ADVERTISEMENT

Bamsoet Ajak HIPMI Dukung Pemerintah Cetak Sejuta Pengusaha Baru

Atta Kharisma - detikNews
Senin, 15 Agu 2022 18:50 WIB
Bamsoet Ajak HIPMI Dukung Pemerintah Wujudkan Sejuta Wirausaha Baru
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengimbau seluruh calon yang maju dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2022-2025 untuk bersaing secara sehat.

Menurutnya, siapapun yang terpilih dalam Musyawarah Nasional XVII HIPMI pada Oktober/November 2022 mendatang harus bisa memajukan HIPMI sebagai mitra strategis pemerintah dalam menumbuhkan perekonomian nasional.

Dia lantas menyinggung data Global Entrepreneurship Index (GEI) yang merupakan patokan untuk melihat alokasi sumber daya yang dilakukan negara-negara di dunia dalam mempromosikan kewirausahaan. Indonesia menempati posisi ke-75 dari 137 negara dalam peringkat tersebut.

Untuk meningkatkannya, kata dia, Indonesia perlu melahirkan lebih banyak lagi wirausaha baru. Hal ini juga sejalan dengan amanat Presiden Joko Widodo yang tersirat dalam Perpres Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional Tahun 2021-2024, yang mana menargetkan lahirnya sejuta wirausaha baru hingga tahun 2024.

"Presiden Joko Widodo melalui berbagai kementerian/lembaga telah menggulirkan berbagai kebijakan afirmatif. Antara lain, pembiayaan lewat KUR serta perbankan dinaikkan hingga 30% untuk UMKM, serta mengalokasikan 40% belanja negara untuk belanja produk UMKM yang targetnya mencapai Rp 500 triliun," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (15/8/2022).

Menurutnya, HIPMI dapat memanfaatkan berbagai kebijakan tersebut untuk membantu presiden melahirkan sejuta wirausaha baru hingga tahun 2024.

"Karenanya, selain memperkuat konsolidasi organisasi hingga ke berbagai daerah, HIPMI juga harus melebarkan sayap hadir di berbagai kampus/perguruan tinggi. Sehingga bisa mengajak para mahasiswa untuk bergerak di sektor entrepreneurship," imbuhnya.

Ketua DPR RI ke-20 ini mengingatkan sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia juga tak lepas dari pengaruh dan landscape ideologi, politik dan ekonomi global yang yang saat ini tengah dalam suasana muram. Hal ini dipicu berbagai faktor seperti melambungnya harga komoditas global, kebijakan moneter negara maju yang mulai agresif, konflik Rusia - Ukraina hingga kemungkinan peningkatan ketegangan di Taiwan.

"Hasil survei Bloomberg memang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat resiko resesi yang kecil, hanya 3%. Sangat jauh jika dibandingkan rata-rata negara Amerika dan Eropa (40-55%) ataupun negara Asia Pasifik (pada rentang antara 20-25%). Namun kita tetap harus waspada, mengingat menurut IMF dan Bank Dunia, perekonomian 66 negara (di luar Indonesia) diprediksi akan bangkrut dan ambruk," paparnya.

Ia menegaskan jika hal tersebut terjadi, maka akan membuat kondisi ekonomi global semakin suram. Sehingga, Indonesia harus mewaspadainya sejak dini.

Ia menjelaskan konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung hingga saat ini sudah memicu krisis pangan dan krisis energi global. Dampak lainnya yakni menghambat pasokan gandum dunia sebanyak 30-40%, menyebabkan kenaikan harga gas alam di Eropa meningkat 60% dalam dua pekan serta memperburuk krisis energi yang ditandai kenaikan harga minyak mentah hingga 350% hanya dalam kurun waktu 2 tahun.

Bamsoet menyebut berdasarkan proyeksi Energy Information Administration (EIA) pada awal April 2022 lalu, harga minyak mentah Brent untuk keseluruhan di tahun 2022 diperkirakan bisa mencapai US$ 98 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2022 sebesar US$ 63 per barel.

"Secara blak-blakan di berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo menyatakan beban subsidi untuk BBM, Pertalite, solar, dan LPG sudah mencapai Rp 502 triliun. Untuk menekan subsidi, HIPMI bisa berperan dengan membantu percepatan migrasi kendaraan dari berbahan bakar minyak ke bermotor listrik. Setiap migrasi satu unit kendaraan, diperkirakan bisa menghemat subsidi mencapai Rp 22,9 juta per tahun," jelasnya.

Bamsoet menambahkan ekonomi hijau juga memiliki potensi bisnis yang sangat besar dan mampu membuka lapangan pekerjaan pada tahun 2030.

"HIPMI juga bisa lebih banyak terjun ke green economy. Secara global, studi World Economic Forum 2020 mengestimasi transisi ke ekonomi hijau dapat menghasilkan peluang bisnis senilai 10 triliun dolar AS, dan membuka 395 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2030," pungkasnya.

Simak juga 'Jokowi Minta Hipmi Bisa Adaptasi di Situasi Tak Terduga':

[Gambas:Video 20detik]



(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT