tidak bertuhan. Yang bertuhan adalah manusia," beber Arief Hidayat.

Saat ini, Arief menggambarkan dunia memasuki era VUCA. VUCA adalah singkatan dari V (Volatility), U (Uncertainty), C (Complexity), A (Ambiguity). Volatility artinya perubahan yang serba cepat. Dalam masyarakat yang dinamis, berubah secara cepat dan sulit diprediksi, tidak terukur, maka dibutuhkan visi, tujuan, niat yang baik.

Uncertainty dapat diartikan sebagai ketidakpastian. Era sekarang banyak ketidakpastian sehingga dibutuhkan kehati-hatian. Karena itu, pemimpin saat ini harus proaktif, berpikir out of the box, harus mampu memprediksi situasi ke depan.

Complexity bermakna kompleksitas, situasi yang rumit. Menurut Arief, situasi masyarakat masa sekarang sangat rumit, tidak bisa diselesaikan secara framentaris.

"Ini semua nantinya akan berpengaruh pada pembuatan hukum, perencanaan hukum, politik hukum dan sebagainya," urai Arief Hidayat.

Kemudian ambiguity dalam VUCA, ungkap Arief, memiliki makna sebagai realitas yang kabur.

"Oleh karena itu, kita harus fleksibel, luwes, namun berarti menggadaikan diri. Pikiran-pikiran yang out of the box adalah pikiran yang luwes," kata Arief.

Lihat juga video 'Singgung Space War, Jokowi Ingin BPPT Jadi Pusat Kecerdasan RI':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/dnu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT