Penasihat Kapolri: Kasus Sambo Perilaku Individu, Yang Terdampak Institusi

ADVERTISEMENT

Penasihat Kapolri: Kasus Sambo Perilaku Individu, Yang Terdampak Institusi

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Kamis, 18 Agu 2022 13:07 WIB
Prof Kikiek
Foto: Prof Kikiek (dok. screenshot)
Jakarta -

Penasihat Ahli Kapolri, Prof Kikiek, menilai kasus pembunuhan terhadap Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, di Duren Tiga, Jakarta Selatan, merupakan kejahatan individu. Dia menyayangkan kasus tersebut berdampak terhadap keseluruhan institusi Polri.

"Kalau ada kasus seperti sekarang ini, kasus Duren Tiga, itu kan perilaku individu, satu-dua orang, yang terkena dampaknya satu institusi. Yang dihujat seluruh institusi. Karena ada satu-dua orang, sekelompok orang yang bukan saja melakukan kejahatan, tetapi kemudian membuat cerita-cerita, framing cerita, bahwa itu kejadiannya seperti ini, seperti itu, nah, cerita itu bohong. Yang bohong siapa? Ya orang-orang yang melakukan ada FA, FS," kata Kikiek dalam Program Adu Perspektif dengan tema 'Refleksi Kemerdekaan: Berharap Banyak Pada Polri ' yang merupakan kolaborasi detikcom dengan Total Politik, tayang di detikcom, Rabu (17/8/2022).

Kikiek mengatakan semua orang sudah mengetahui siapa aktor utama pembunuhan Brigadir Yoshua, yakni Irjen Ferdy Sambo. Menurutnya, penanganan kasus tersebut terkesan lambat karena sejak awal Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendapatkan informasi yang salah dan sudah direkayasa Ferdy Sambo.

"Semua orang sudah tahu siapa FA, siapa FS. Nah, celakanya, mereka ini yang memberi masukan ke Kapolri. Kalau garbage in, garbage out. Jadi Kapolri mendapat masukan yang salah, ya keputusannya terkesan lambat," ujarnya.

"Padahal tidak, kan Kapolri mau ada di koridor hukum, kalau nangkap orang, kan harus ada buktinya. Bukti-bukti itu terkesan lama, publiknya tidak sabar sehingga yang terjadi adalah seperti sekarang, the game is has be done," lanjutnya.

Menurut Kikiek, kesalahan informasi awal yang diterima bisa segera diperbaiki karena ada prinsip diskresi. Dia menyebut pelaku telah menutup-nutupi kejahatan yang telah dia perbuat.

"Tetapi itu bisa dilakukan remedial, bisa diperbaiki karena adanya prinsip diskresi. Prinsip diskresi itu pemberian penanganan kepada setiap polisi individu untuk mengambil keputusan dan tindakan sendiri yang kemudian harus dia pertanggungjawabkan. Kewenangan diskrasional inilah yang disalahgunakan. Bagaimana polisi diminta bertindak cepat kalau pelakunya itu juga polisi sendiri. Jadi pelaku itu yang seharusnya membongkar malah menutup-nutupi perilaku kejahatannya," imbuhnya.

Kikiek menepis adanya anggapan polisi melindungi polisi di kasus tersebut. Dia mencontohkan banyak kasus sebelumnya yang melibatkan jenderal bahkan bintang tiga dan sampai diproses ke pengadilan.

"Polisi seolah-olah melindungi. Mana ada polisi melindungi sesama polisi yang melakukan kejahatan. Dua kali jenderal bintang tiga aja ditangkap dan disidang, diadili, dan Kabareskrim aktif pada masa itu. Jadi kalau sekarang bintang dua dan sebagainya bisa diproses hukum.

Simak Video: Mahfud Sebut Anggota Polri Langgar Etik di Kasus Brigadir J Bisa Dimaafkan

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT